
Inovasi Puskesmas Fatumnutu dalam Mencegah Stunting
Puskesmas Fatumnutu di Kecamatan Polen, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), meluncurkan inovasi baru bernama "Leku Namnau'ba Kit" yang bertujuan untuk mencegah stunting. Inovasi ini berupa alarm pengingat menyusui setiap dua jam bagi ibu menyusui. Program ini diluncurkan pada Februari 2025 dan berhasil meraih juara pertama dalam lomba inovasi tingkat Kabupaten TTS.
Inovasi ini dirancang untuk memastikan konsistensi pemberian ASI selama 0–6 bulan. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kesadaran ibu tentang pentingnya memberikan ASI secara teratur agar anak tumbuh sehat dan tidak mengalami stunting.
Cara Kerja Program
Pelaksanaan program sangat sederhana. Ibu menyusui hanya perlu menggunakan alarm pada telepon genggam mereka. Setiap dua jam, alarm akan berbunyi sebagai pengingat untuk menyusui bayi. Selain itu, ada juga grup WhatsApp yang digunakan untuk pemantauan dan kontrol oleh petugas kesehatan.
Kepala Puskesmas Fatumnutu, Erminodus E. Meo, SKM., menjelaskan bahwa alarm pengingat ASI ini merupakan cara efektif untuk meningkatkan kekonsistenan dalam pemberian ASI. Menurutnya, stunting sering terjadi karena ketidakteraturan dalam pemberian ASI.
"Ini adalah inovasi yang memberikan pengingatan kepada ibu menyusui, terutama pada usia 0–6 bulan, untuk taat pada waktu pemberian ASI dan jumlah frekuensinya. Ini salah satu cara untuk mempercepat penurunan stunting," jelasnya.
Hasil Uji Coba
Dalam uji coba terhadap 15 anak, program ini menunjukkan hasil yang efektif. Anak-anak tersebut mengalami kenaikan berat badan di atas rata-rata minimum. Misalnya, dari 0–1 bulan, berat badan anak naik 800 gram, sedangkan untuk 2–3 bulan, naik 900 gram.
"Anak-anak yang diberikan alarm menyusui ini mengalami kenaikan berat badan 2–3 kilogram setiap bulan, jauh di atas kenaikan berat badan minimum. Ini menunjukkan bahwa program ini sangat efektif," tambahnya.
Alat yang Digunakan
Alat utama dalam program ini adalah telepon genggam. Alarm diatur di handphone setiap ibu menyusui, dan waktu penyusuan dipilih pada waktu genap. Telepon genggam dipilih karena selalu tersedia dan mudah diakses.
"Telepon genggam digunakan karena selalu bersama kita, sehingga bisa menjadi alat pengingat yang efektif," jelas Erminodus.
Selain itu, ada mekanisme lain seperti grup WhatsApp untuk pemantauan dan kontrol. Petugas kesehatan juga melakukan pantauan langsung di posyandu setiap bulannya.
Tantangan dan Solusi
Meski terlihat sederhana, program ini memiliki tantangan. Beberapa ibu tidak memiliki telepon genggam atau hanya memiliki satu perangkat. Selain itu, ada yang tidak menggunakan aplikasi WhatsApp. Untuk mengatasi hal ini, petugas kesehatan tetap melakukan pemantauan melalui posyandu.
Selain itu, beberapa ibu mengeluhkan harus menyusui di malam hari. Erminodus menjelaskan bahwa menyusui di malam hari lebih efektif karena anak akan tidur setelah mendapatkan ASI. Hal ini membantu pertumbuhan dan kebutuhan nutrisi anak.
Harapan Masa Depan
Erminodus berharap inovasi ini dapat diterapkan di semua puskesmas di Kabupaten TTS. Ia berharap Bupati atau kepala dinas dapat memberikan instruksi untuk pelaksanaan program ini di setiap puskesmas.
"Program ini sangat penting untuk mengurangi risiko stunting. Saya berharap inovasi ini bisa memberikan dampak besar bagi kesehatan anak di TTS," harapnya.
Melalui program ini, Erminodus berusaha memastikan bahwa 1.000 hari pertama kehidupan anak tercukupi dengan asupan ASI yang tepat dan benar.
Stunting masih menjadi masalah serius di banyak daerah, termasuk di Kabupaten TTS. Dengan inovasi sederhana ini, Puskesmas Fatumnutu memberikan pola baru dalam penanganan stunting. Semoga inovasi ini bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk mengurangi risiko stunting dan memastikan anak tumbuh sehat serta kuat.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar