Isu Kebakaran Terra Drone dan Bencana Sumatra, Mantan Kabareskrim Duga Penghilangan Bukti

Isu Kebakaran Terra Drone dan Bencana Sumatra, Mantan Kabareskrim Duga Penghilangan Bukti

Mantan Kabareskrim Polri Membahas Isu Keterkaitan Kebakaran Kantor Terra Drone dengan Penyidikan Bencana Sumatra

Mantan Kabareskrim Polri (2009-2011), Komjen Purn Ito Sumardi, menilai bahwa isu keterkaitan kebakaran kantor Terra Drone dengan penyidikan terkait bencana di Sumatra bersifat spekulatif. Namun, ia mengungkapkan bahwa data yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut bisa menjadi pintu masuk bagi aparat penegak hukum untuk melacak penyebab banjir bandang yang merenggut ratusan nyawa.

Terra Drone, yang mengklaim sebagai penyedia drone terbesar di dunia, pernah melakukan pemetaan lahan sawit di Sumatra. Data dari perusahaan ini dapat membantu penyidik dalam memahami bagaimana kejadian bencana alam tersebut terjadi. Ito menyampaikan hal ini saat berbicara dalam program Sapa Indonesia Malam di Kompas TV pada Kamis (11/12/2025).

"Isu ini kan spekulatif sifatnya, tapi bisa jadi pintu masuk ya untuk mendorong audit forensik digital atas data pemetaan hutan lahan yang pernah dikerjakan oleh perusahaan tersebut," ujar Ito.

Ia juga menyoroti pentingnya sistem back up yang dimiliki oleh perusahaan. "Karena menguatkan kewajiban korporasi juga untuk memiliki sistem back up-nya, mereka punya gak system back up-nya," tambahnya.

Jika data Terra Drone hilang akibat kebakaran, penyidikan bisa mengarah kepada dugaan kebakaran sebagai upaya penghilangan barang bukti. "Kalau tidak (data hilang karena kebakaran), tentunya kita juga melakukan salah satu pendalaman yang bisa juga pintu masuk untuk dikaitkan dengan upaya bagaimana menghilangkan bukti-bukti yang saat ini sedang dilakukan penyidikan untuk kasus penyebab bencana alam," ujarnya.

Kebakaran Kantor Terra Drone

Seperti diketahui, kantor Terra Drone yang berlokasi di Jalan Letjen Suprapto, Kemayoran, Jakarta Pusat, mengalami kebakaran hebat pada Selasa (9/12/2025) siang. Dalam insiden tersebut, 22 orang meninggal dunia sekira pukul 12.40 WIB.

Kapolres Jakarta Pusat, Kombes Susatyo Purnomo Condro, menjelaskan bahwa penyebab kebakaran disinyalir berasal dari baterai litium drone yang terbakar. "Stok baterai mungkin baru datang," kata Susatyo, Selasa. "Baterai terbakar ini menyebar karena di lantai satu ini adalah salah satu tempat gudangnya," tandasnya.

Penangkapan Direktur Utama Terra Drone

Sementara itu, Polres Jakarta Pusat telah menangkap Direktur Utama (Dirut) PT Terra Drone Indonesia, Michael Wishnu Wardana Siagian. Penangkapan dilakukan setelah Michael Siagian tidak hadir dalam jadwal pemeriksaan pada Rabu (10/12/2025) untuk dimintai keterangan terkait insiden kebakaran kantor Terra Drone.

"Yang bersangkutan sudah kami tangkap," kata Kasat Reskrim Polres Jakarta Pusat, AKBP Roby Saputra saat dikonfirmasi, Kamis (11/12/2025). Status Michael Siagian pun sudah ditetapkan sebagai tersangka. Dalam perkara ini, Michael Siagian dijerat Pasal 187 KUHP tentang perbuatan yang membayakan keamanan umum hingga Pasal 188 KUHP tentang kesengajaan yang dapat menimbulkan kebakaran dan Pasal 359 KUHP tentang kelalaian.

Aktivitas Terra Drone di Sumatra

Berdasarkan keterangan laman resminya, Terra Drone merupakan salah satu penyedia layanan drone terbesar di dunia yang menawarkan solusi mutakhir untuk survei udara, inspeksi infrastruktur, analisis data, dll. Terra Drone berkantor pusat di Jepang dan hadir di semua bagian dunia melalui jaringan mitra perusahaan grup dan kolaborator teknologi-nya.

Didirikan pada tahun 2016, strategi utama Terra Drone adalah menggabungkan teknologi mutakhir dan pengetahuan lokal, dengan mengakuisisi penyedia jasa drone lokal terbaik di banyak negara. Pada 2020, Drone Industry Insight menominasikan Terra Drone sebagai penyedia jasa drone nomor satu di dunia.

Terra Drone Indonesia telah aktif memetakan dan mengelola lahan perkebunan kelapa sawit di Sumatera menggunakan teknologi drone. Aktivitas ini merupakan bagian dari layanan "Terra Agri" mereka untuk mendukung pertanian presisi. Terra Agri adalah salah satu divisi agrikultur dari Terra Drone.

Pada tahun 2021, Terra Drone Indonesia bermitra dengan International Finance Corporation (IFC), bagian dari World Bank Group, untuk melakukan studi bersama mengenai pemanfaatan teknologi drone dalam pemantauan petani kelapa sawit swadaya. Studi ini dilakukan di Riau, Sumatra.

Terra Drone juga berhasil menyelesaikan pekerjaan survei pemetaan udara menggunakan drone untuk proyek tol Cisumdawu. Survei menggunakan drone tersebut berlokasi di Sumedang Majalengka, Jawa Barat dengan total luas area kurang lebih 30 km. Teknologi drone yang digunakan ialah Bramor ppX, drone berjenis fixed wing yang dirancang khusus untuk melakukan survei pemetaan. Bramor ppX mampu terbang hingga 3 jam sehingga mampu mengambil data di area yang luas hanya dalam sekali terbang. Selain durasi terbang yang lama, bramor ppX dapat menghasilkan data akurat sesuai kriteria yang dibutuhkan kontraktor.

Penyidikan Terkait Bencana Sumatra

Sejumlah kementerian dan lembaga, termasuk kepolisian hingga kejaksaan tengah menginvestigasi penyebab bencana besar Sumatra, dan melacak kemungkinan keterkaitan gelondongan kayu yang muncul pada banjir bandang dengan dugaan pembalakan liar.

Bareskrim Polri resmi menaikkan temuan kayu gelondongan dalam peristiwa banjir di Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara, ke tahap penyidikan. Penyidik Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dirtipidter) tengah menelusuri kemungkinan adanya tindak pidana di balik bencana tersebut, termasuk dugaan kelalaian hingga keterlibatan korporasi.

"Yang jelas untuk di TKP Garoga dan Anggoli sudah kami naikkan ke proses penyidikan," kata Direktur Tipidter Bareskrim Polri, Brigjen Mohammad Irhamni, dalam konferensi pers daring, Rabu (10/12/2025), dikutip dari Kompas.com. Irhamni mengatakan, penyidik bekerja bersama sejumlah pemangku kepentingan untuk mengumpulkan bukti dan memastikan apakah peristiwa itu murni bencana alam atau dipicu aktivitas manusia.

"Saat ini, kami sedang bekerja keras untuk mencari bukti bahwa apakah ada peristiwa pidana dari bencana alam ini. Kami telusuri dari TKP, kami bekerja berdasar alat bukti tentunya, alat bukti ini harus kita uji dengan laboratorium," ujarnya.

Sementara itu, Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin tidak akan tinggal diam mengusut biang kerok penyebab bencana banjir dan longsor yang menimpa tiga provinsi di Sumatera. Hal ini ditegaskan Barita Simanjuntak selaku Ketua Tenaga Ahli Jaksa Agung sekaligus Juru Bicara (Jubir) Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH).

Menurut Barita, Jaksa Agung akan menegakkan hukum terkait penyebab banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. "Kemarin Jaksa Agung sudah menyampaikan bahwa negara tidak tinggal diam, akan melakukan fungsi hukum terhadap apa yang mengakibatkan bencana kemarin," ucap Barita di Kantor Kejaksaan Agung, Jakarta, Senin (8/12/2025), dikutip dari Kompas.com.

Satgas PKH di bawah Kejaksaan Agung juga telah melakukan penelusuran, termasuk berkoordinasi dengan instansi terkait. "Tentu saja Satgas PKH telah melakukan kegiatan-kegiatan, ya investigasi, penyelidikan awal, berkoordinasi dengan instansi terkait," ucap dia. "Dan salah satu kelebihan dari Satgas PKH ini adalah koordinasi yang mudah, cepat, dan bisa segera dilakukan," sambung dia.

Di sisi lain, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengevaluasi dokumen lingkungan seluruh perusahaan yang diduga memiliki keterkaitan atas bencana banjir bandang di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. "Dapat kami informasikan bahwa Kementerian Lingkungan Hidup telah melakukan dan saat ini masih berjalan, yaitu evaluasi terhadap dokumen lingkungan terhadap seluruh perusahaan atau badan usaha yang memiliki keterkaitan baik di Sumatera Utara, Sumatera Barat, maupun di Aceh," kata Direktur Tindak Pidana KLH, Frans Cahyono, dalam konferensi pers daring, Rabu (10/12/2025), dikutip dari Kompas.com.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan