
Industri keramik nasional menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, tercatat tingkat utilisasi produksi meningkat menjadi 73 persen sepanjang tahun 2025. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 66 persen. Peningkatan ini memberi dampak positif terhadap volume produksi keramik nasional. Sepanjang 2025, produksi keramik bertambah sekitar 62 juta meter persegi, atau tumbuh sebesar 15 persen dibandingkan total produksi pada tahun 2024.
Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) Edy Suyanto menyatakan bahwa peningkatan utilisasi dan produksi ini tidak lepas dari peran pemerintah dalam menerapkan kebijakan pro-industri. Beberapa kebijakan yang dianggap efektif antara lain adalah penerapan kebijakan antidumping, safeguard keramik, serta pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib untuk produk keramik. Menurutnya, kebijakan tersebut membantu menjaga daya saing industri dalam negeri di tengah tekanan global.
Edy juga mengapresiasi kebijakan yang dikeluarkan oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Kebijakan seperti perpanjangan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), SNI wajib bagi industri keramik, serta rencana entry point barang impor tertentu dinilainya strategis dan pro-industri. Ia menegaskan bahwa Menteri Perindustrian aktif mendengarkan keluhan sektor industri dan memperhatikan masalah-masalah yang dihadapi.

Proyeksi Industri Keramik 2026
Memasuki tahun 2026, ASAKI memproyeksikan tingkat utilisasi produksi akan meningkat hingga 80 persen, dengan target volume produksi sekitar 537 juta meter persegi. Jika realisasi 2025 mencapai 474,5 juta meter persegi, maka pertumbuhan diprediksi sebesar 13 persen. Proyeksi ini didasarkan pada tren positif pada kuartal IV 2025, di mana tingkat utilisasi produksi terus meningkat, dari 75 persen pada Oktober, meningkat menjadi 76 persen pada November, dan mencapai 78 persen pada Desember 2025.
ASAKI memiliki harapan besar terhadap pelaksanaan Program 3 Juta Rumah pada 2026. "Jika program tersebut berjalan optimal, tingkat utilisasi produksi industri keramik nasional berpotensi melonjak signifikan dari target 80 persen menjadi 96 persen," ujar Edy.
Namun, proyeksi pertumbuhan 2026 masih menghadapi tantangan serius. Salah satunya adalah gangguan pasokan gas. Hingga saat ini, industri keramik di Jawa Barat hanya memperoleh sekitar 60 persen pasokan gas, sementara di Jawa Timur berkisar antara 50–55 persen dengan harga HGBT USD 7 per MMBTU. Kekurangan pasokan gas harus dipenuhi dengan skema surcharge yang mencapai USD 15,4 per MMBTU, yang berdampak pada peningkatan biaya produksi.
Selain itu, ASAKI juga mengkhawatirkan lonjakan impor keramik sepanjang 2025. Impor dari India naik sebesar 55 persen, Vietnam meningkat 32 persen, dan Malaysia melonjak hingga 210 persen. Untuk menghadapi tekanan ini, ASAKI akan bekerja sama dengan Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) guna menginisiasi penyelidikan dumping terhadap produk keramik asal India pada semester pertama 2026. Selain itu, ASAKI juga akan mengumpulkan data indikasi transhipment produk China melalui Malaysia.
Tantangan lain yang tidak kalah krusial adalah kelangkaan bahan baku tanah untuk produksi keramik, khususnya di Jawa Barat. Hal ini disebabkan oleh pencabutan sejumlah izin tambang. ASAKI berharap pemerintah dapat memberikan perhatian serius agar kelancaran dan kecukupan bahan baku tetap terjaga.
"Dengan peluang besar sekaligus tantangan yang kompleks, tahun 2026 akan menjadi momentum krusial bagi industri keramik nasional untuk melangkah menuju pertumbuhan yang lebih berkelanjutan," tutup Edy.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar