Inovasi Hulu-Hilir Belum Selaras, BRIDA Ajak Kampus dan Industri Bekerja Sama

Inovasi Hulu-Hilir Belum Selaras, BRIDA Ajak Kampus dan Industri Bekerja Sama

Forum Temu Bisnis: Kunci Penguatan Ekosistem Inovasi Jawa Timur

Forum Temu Bisnis yang digelar oleh Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair) di ASEEC Tower, Kampus B Unair, Senin (8/12/2025), menjadi momen penting dalam memperkuat ekosistem inovasi di Jawa Timur. Acara ini dihadiri oleh berbagai pihak seperti Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Jatim, Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Jatim, serta para inovator dari berbagai bidang. Tujuannya adalah untuk mendorong percepatan transformasi riset menjadi solusi strategis dan investasi nyata.

Direktur Sekolah Pascasarjana UNAIR, Prof. Dr. dr. Achmad Chusnu Romdhoni, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk. (K), FICS, menekankan bahwa kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha sangat penting dalam menghadapi tantangan yang ada di Jawa Timur. Menurutnya, sinergi Triple Helix antara Unair, BRIDA, dan KADIN menjadi kunci untuk melihat situasi riil di Jatim dan menghasilkan rekomendasi serta aksi nyata yang menjawab kebutuhan lapangan.

Prof. Romdhoni menyebutkan bahwa berbagai persoalan kesehatan seperti stunting hingga isu strategis seperti pengelolaan limbah medis (IPAL) membutuhkan sentuhan multidisiplin. Ia juga mengajak dunia usaha dan pemerintah untuk mendorong terwujudnya konsep Health Tourism khas Jawa Timur. “Unair punya kekuatan di aspek medis, hukum, dan ekonomi. Kolaborasi ini harus mampu melahirkan solusi yang benar-benar bisa diterapkan di lapangan,” tegasnya.

Acara ini juga menghadirkan 30 inovator dari berbagai bidang, yang langsung mempresentasikan produk dan gagasan mereka kepada calon investor. Forum tersebut menjadi ruang interaksi yang mempertemukan kebutuhan industri dengan solusi yang ditawarkan para inovator. “Ini langkah awal yang penting. Jika ekosistemnya solid, inovasi Jatim tidak hanya berhenti pada ide, tetapi menjadi kekuatan ekonomi yang nyata,” ujar Prof. Romdhoni.

Persoalan Klasik yang Hambat Inovasi

Kepala BRIDA Jatim, Dr. Andriyanto, menyoroti beberapa permasalahan klasik yang masih menghambat inovasi di Jawa Timur. Salah satunya adalah minimnya keterhubungan antara hasil riset dengan kebutuhan dunia industri. “Ada dua permasalahan. Pertama, riset yang dilakukan belum tentu menjawab kebutuhan di lapangan. Kedua, meskipun riset berhasil, percepatan komersialisasinya terkendala regulasi atau investasi,” jelasnya.

Menurut Andriyanto, paradigma inovasi harus berubah. Inovasi tidak boleh dipandang sebagai beban anggaran. “Inovasi itu investasi. Tugas BRIDA saat ini adalah membangun platform agresif yang bisa mempertemukan inventor dengan investor, sehingga riset tidak berhenti sebagai laporan, tetapi menjadi produk,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Jawa Timur memiliki potensi besar untuk menjadi pusat inovasi nasional jika kolaborasi antar-aktor berjalan lebih sistematis. “Kami berharap Jatim akan menjadi Hub Inovasi Nasional yang agresif, di mana inovasi perguruan tinggi betul-betul dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tambahnya.

Pengguna Utama Inovasi Kampus

Dari sisi pengusaha, Wakil Ketua Umum KADIN Jatim, Fitra Jaya Purnama, menyatakan bahwa dunia usaha siap menjadi pengguna utama dari inovasi kampus. “Kami sangat mengapresiasi kolaborasi ini. Tugas kami di KADIN adalah mencarikan mitra industri yang tepat dan mendorong inovasi masuk ke tahap prototipe hingga menjadi produk yang bisa dipasarkan,” katanya.

KADIN Jatim juga membuka peluang investasi dan jejaring bagi inovator yang produknya dinilai memiliki potensi komersial tinggi. “Kami siap mendukung, termasuk fasilitasi permodalan, agar ada program jangka pendek yang bisa segera dieksekusi. Jatim harus jadi role model kolaborasi Triple Helix,” tegasnya.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan