
Video Percakapan Zulkifli Hasan dan Harrison Ford Kembali Viral
Sebuah video yang menampilkan percakapan antara aktor Hollywood Harrison Ford dan mantan Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan, kembali menjadi perhatian publik. Percakapan ini terjadi pada tahun 2013 atau sekitar 12 tahun lalu, saat Ford sedang melakukan produksi serial dokumenter berjudul Years of Living Dangerously. Video tersebut kembali mencuat setelah bencana alam di Sumatera, termasuk banjir dan longsor yang melanda beberapa wilayah.
Dalam video yang diunggah di akun YouTube The Years Project, Ford terbang di atas Taman Nasional Tesso Nilo, Riau, menggunakan helikopter. Ia juga mengunjungi kawasan tersebut dan bertemu dengan gajah-gajah yang tinggal di sana. Ford merasa kaget karena hutan lindung ini telah banyak berubah menjadi kebun sawit. Ia kemudian menyampaikan kekecewaannya kepada Zulkifli Hasan, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kehutanan.
Isi percakapan antara Ford dan Zulkifli Hasan:
Ford: "Pak Menteri, terima kasih telah meluangkan waktunya bersama kami. Kami sudah keliling negara Anda dalam beberapa minggu terakhir. Kami punya beberapa pertanyaan."
Zulkifli: "Yang lain, Anda tahu kita baru berdemokrasi. Tapi saya yakin kita dalam waktu yang panjang akan apa namanya, terjadi titik yang seimbang."
Ford: "Sebuah proyek untuk melestarikan hutan di dataran tinggi telah menunggu persetujuan selama bertahun-tahun. Langkah terakhir dalam proses ini adalah tanda tangan Anda, Pak. Maukah Anda menandatangani dokumen itu?"
Zulkifli: "Saya kalau tidak salah baru separuh yang disetujui, kira-kira 100 ribu hektar."
Ford: "Anda bersedia menandatangani dokumen untuk memberi 50 persen yang mereka minta. Kapan itu dilakukan?"
Zulkifli: "Kalau mereka setuju, saya kira lusa, minggu depan sudah bisa."
Ford kemudian memperlihatkan kondisi Tesso Nilo yang semakin rusak.
Ford: "Kami ke Taman Nasional Tesso Nilo. Ini tidak lucu. Tidak lucu. Hanya tersisa 18 persen. Kami melihat ada jalan-jalan baru, jalan ilegal, hutan ditebang, pohon-pohon tumbang, terbakar di mana-mana. Ini sangat menyedihkan, sangat memilukan melihatnya. Anda juga melihatnya. Apa yang sudah Anda lakukan?"
Zulkifli: "Anda baru lihat terkaget-kaget. Kami tiap hari mencoba untuk menyelesaikan persoalan. Kami baru mengalami apa yang disebut demokrasi."
Ford: "Mereka datang tidak datang begitu saja. Mereka datang pada periode waktu tertentu. Banyak waktu untuk menghentikan perilaku tersebut, menghentikan aktivitas tersebut."
Zulkifli: "Tadi saya sudah jelaskan, ini bukan Amerika. Memang berbeda. Kami baru mengalami apa yang disebut dengan reformasi. Baru ini. Sekarang orang baru bebas. Kadang-kadang kami memang surplus, apa yang disebut surplus demokrasi. Oleh karena itu, kami buat program untuk mencoba memindahkan mereka, mencari lahan pengganti."
Ford: "Ya saya mengerti, saya mengerti. Anda rela kalah dalam pertempuran ini. Itu yang Anda katakan kepada saya, kan? Ok?"
Zulkifli: "Ya."
Ford: "Baiklah, saya lihat semua kekayaan ini berada di puncak tumpukan. Tapi, di dasar tumpukan itu ada kejahatan, ada pelanggaran hukum, dan ada korupsi."
Terima kasih atas waktunya.
Zulkifli: "Sama-sama, makasi."
Video percakapan ini kembali viral di media sosial. Kolom komentar di akun YouTube The Years Project yang menayangkan video tersebut juga kembali ramai dengan komentar warganet +62. Video itu mengungkap kenyataan pahit tentang kerusakan hutan parah yang sudah terjadi 12 tahun lalu, tetapi tahun 2025 ini rupanya masih terjadi.
Perkembangan Terbaru di Tesso Nilo
Dilansir dari pemberitaan Kompas.com, pada 28 Oktober 2014, Menhut mengukuhkan Taman Nasional Tesso Nilo seluas 81.793 hektare melalui SK 6588/Menhut-VII/KUH/2014. Sebelum 2014, luas hutan Tesso Nilo yang sesungguhnya telah mengalami pengurangan. Tangkapan satelit melalui Google Earth fitur Google Timelapse menunjukkan bahwa pada 2009, kawasan masih terlihat berwarna hijau karena dipenuhi vegetasi hutan. Namun, mulai 2012, beberapa wilayah terlihat berwarna coklat. Pada 2014, hampir separuh kawasan rumah para gajah itu berwarna cokelat.
Bagaimana dengan tahun 2025? Dilansir dari Kompas.com, dari total 81.793 hektar, sebanyak sekitar 70.000 hektar telah berubah menjadi perkebunan sawit ilegal. Hal itu berdasarkan peninjauan udara oleh Gubernur Riau Abdul Wahid dan Bupati Pelalawan Zukri pada Juli 2025.
Kayu Gelondongan dan Banjir di Sumatera
Kayu gelondongan mendadak menjadi sorotan saat banjir yang terjadi di Sumatera. Kayu-kayu tersebut nampak di sebuah video yang memperlihatkan aliran deras air warna cokelat pekat di Sungai Batang Toru membawa serta kayu-kayu gelondongan beraneka ukuran, besar kecil, panjang pendek, khususnya di Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Kayu-kayu gelondongan yang sudah terlihat tanpa kulit dan diduga hasil pembukaan lahan, turut mengalir dan menumpuk di jembatan.
Adanya kayu-kayu tersebut menimbulkan pertanyaan publik, benarkah hasil dari illegal logging (pembalakan liar)? Illegal logging adalah praktik penebangan hutan secara tidak sah, tanpa izin resmi, atau dengan cara yang melanggar hukum.
Sorotan WALHI
Organisasi lingkungan seperti WALHI menyoroti bahwa gelondongan kayu yang hanyut adalah diduga hasil penebangan liar (illegal logging) dan aktivitas perusahaan di kawasan hutan Batang Toru, Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah. Kayu-kayu besar tanpa kulit yang terbawa arus diduga berasal dari praktik pembalakan yang meninggalkan sisa tebangan di hulu sungai. Ketika hujan ekstrem datang, sisa kayu ini terseret banjir dan memperparah dampak bencana.
Hutan di Sumatera, khususnya bentang alam Harangan Tapanuli, mengalami tekanan akibat pembukaan lahan oleh tujuh perusahaan yang disebut WALHI. Aktivitas tersebut mengurangi fungsi hidrologis hutan sebagai penyangga air, sehingga banjir bandang membawa material kayu dalam jumlah besar. Kondisi ini menunjukkan lemahnya pengawasan terhadap tata kelola hutan, yang seharusnya menjadi benteng alami terhadap bencana hidrometeorologi.
Desakan DPR
Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan, menyoroti fenomena banjir dan longsor di wilayah Sumatera yang membawa material kayu gelondongan dalam jumlah besar. Daniel pun mendesak pemerintah untuk segera membentuk tim investigasi guna mengungkap asal-usul kayu-kayu tersebut.
"Itu sudah sangat viral ya, seluruh warga melihat dan terheran-heran bagaimana bencana banjir bukan hanya air, tetapi bahkan dipenuhi oleh begitu banyak kayu. Untuk menjawab keheranan tersebut dan menunjukkan keseriusan, kita mendorong pemerintah segera membentuk tim investigasi," ujar Daniel ditemui di Buperta Cibubur, Jakarta Timur, Sabtu (29/11/2025).
Legislator PKB itu menilai investigasi harus dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan apakah ada unsur pidana di balik bencana ini. "Tim harus menelusuri dari mana kayu-kayu itu sampai bisa hanyut segitu banyaknya. Apakah ada penebangan illegal logging? Siapa yang pelakunya? Seberapa besar hutan alam yang dirusak? Dan segera lakukan tindakan tegas terhadap pelanggar yang ada," tegasnya.
Respons Menteri Kehutanan
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bencana banjir dan longsor di wilayah Sumatera menjadi peringatan keras atas sejumlah kekeliruan dalam pengelolaan lingkungan selama ini. Raja Juli mengatakan perlu adanya introspeksi menyeluruh di tubuh kementerian yang dipimpinnya. Ia menyebut bahwa praktik penebangan hutan yang berlangsung di luar kontrol merupakan satu pemicu utama kerentanan ekologis di berbagai daerah, sebagaimana juga disampaikan Presiden dalam pidatonya.
“Pak Presiden dalam pidatonya mengatakan penebangan hutan liar yang tidak terkontrol berkontribusi besar terhadap bencana. Jadi kita akan melakukan evaluasi kebijakan,” kata Raja Juli Antoni dalam keterangannya, Sabtu (29/11/2025). Pernyataan itu menandai langkah pemerintah untuk meninjau ulang sejumlah program dan izin yang terkait dengan pemanfaatan kawasan hutan.
Kondisi Terkini di Sumatera
Pulau Sumatera saat ini sedang dilanda banjir bandang dan longsor besar sejak akhir November 2025, dengan korban jiwa ratusan orang dan puluhan ribu warga mengungsi. Berikut adalah kondisi terkini:
- Korban jiwa: BNPB melaporkan lebih dari 174 orang meninggal, 79 hilang, dan ratusan luka-luka.
- Wilayah terdampak: Aceh, Sumatera Utara (Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan), dan Sumatera Barat (Padang, Gunung Nago).
- Pengungsian massal: Puluhan ribu warga terpaksa meninggalkan rumah karena jembatan putus, akses jalan terputus, dan rumah rusak.
- Kerusakan infrastruktur: Bendungan Gunung Nago jebol, jembatan runtuh, serta banyak rumah hanyut.
Faktor Penyebab
- Curah hujan ekstrem: Sumatera sedang berada di puncak musim hujan, dengan intensitas hujan sangat tinggi.
- Kerusakan hutan: Penebangan liar dan berkurangnya hutan memperparah banjir karena hilangnya daya serap air.
- Topografi rawan longsor: Banyak wilayah perbukitan dan pegunungan yang mudah longsor saat hujan deras.
Dampak Sosial
- Krisis kemanusiaan: Ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal, akses bantuan terhambat.
- Lingkungan rusak: Gelondongan kayu terbawa arus hingga ke laut, menandakan kerusakan hutan parah.
- Ekonomi terganggu: Jalur transportasi dan perdagangan lumpuh di beberapa daerah.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar