
berita,
JAKARTA Kemampuan menyalurkan pinjaman yang dibarengi dengan kemampuan mengelola risiko dan menjaga kualitas portofolio menjadi penentu utama keberlanjutan bisnis jasa keuangan ke depan.
PT CRIF Lembaga Informasi Keuangan (CLIK) memaparkan bahwa selama ini pelaku industri jasa keuangan menghadapi persoalan sama dalam proses collection. Beberapa masalah tersebut antara lain keterlambatan dalam mendeteksi risiko, upaya collection yang belum tersegmentasi dan masih dilakukan secara manual yang membebani, serta keputusan intervensi dan recovery yang sering bersifat reaktif dan tidak berbasis data.
Direktur Utama CLIK Leonardo Lapalorcia menyatakan bahwa dalam lanskap industri jasa keuangan yang semakin kompetitif, kemampuan mengelola risiko dan menjaga kualitas portofolio kini menjadi penentu utama keberlanjutan bisnis dan bukan sekadar kemampuan menyalurkan pinjaman.
Keunggulan hanya dapat dicapai ketika lembaga keuangan memiliki gambaran risiko menyeluruh dan mampu menyeimbangkan antara ekspansi dan kehati-hatian, ujarnya melalui keterangan resmi, Kamis (11/12/2025).
Solusi data dan analitik yang memperkuat akurasi pemetaan risiko, ketajaman segmentasi, dan kemampuan prediktif dibutuhkan sehingga keputusan kredit dapat diambil dengan dasar yang lebih kuat dan terukur.
Data terbaru dari Statistik Perbankan Indonesia Juni 2025 menunjukkan bahwa kinerja risiko industri perbankan bergerak cukup fluktuatif sepanjang 20242025. NPL gross sektor perbankan sempat mencapai titik terendah 2,08% pada Desember 2024, namun kembali meningkat menjadi 2,24% pada April 2025, naik ke 2,29% pada Mei, sebelum turun kembali ke 2,22% pada Juni 2025.
Di sisi lain, kredit perbankan bertumbuh kuat, dari Rp7.478 triliun pada Juni 2024 menjadi Rp 8.059 triliun pada Juni 2025. Pertumbuhan ini menunjukkan kepercayaan pasar yang tetap terjaga, namun juga menandakan perlunya pemantauan portofolio yang lebih cermat agar potensi lonjakan risiko dapat diantisipasi lebih cepat.
Dilihat dari komposisi, struktur kredit Juni 2025 masih didominasi oleh kredit modal kerja sebesar 43,93%, disusul kredit investasi 27,28%, dan kredit konsumsi 28,81%.
Pola konsumsi yang tinggi dan perilaku pinjaman yang semakin tersebar di banyak lembaga membuat kemampuan memonitor risiko lintas institusi menjadi semakin krusial.
Lebih jauh Leonardo mengatakan bahwa dalam kondisi pasar bergerak cepat dan risiko berkembang dinamis, mengandalkan data internal saja tidak lagi memungkinkan lembaga keuangan memahami perilaku peminjam secara utuh.
Mereka perlu melihat apa yang terjadi di luar portofolio mereka untuk mengambil langkah yang lebih tepat, imbuhnya.
Chief Digital Transformation Officer CLIK, Lucky Herviana, menilai lembaga keuangan kini dapat memanfaatkan data biro kredit untuk memperoleh visibilitas yang tidak mungkin diperoleh dari data on-us saja. Solusi ini menghilangkan blind spot, mendeteksi risiko lebih awal, dan memprioritaskan upaya penagihan melalui tujuh kategori risiko yang tervalidasi.
Ini bukan tentang menambah data baru, tetapi tentang membaca data dengan lebih tepat. Insight off-us sangat penting untuk memahami arah pergerakan risiko. Dengan itu, lembaga dapat merespons lebih cepat dan menjaga portofolionya tetap sehat, jelasnya.
Tantangan dan Peluang di Industri Jasa Keuangan
Tantangan utama yang dihadapi industri jasa keuangan saat ini adalah kesulitan dalam mengelola risiko secara efektif. Hal ini terlihat dari beberapa aspek seperti:
-
Keterlambatan dalam mendeteksi risiko
Proses deteksi risiko yang lambat menyebabkan penundaan dalam pengambilan keputusan, yang berdampak pada peningkatan potensi kerugian. -
Upaya collection yang belum tersegmentasi
Banyak lembaga keuangan masih melakukan proses penagihan secara manual tanpa adanya segmentasi yang jelas, yang menyebabkan pemborosan sumber daya dan kurangnya efisiensi. -
Keputusan intervensi dan recovery yang reaktif
Kebiasaan mengambil keputusan secara reaktif tanpa dasar data yang kuat menyebabkan risiko yang tidak terukur dan sulit dikontrol.
Strategi untuk Meningkatkan Manajemen Risiko
Untuk menghadapi tantangan ini, lembaga keuangan perlu mengadopsi strategi yang lebih inovatif dan berbasis data. Beberapa langkah yang dapat diambil antara lain:
-
Menggunakan solusi data dan analitik yang akurat
Data dan analitik yang baik akan membantu dalam memetakan risiko secara lebih presisi, sehingga keputusan kredit dapat diambil dengan lebih tepat. -
Meningkatkan segmentasi dan prediksi risiko
Segmentasi yang baik dan kemampuan prediksi risiko akan memungkinkan lembaga keuangan untuk mengidentifikasi ancaman lebih dini dan mengambil tindakan proaktif. -
Memanfaatkan data dari luar portofolio
Data dari luar portofolio, seperti data biro kredit, dapat memberikan wawasan tambahan yang tidak bisa diperoleh dari data internal.
Pentingnya Visibilitas Data dalam Pengambilan Keputusan
Visibilitas data menjadi salah satu faktor kunci dalam pengambilan keputusan yang lebih baik. Dengan akses ke data yang lebih luas, lembaga keuangan dapat:
-
Mengidentifikasi risiko secara lebih awal
Data eksternal dapat membantu dalam mendeteksi potensi risiko sebelum terjadi kerugian. -
Mempercepat respons terhadap perubahan pasar
Dengan data yang lebih lengkap, lembaga keuangan dapat merespons perubahan pasar secara lebih cepat. -
Menjaga kesehatan portofolio
Dengan pemantauan yang lebih baik, portofolio keuangan dapat tetap sehat dan stabil.
Dengan demikian, pengelolaan risiko yang lebih baik dan penggunaan data yang lebih efektif akan menjadi kunci keberhasilan lembaga keuangan di masa depan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar