Inikah komoditas yang bakal "manggung" di tahun 2026?

Dalam beberapa waktu terakhir, saya mulai memandang aluminium bukan sekadar sebagai komoditas industri yang bergerak naik-turun mengikuti siklus ekonomi. Aluminium hari ini berada di "persimpangan" antara transisi energi, kebijakan negara besar, dan rapuhnya pasokan global. Ketiganya saling berkelindan, membentuk struktur harga yang jauh lebih kompleks dibandingkan beberapa dekade lalu.

Harga aluminium tentu bisa berfluktuasi. Saat tulisan ini dibuat, harga alumunium sudah menembus 3.000 USD/T. Boleh jadi, harga aluminium bakal terus bertahan di level tersebut dalam jangka panjang. Sebab, semakin saya mendalami faktor-faktor di baliknya, semakin terasa bahwa ada alasan mengapa aluminium sulit kembali ke era harga murah.

Perubahan Permintaan

Permintaan aluminium saat ini tidak lagi bersifat sementara. Ia tumbuh seiring dengan perubahan besar dalam cara dunia membangun dan mengonsumsi energi. Elektrifikasi kendaraan, pembangunan jaringan listrik, hingga ekspansi energi terbarukan membutuhkan material yang ringan, konduktif, dan mudah didaur ulang.

Aluminium memenuhi ketiga kriteria tersebut. Yang lebih penting, kebutuhan ini tidak mudah dibalik hanya karena perlambatan ekonomi jangka pendek. Permintaan aluminium kini bersifat struktural, bukan siklikal semata.

Faktor Biaya Produksi

Di sisi pasokan, saya melihat bahwa biaya energi memainkan peran yang jauh lebih besar daripada yang sering disadari. Produksi aluminium adalah proses yang sangat intensif energi. Smelter aluminium hidup dan mati oleh harga listrik.

Selama energi tidak murah, aluminium memiliki lantai harga alami. Smelter tidak bisa dengan mudah meningkatkan atau menurunkan produksi tanpa konsekuensi besar. Inilah yang membuat pasokan aluminium relatif kaku dan sulit beradaptasi secara cepat terhadap perubahan harga.

Perubahan Insentif Ekspor oleh China

Sejak Desember 2024, China mengakhiri kebijakan potongan pajak ekspor untuk aluminium. Ekspor tetap berlangsung, tetapi dengan struktur biaya yang berbeda.

Pada pertengahan tahun 2025, dampak kebijakan tersebut terlihat nyata. Ekspor aluminium dari China pun turun 8% secara year on year, dan pada tahun 2026, China masih terus membatasi ekspor aluminium, sehingga pasar global diperkirakan mengalami defisit pasokan sebesar 200.000 ton.

Langkah ini sebetulnya diambil di tengah kekhawatiran akan kelebihan kapasitas produksi aluminium di China dan lonjakan ekspor dalam beberapa tahun terakhir.

Rapuhnya pasokan global

Di sisi lain, pasokan aluminium global terbukti tidak sefleksibel yang sering diasumsikan. Penghentian Smelter Mozal di Mozambik menjadi pengingat bahwa smelter aluminium adalah aset padat modal yang sangat bergantung pada stabilitas energi dan operasional. Penghentian yang dikabarkan akan berlangsung pada Maret 2026 tersebut bisa terjadi karena tidak tercapainya kesepakatan tarif listrik.

Ketika satu fasilitas besar berhenti, pasokan tidak bisa dengan cepat digantikan oleh fasilitas lain. Risiko gangguan semacam ini bukan kejadian tunggal, melainkan bagian dari dinamika industri yang semakin kompleks.

Alhasil, jika semua faktor ini disatukan, saya melihat aluminium memasuki fase harga yang lebih "lengket". Permintaan meningkat secara struktural, sementara pasokan dibatasi oleh energi, kebijakan, dan risiko operasional. China tidak lagi menjadi penekan harga global seperti sebelumnya, dan pasokan alternatif tidak mudah muncul.

Kondisi ini tidak berarti harga aluminium akan terus naik tanpa koreksi. Namun ia menjelaskan mengapa aluminium sulit kembali ke level harga rendah seperti di masa lalu.

Siapa yang diuntungkan?

Dalam struktur seperti ini, pihak yang diuntungkan bukanlah semua pemain secara merata. Mereka yang berada dekat dengan harga akhir aluminium, seperti operator smelter, paling langsung merasakan dampaknya, tetapi juga menanggung risiko terbesar.

Produsen alumina berada di posisi yang lebih defensif, sementara penambang bauksit diuntungkan dari meningkatnya kebutuhan bahan baku, meskipun sangat bergantung pada kebijakan dan regulasi.

Pelajaran pentingnya adalah bahwa posisi dalam rantai nilai sering kali lebih menentukan daripada sekadar arah harga komoditas.

Penutup

Dari aluminium, saya belajar bahwa harga komoditas tidak bisa dibaca secara terpisah dari struktur industrinya. Perubahan kecil pada kebijakan, energi, atau pasokan bisa berdampak jauh lebih besar daripada fluktuasi harga jangka pendek.

Dalam dunia komoditas, yang paling diuntungkan bukan yang paling sering dibicarakan, melainkan yang paling tepat posisinya.

Salam.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan