
Kekerasan Berdasarkan Gender di Ruang Pengungsian
Ruang pengungsian yang seharusnya menjadi tempat perlindungan sementara bagi korban bencana sering kali tidak aman bagi perempuan. Ancaman utama yang dihadapi adalah kekerasan berbasis gender (KBG), yang memiliki akar pada budaya patriarki, ketidaksetaraan gender, dan melemahnya struktur perlindungan sosial saat bencana terjadi.
Prof Myrta, Ketua Satgas PPKPT Unair, menekankan pentingnya pendampingan empatik dalam situasi seperti ini. Ia menjelaskan bahwa bencana sering kali menciptakan ruang yang tidak benar-benar aman bagi perempuan karena kombinasi norma sosial, ketimpangan kekuasaan, hingga faktor biologis.
“Bencana kerap menciptakan ruang yang tidak aman bagi perempuan. Hal itu muncul akibat kombinasi norma sosial, ketimpangan kekuasaan, sampai faktor biologis,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam banyak budaya, perempuan dianggap sebagai pihak yang perlu dilindungi. Namun, situasi berubah drastis saat bencana terjadi. Struktur perlindungan sosial yang biasanya menjaga perempuan menjadi melemah karena masyarakat fokus menyelamatkan diri masing-masing.
“Dalam kondisi perlindungan yang longgar, terdapat peluang untuk beberapa oknum yang memanfaatkannya,” jelas Guru Besar Antropologi Unair itu.
Faktor Penyebab Kerentanan Perempuan
Perubahan lingkungan sosial yang tiba-tiba juga menjadi faktor pendorong munculnya kerentanan. Perempuan yang terbiasa berada di ruang privat harus berbagi tempat dengan banyak orang di pengungsian. Situasi seperti ini sangat bergantung pada budaya masyarakat mengenai bagaimana perempuan diperlakukan.
Salah satu ancaman yang paling sering muncul di pengungsian adalah kekerasan berbasis gender (KBG). KBG merupakan tindakan kekerasan yang dilakukan berdasarkan jenis kelamin atau identitas gender dan dapat berdampak pada penderitaan fisik, psikologis, maupun seksual.
Prof Myrta menegaskan bahwa KBG sebagian besar mempengaruhi perempuan dan anak perempuan karena berakar dari ketidaksetaraan gender, norma sosial yang merugikan, dan penyalahgunaan kekuasaan.
“Risiko kekerasan berbasis gender juga dapat terjadi karena fisiologi laki-laki dan perempuan berbeda. Dorongan sifat agresif itu lebih besar pada laki-laki karena secara hormonal mereka berbeda,” ungkapnya.
Ia menuturkan bahwa penyebab terbesar tetap terletak pada faktor sosial. “Penyebab terbesar tetap pada faktor sosial, seperti budaya patriarki, ketidaksetaraan gender, rendahnya pendidikan, dan penyalahgunaan kekuasaan,” tegasnya.
Kebutuhan Spesifik Perempuan di Pengungsian
Selain risiko kekerasan, perempuan di pengungsian juga menghadapi tekanan psikologis akibat kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan anggota keluarga. Menurut Prof Myrta, pendampingan yang empatik sangat diperlukan bagi para penyintas.
“Mereka yang membantu harus bisa menempatkan diri pada posisi para pengungsi. Prioritasnya adalah memenuhi kebutuhan paling mendesak, lalu kebutuhan spesifik lainnya,” ujarnya.
Khusus bagi perempuan, kebutuhan tersebut harus dipenuhi sesuai norma yang mereka anut. Karena itu, para relawan perlu memahami latar belakang sosial dan budaya para pengungsi sebelum terjun ke lapangan.
Agar pengungsian menjadi tempat yang aman dan ramah bagi perempuan, Prof Myrta menekankan pentingnya pemenuhan kebutuhan spesifik perempuan. Keamanan, privasi, dan martabat harus menjadi prioritas utama. Ia juga menekankan pentingnya perlengkapan kebersihan yang memadai, akses kesehatan, termasuk layanan kesehatan reproduksi serta dukungan psikologis.
Tidak kalah penting, ia menegaskan perlunya mekanisme pelaporan insiden kekerasan yang aman dan rahasia, serta keberadaan staf terlatih dalam pencegahan dan respons KBG.
Langkah-Langkah Penting untuk Menciptakan Ruang Pengungsian yang Aman
Berikut beberapa langkah penting yang perlu diambil untuk menciptakan ruang pengungsian yang aman bagi perempuan:
- Memastikan keamanan dan privasi di setiap area pengungsian
- Menyediakan fasilitas sanitasi yang memadai dan sesuai dengan kebutuhan perempuan
- Memberikan akses kesehatan reproduksi yang memadai
- Menyediakan dukungan psikologis bagi para penyintas
- Membuat mekanisme pelaporan kekerasan yang aman dan rahasia
- Melibatkan staf terlatih dalam pencegahan dan respons KBG
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan ruang pengungsian dapat menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi semua pengungsi, terutama perempuan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar