
Meningkatkan Literasi Aset Kripto di Kalangan Generasi Muda
Upaya meningkatkan literasi aset kripto di kalangan generasi muda masih terus digalakkan. Tren investasi baru tersebut terus menunjukkan perkembangan. Pemerintah maupun industri yang terlibat terus menggalakkan literasi aset digital agar tren tersebut tidak menjadi boomerang bagi masyarakat.
Salah satu pedagang aset keuangan digital (PAKD) resmi di Indonesia, Pintu, bekerja sama dengan mitra mereka termasuk OJK, menyelenggarakan program edukasi Pintu Goes to Campus di Universitas Bina Nusantara (Binus). Di tengah pesatnya pertumbuhan industri kripto global, kampus menjadi ruang strategis untuk memperkuat literasi dan pemahaman risiko. Kalangan muda, menurut banyak riset, merupakan kelompok pengguna aset digital terbesar sekaligus paling rentan jika tidak dibekali pengetahuan memadai.
Peran Edukasi dalam Membentuk Ekosistem Kripto yang Sehat
Kepala Direktorat Perizinan dan Pengendalian Kualitas Pengawasan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Digital, dan Aset Kripto OJK, Catur Karyanto Pilih, menegaskan bahwa edukasi menjadi pondasi utama dalam mendorong ekosistem kripto yang sehat.
“Literasi digital dan literasi keuangan menjadi syarat utama sebelum terjun ke dunia aset kripto. Pemahaman yang kuat membantu masyarakat mengenali manfaat dan risiko sehingga dapat memanfaatkan layanan keuangan digital secara bijak,” ujar Catur melalui keterangannya.
Dia menilai mahasiswa dapat menjadi agent of change dalam mendorong masyarakat lebih cermat dan bertanggung jawab dalam menggunakan produk keuangan digital.
Integrasi Pembelajaran Kripto dalam Kurikulum Akademik
Dari sisi akademik, Universitas Bina Nusantara ternyata telah mengintegrasikan pembelajaran kripto dalam berbagai kurikulum. Dosen Binus Dr. Hugo Prasetyo W, memaparkan bahwa kampus sudah memiliki crypto science, laboratorium Beehive, hingga komunitas Binus Blockchain and Crypto Club.
"Kami berharap mahasiswa di Binus bukan hanya menjadi konsumen, tetapi juga menjadi inovator," kata Hugo Prasetyo.
Pendekatan ini diklaim tidak hanya mendorong pemahaman teknis tentang blockchain, tetapi juga menyiapkan talenta yang dapat berkontribusi pada industri aset digital secara lebih struktural.
Fokus Pintu pada Edukasi dan Kolaborasi
Dalam kesempatan yang sama, CMO Pintu Timothius Martin menekankan bahwa edukasi menjadi fokus utama perusahaan di tengah meningkatnya minat investasi aset digital.
“Kami ingin mahasiswa memahami manfaat dan risiko sebagai bekal sebelum mulai berinvestasi. Pintu siap bekerja sama dengan regulator untuk memperkuat program literasi dan menciptakan ekosistem kripto yang sehat,” kata Timo.
Pintu menilai kolaborasi dengan kampus dan media edukatif penting agar generasi muda tidak hanya terdorong oleh tren, tetapi juga tahu cara mengelola risiko dan mengikuti standar keamanan investasi aset digital.
Pemuda Mendominasi Pengguna Kripto Global
Mengutip laporan Crypto User Demographics Statistics 2025 dari CoinLaw, angka pengguna kripto global melonjak 34 persen dari 2024, mencapai 580 juta pengguna pada 2025. Mayoritas adalah anak muda berusia 18–34 tahun, kelompok yang sama dengan demografi mahasiswa Indonesia.
Bagi negara yang tengah menikmati bonus demografi, tren ini menjadi peluang sekaligus tantangan. Tanpa literasi yang memadai, generasi muda dapat terjebak pada praktik spekulatif, penipuan kripto, atau investasi tanpa manajemen risiko.
Program seperti Pintu Goes to Campus menjadi salah satu langkah konkret memperkuat pemahaman aset digital di perguruan tinggi, terutama ketika minat investasi kripto terus tumbuh dan pasar semakin matang.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar