Inflasi menggerogoti dompet kita tanpa terasa

Perubahan Harga Pangan dan Dampaknya pada Kehidupan

Akhir pekan ini, banyak media menyoroti kenaikan harga pangan yang melambung cepat. Di beberapa kota, harga beras naik signifikan hanya dalam hitungan minggu. Di media sosial, orang-orang mulai membandingkan struk makan tahun 2010 yang menunjukkan lima ribu rupiah sudah cukup untuk makan kenyang dengan kondisi hari ini ketika makan sederhana saja bisa menghabiskan dua puluh ribu. Perbandingan ini membuat banyak orang mulai bertanya-tanya apakah hidup kita benar-benar membaik atau hanya angka gaji yang terlihat lebih besar.

Coba bayangkan kembali situasi lima belas tahun lalu. Tahun 2010, gaji dua juta terasa cukup untuk menjalani hidup dengan tenang. Harga beras masih enam ribu rupiah per kilo, lauk pauk murah, dan makan siang di warung terasa ramah di dompet. Namun di 2025, gaji empat juta yang terlihat seperti tanda peningkatan justru tidak memberi ruang yang sama. Harga beras sudah dua belas ribu, kebutuhan pokok meningkat, biaya makan membengkak, dan uang terasa lebih cepat habis. Di permukaan kita terlihat naik kelas, tetapi kenyataannya daya beli justru menurun diam-diam.

Bagaimana Uang Bekerja?

Fenomena ini muncul karena uang bekerja dengan cara yang tidak selalu kita sadari. Nilai uang bukan berasal dari kertasnya, melainkan dari kepercayaan bersama. Kertas seratus ribu tidak berharga tanpa adanya keyakinan kolektif bahwa angka itu layak ditukar dengan barang atau jasa. Ketika kepercayaan pada stabilitas ekonomi terganggu, nilai uang pun melemah seperti pasir yang perlahan hilang tertiup angin.

Inflasi muncul ketika jumlah uang yang beredar lebih banyak dibanding barang dan jasa yang tersedia. Ibarat pesta besar yang makanannya terbatas sementara tamunya terus berdatangan, harga pasti naik karena rebutan. Begitu juga dalam kehidupan nyata, inflasi sering datang perlahan seperti rayap yang menggerogoti rumah. Kita merasa gaji naik, tetapi kemampuan membeli justru menyusut dari tahun ke tahun. Inilah yang dikenal sebagai ilusi kemakmuran.

Sistem Uang Modern dan Dampaknya

Sistem uang modern menggunakan fiat money, sebuah sistem yang membuat uang hanya bernilai selama masyarakat percaya kepada pemerintah dan lembaga keuangan. Karena itu, ketika pemerintah mengedarkan lebih banyak uang untuk menutup kekurangan anggaran atau menggerakkan ekonomi, nilai uang secara perlahan melemah. Prinsipnya sederhana: semakin banyak sesuatu tersedia, semakin rendah nilainya.

Dampak inflasi ini sering digambarkan sebagai ilusi kekayaan. Sebuah penelitian yang menelusuri data selama hampir lima puluh tahun dari 1975 sampai 2023 menemukan bahwa inflasi tahunan rata-rata di Amerika Serikat mencapai 3,4 persen. Sekilas angka ini terlihat kecil, tetapi efeknya sangat besar dalam jangka panjang karena daya beli tergerus sedikit demi sedikit. Di sisi lain, emas menunjukkan pertumbuhan rata-rata sekitar 8 persen per tahun dalam periode yang sama. Pola ini bertahan selama puluhan tahun, menunjukkan bahwa emas melaju jauh lebih cepat dibanding inflasi.

Emas sebagai Pelindung Nilai

Sejak dunia meninggalkan standar emas pada 1971, perbedaan jalur antara uang kertas dan emas makin terlihat jelas. Harga emas meningkat lebih dari lima ribu persen, sedangkan inflasi hanya naik sekitar delapan ratus persen. Nilai uang kertas terus melemah, sementara emas justru menjadi pelindung nilai yang konsisten. Grafik perbandingan keduanya seperti dua kereta yang bergerak berlawanan arah. Satu terus menanjak, satu perlahan turun. Dan tanpa sadar, kebanyakan dari kita berada di kereta yang melaju ke arah penurunan nilai.

Mengapa Emas Berbeda?

Penelitian terbaru memberikan gambaran yang menarik. Pertama, emas tidak bereaksi terhadap inflasi harian atau bulanan, tetapi sangat sensitif terhadap inflasi global ekstrem. Saat inflasi melonjak tajam seperti krisis 1970-an atau lonjakan pasca pandemi, emas menunjukkan respons yang kuat dan bertahan lama. Analisis menggunakan pendekatan Markov regime switching menunjukkan bahwa dalam periode inflasi tinggi yang melebihi 5,8 persen per tahun, emas memberikan perlindungan maksimal. Dalam kondisi inflasi rendah, pergerakannya lebih tenang. Efek pelindung emas ini bahkan berlangsung hingga empat sampai lima bulan setelah inflasi melonjak.

Kedua, emas ternyata lebih peka terhadap ekspektasi inflasi daripada inflasi aktual. Ketika masyarakat mulai khawatir bahwa inflasi akan naik berdasarkan survei seperti yang dilakukan University of Michigan, harga emas biasanya bergerak lebih dulu. Analisis menunjukkan bahwa ekspektasi inflasi satu tahun memiliki dampak kuat terhadap harga emas, dan ekspektasi inflasi lima tahun memiliki pengaruh yang bahkan lebih besar. Temuan ini membuktikan bahwa pasar emas sering kali menangkap arah inflasi lebih cepat daripada para ekonom.

Akibat dari Inflasi

Dengan gambaran ini, tidak heran jika inflasi sering dianggap sebagai pajak senyap. Nilai uang berkurang tanpa ada yang mengambilnya secara langsung. Sementara itu, pemilik aset seperti tanah, properti, saham, atau emas cenderung lebih tenang karena nilai aset mereka naik mengikuti inflasi. Sebaliknya, pekerja bergaji tetap harus terus mengejar harga barang yang tidak pernah mau menunggu, dan penabung menghadapi kenyataan bahwa uang yang disimpan makin kecil nilainya.

Maka ketika kamu merasa dulu gaji dua juta cukup tetapi sekarang gaji empat juta terasa menyesakkan, itu bukan kesalahanmu. Kamu hanya hidup dalam sistem yang nilainya terus berubah. Memahami cara kerja uang, inflasi, dan aset seperti emas bukan sekadar ilmu ekonomi, tetapi bekal penting untuk bertahan dan membuat keputusan yang lebih bijak di tengah dinamika ekonomi yang berjalan tanpa henti.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan