
Inisiatif Kelas Bahasa Isyarat untuk Meningkatkan Kesetaraan bagi Komunitas Tuna Tuli
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Sumatera Selatan (Sumsel), Ratu Tenny Leriva MM, menginisiasi sebuah kelas belajar bahasa isyarat yang bertujuan untuk meningkatkan literasi dan kesetaraan bagi masyarakat, khususnya teman-teman tuna tuli. Kegiatan ini dilaksanakan secara gratis dan diharapkan dapat memberikan peluang yang sama bagi seluruh lapisan masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pekerjaan hingga akses informasi dan layanan publik.
Kelas bahasa isyarat ini digelar perdana pada batch pertama di kantor DPD RI Sumsel di Jakabaring. Ratu Tenny Leriva menjelaskan bahwa tujuan utama dari inisiatif ini adalah untuk memastikan bahwa komunitas tuna tuli mendapatkan akses yang lebih baik terhadap layanan publik serta dapat berkomunikasi dengan lebih efektif. Ia menilai bahwa saat ini masih banyak masyarakat tuna tuli yang hanya menerima bantuan yang bersifat konsumtif atau sementara, bukan solusi jangka panjang yang bisa meningkatkan kualitas hidup mereka.
Masalah Utama dalam Akses Komunikasi
Menurut Ratu Tenny Leriva, salah satu tantangan utama yang dihadapi komunitas tuna tuli adalah kurangnya jumlah Juru Bahasa Isyarat (JBI) di Sumsel. Hal ini menyebabkan akses komunikasi bagi masyarakat tuna tuli menjadi tidak optimal, terutama dalam sektor layanan publik. "Perlu adanya peningkatan jumlah JBI agar komunikasi antara pemimpin daerah dan masyarakat tuna tuli bisa lebih efektif," ujarnya.
Ia juga menyampaikan harapan bahwa peserta kelas bahasa isyarat ini akan dapat berperan aktif dalam membantu layanan publik, menjadi penerjemah dalam berbagai kegiatan resmi, serta mendukung komunikasi para pemimpin daerah, termasuk kepala daerah di Sumsel. Hingga saat ini, belum ada juru bicara isyarat yang secara resmi membantu kepala daerah menerjemahkan bahasa isyarat.
Struktur Pelatihan dan Target Peserta
Kelas bahasa isyarat ini diadakan selama tujuh kali pertemuan, dengan durasi masing-masing pertemuan selama dua jam. Materi diajarkan langsung oleh Gerkatin Sumsel. Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian pelatihan, peserta akan mendapatkan kompetensi sebagai Ahli Bahasa Isyarat Tingkat Satu. Namun, untuk menjadi Juru Bahasa Isyarat, diperlukan proses pembelajaran dan sertifikasi hingga empat tingkatan. Oleh karena itu, peserta harus terus mengasah ilmu dan kemampuan komunikasinya agar bisa mencapai tingkatan tersebut.
Ratu Tenny Leriva juga memberikan semangat kepada peserta agar bisa mengikuti kelas dengan baik dan berhasil dalam menjalani pelatihan. Ia berharap peserta dapat menjadi agen perubahan dalam mendorong inklusivitas dan kesetaraan di tengah masyarakat.
Partisipasi Berbagai Latar Belakang
Peserta kelas ini berasal dari berbagai latar belakang, seperti pelajar, mahasiswa, hingga pekerja. Hal ini menunjukkan bahwa minat untuk belajar bahasa isyarat sangat luas dan dapat diakses oleh siapa saja yang ingin berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif.
Pengembangan Kedepannya
Kelas bahasa isyarat ini digelar secara gratis dan dibiayai sepenuhnya oleh Ratu Tenny Leriva. Kegiatan ini direncanakan akan digelar dalam beberapa batch agar dapat mencakup lebih banyak peserta. Fitriana, Kepala Dinas Perpustakaan Sumsel, menjelaskan bahwa kelas ini diinisiasi oleh Duta Literasi Sumsel yang peduli dengan literasi bagi teman tuli.
"Kami berharap kelas ini dapat terus berlangsung dan memberikan dampak positif bagi masyarakat, khususnya komunitas tuna tuli," ujarnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar