Relawan ASN dan Non-ASN Bantu Bersihkan Fasilitas Publik di Aceh Tamiang
Pemerintah Aceh mengirimkan ribuan relawan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan non-ASN untuk membantu membersihkan fasilitas publik yang terdampak banjir dan longsor di Kabupaten Aceh Tamiang. Para relawan ini tidak menggunakan anggaran perjalanan dinas APBA, sesuai dengan arahan dari Sekda Aceh.
Juru bicara Pos Komando (Posko) Penanganan Banjir dan Longsor Aceh, Murthalamuddin, menjelaskan bahwa kehadiran para relawan merupakan bagian dari aksi kemanusiaan. "Setiap personel ASN/P3K/Non-ASN yang menjadi relawan bencana banjir dan longsor ke Aceh Tamiang tidak menggunakan biaya perjalanan dinas APBA," ujar Murthalamuddin di Banda Aceh, Sabtu (3/1/2025).
Para relawan ini bertugas membersihkan berbagai fasilitas publik seperti tempat ibadah dan sekolah-sekolah. Kehadiran mereka di daerah terdampak bencana dilakukan sebagai bentuk bakti sosial yang bertujuan untuk mempercepat proses pemulihan.
Sekda Aceh telah memberikan arahan kepada seluruh pejabat struktural, fungsional, serta personil ASN/P3K/Non-ASN yang terlibat dalam kegiatan bakti sosial. Arahan tersebut menyatakan bahwa para relawan tidak boleh menggunakan biaya perjalanan dinas APBA instansi.

Warga berjalan diantara tumpukan kayu yang terbawa arus saat banjir bandang di Desa Batu Bedulang, Aceh Tamiang, Selasa (23/12/2025). - (nurulamin.pro/Thoudy Badai)
Pemerintah Aceh juga mengirimkan sebanyak 4.000 relawan ASN untuk bakti sosial tahap kedua ke sekolah-sekolah terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh. Pada 29-30 Desember 2025, pemerintah Aceh telah mengirimkan 3.000 relawan ASN tahapan pertama untuk membersihkan fasilitas umum yang terdampak banjir.
Selain itu, Kantor Staf Presiden (KSP) menyalurkan pompa apung untuk membersihkan rumah dan fasilitas umum warga terdampak banjir di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya. Kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan pembersihan permukiman warga oleh aparat TNI dan Polri.
Tenaga Ahli Utama Kedeputian III KSP, Iwan Eka, menjelaskan bahwa tujuan kehadiran KSP di Aceh adalah memastikan bantuan benar-benar memberikan manfaat langsung bagi warga terdampak. "Bantuan dari keluarga besar KSP sebelumnya tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, dan hari ini kami pastikan langsung bergerak ke lokasi-lokasi terdampak di Pidie dan Pidie Jaya,” ujarnya.
KSP mengirimkan 10 unit pompa apung, dengan 7 unit telah tiba dan langsung digunakan, sementara sisanya masih dalam proses pengiriman. Menurut Iwan Eka, genangan air, lumpur yang menumpuk, serta keterbatasan kebutuhan dasar, terutama bagi bayi dan anak-anak, merupakan persoalan paling mendesak yang dihadapi warga pascabencana.
"Pompa apung ini kami pilih karena portabel, adaptif, dan efektif menjangkau kawasan permukiman padat yang tidak dapat diakses alat berat. Ini bukan simbol bantuan, tetapi alat kerja yang langsung digunakan untuk membantu warga agar rumah mereka lebih cepat kering dan bisa kembali ditempati," ucapnya.
Alat tersebut digunakan untuk menyedot genangan air, membilas lumpur, serta mempercepat pengeringan rumah dan fasilitas umum. Di Gampong Lamkawe, Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie, pompa apung digunakan untuk membersihkan lapangan dan fasilitas olahraga yang tertutup lumpur. Area publik ini diprioritaskan agar dapat kembali digunakan warga sebagai ruang aktivitas bersama.
Sementara di Gampong Tiba Mesjid, Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, pembersihan difokuskan pada rumah-rumah warga dengan menyedot genangan dan membilas lumpur yang mengendap di kawasan permukiman. Kegiatan serupa juga dilakukan di Gampong Dayah Usen, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, yang selama ini menjadi salah satu wilayah paling lambat pulih pascabanjir.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar