
Pertumbuhan Bisnis AKRA di Kawasan Ekonomi Khusus JIIPE
PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) terus menunjukkan kinerja yang positif, terutama dalam segmen bisnis pengembangan dan pengelolaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Salah satu proyek utama yang menjadi fokus adalah Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), yang telah menjadi salah satu destinasi strategis bagi perusahaan-perusahaan global.
Beberapa waktu lalu, AKRA melalui anak usahanya PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera (BKMS) memberikan tambahan lahan industri seluas 20 hektare (ha) kepada PT GEABH Joint Technology, yang merupakan anak usaha Sichuan Golden Elephant Chemical. Lahan ini akan digunakan untuk pengembangan fasilitas kimia ramah lingkungan. Golden Elephant rencananya akan membangun fasilitas baru di JIIPE yang akan memproduksi melamin, asam nitrat, dan amonium nitrat. Selain itu, perusahaan juga sedang mengevaluasi pembangunan fasilitas tambahan untuk produksi amonia dan urea sintetis dengan memanfaatkan sumber daya gas alam Indonesia.
Direktur Utama AKR Corporindo, Haryanto, menyatakan bahwa penambahan investasi dari Golden Elephant semakin memperkuat posisi KEK JIIPE Gresik sebagai lokasi yang menarik bagi produsen global. Ia menegaskan bahwa perkembangan ini sejalan dengan strategi jangka panjang AKRA, yang menjadikan bisnis kawasan industri sebagai salah satu pilar utama operasi perusahaan.
AKRA memiliki ambisi besar dalam pengembangan JIIPE. Perusahaan menargetkan penjualan lahan di kawasan industri tersebut mencapai 80 ha hingga 100 ha pada tahun 2025. Dalam dua tahun terakhir, sebagian besar penjualan lahan di JIIPE terjadi pada kuartal keempat. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap lahan industri di kawasan tersebut semakin meningkat.
Menurut Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, permintaan lahan di kawasan industri di Indonesia sedang menguat, terutama karena tumbuhnya sektor kendaraan listrik, logistik, dan manufaktur. JIIPE memiliki keunggulan berupa akses ke pelabuhan, fasilitas utilitas yang lengkap, serta kepastian lahan. Menurut Wafi, segmen JIIPE kemungkinan akan menjadi mesin pertumbuhan bagi AKRA, karena margin tinggi dan pendapatan berulang dari utilitas.
Di sisi lain, isu impor BBM yang tersendat di SPBU BP-AKR sempat mengganggu operasional. Namun, dampaknya terhadap pendapatan AKRA tidak signifikan, karena porsi segmen BBM ritel dalam total pendapatan emiten tersebut relatif kecil. Meskipun demikian, AKRA tetap perlu melakukan diversifikasi pasokan, menjaga inventory buffer, serta memastikan kontrak pasokan jangka panjang tetap terjaga.
Wafi merekomendasikan untuk membeli saham AKRA dengan target harga Rp 1.700 per saham. Di sisi lain, Chief Executive Officer (CEO) Edvisor Provina Visindo Praska Putrantyo juga merekomendasikan strategi "buy on weakness" dengan target harga Rp 1.350 per saham.
Praska melihat bahwa capaian positif dari JIIPE menunjukkan bahwa ekosistem kawasan industri tersebut sudah mulai berjalan dan memberi kontribusi signifikan terhadap pendapatan AKRA secara konsolidasi. Meski begitu, ia sepakat bahwa AKRA masih menghadapi tantangan bisnis, terutama masalah sulitnya impor BBM bagi pengelola SPBU swasta yang dapat menekan pendapatan dan margin AKRA dalam jangka pendek.
Namun, strategi diversifikasi pendapatan dan upaya untuk memperkuat pasokan BBM bisa menjadi solusi untuk menjaga kinerja keuangan AKRA. Dengan langkah-langkah ini, AKRA diharapkan mampu menjaga stabilitas dan pertumbuhan bisnis di tengah tantangan yang ada.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar