Jaga Keamanan Sektor Minerba, Ditjen Pajak Libatkan BIN dan ESDM

Kementerian Keuangan dan ESDM Berupaya Meningkatkan Penerimaan Negara dari Sektor Minerba


Jakarta Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Bimo Wijayanto sedang melakukan diskusi dengan pejabat tinggi Kementerian ESDM hingga Badan Intelijen Negara (BIN) terkait pengamanan nilai tambah dari sektor mineral dan batu bara (minerba). Diskusi ini dilakukan guna meningkatkan penerimaan negara yang optimal dari sektor tersebut.

Bimo mengungkapkan bahwa meskipun sektor minerba berkontribusi sebesar Rp2.026 triliun terhadap perekonomian Indonesia, atau setara 9,2% terhadap PDB, otoritas masih kesulitan dalam mengamankan penerimaan negara secara maksimal. Ia menekankan bahwa aktivitas ekonomi dari sektor minerba memiliki multiplier effect yang besar, mencakup layanan penambangan, logistik, hilirisasi hingga jasa keuangan yang mendukung sektor tersebut.

Di sisi lain, perekonomian Indonesia sangat bergantung kepada sektor minerba. Untuk itu, Bimo menjelaskan bahwa pihaknya sedang berdiskusi dengan Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM serta Deputi Intelijen Ekonomi BIN guna menemukan cara untuk mengamankan nilai tambah dari sektor minerba.

"Dengan Pak Tri Winarno, Dirjen Minerba dan Deputi Ekonomi BIN, kami sedang berdiskusi, ada perintah informal dulu, bagaimana kami bisa men-secure lebih banyak value added di Indonesia," ujarnya dalam acara diskusi bertajuk 'Meneropong Tax Gap & Efektivitas Tata Kelola Fiskal Sektor Minerba'.

Subsektor Nikel yang Menjadi Perhatian Utama

Salah satu subsektor minerba yang menjadi fokus utama Bimo adalah nikel. Mineral dengan cadangan terbesar di Indonesia itu, menurutnya, merupakan komoditas yang memiliki multiplier effect yang besar. Contohnya, biaya produksi hingga pemurnian (smelting) nikel. Namun, ia mengakui bahwa upaya mengumpulkan nilai tambah dari nikel masih terkendala oleh birokrasi dan ekonomi biaya tinggi.

"Ya kami bukan-bukaan aja. Jadi ekonomi biaya tinggi, perizinan biaya tinggi. Mau ada inisiasi Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, ternyata harus masuk jendela-jendela. Harus ngetuk jendelanya, buka dong, harus ada pelancar-pelancar, pelicin-pelicin di di jendela itu. Mau di kabupaten/kota, provinsi, kementerian," ungkapnya.

Potensi Besar Minerba di Indonesia

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Penerimaan Minerba Kementerian ESDM Totoh Abdul Fatah menyampaikan bahwa potensi minerba di Indonesia cukup besar. Mulai dari batu bara, bauksit, nikel, tembaga, emas, dan perak. Indonesia merupakan pemilik cadangan nikel terbesar dunia dengan total cadangan sebesar 5,9 miliar ton dan umur cadangan bijih sekitar 31 tahun.

Untuk batu bara, meskipun duduk di posisi ketujuh sebagai pemilik cadangan terbesar dunia, Indonesia memiliki total cadangan sebesar 31,95 miliar ton dengan umur cadangan 46 tahun. Data ESDM juga menunjukkan adanya 4.252 badan usaha yang memiliki perizinan pertambangan hingga November 2025.

Pemegang izin usaha pertambangan (IUP) terbanyak adalah 4.015 izin, meliputi 1.777 izin untuk mineral logam dan batu bara, serta 2.238 izin untuk mineral nonlogam dan batuan.

Produksi Nikel dan Batu Bara

Sampai dengan 14 November 2025, produksi nikel mencapai 78.360 ton untuk nikel matte, 481.540 ton untuk feronikel, dan 250,5 juta ton untuk bijih nikel. Produksi bijih nikel tersebut sudah melampaui target produksi tahun ini yaitu 190,07 juta ton.

Sementara itu, realisasi produksi batu bara sampai dengan Oktober 2025 mencapai 661,18 juta ton. Porsi terbesar produksi emas hitam itu dialokasikan untuk ekspor yakni 421,92 juta ton (senilai US$24,43 miliar), sedangkan untuk domestik 180,98 juta ton.

Toto menyampaikan bahwa industri batu bara juga tengah menghadapi tren penurunan harga batu bara acuan (HBA). Sampai dengan Oktober 2025, rata-rata HBA 2025 adalah US$111,24 per ton, yang merupakan level terendah sejak 2021.

Kontribusi Minerba terhadap APBN

Kontribusi minerba terhadap APBN cukup besar, terutama pada 2022, saat harga batu bara mencapai US$300 per ton. Pada masa itu, kontribusi minerba mencapai Rp183,5 triliun (PNBP).

Setoran PNBP dari batu bara mendominasi sektor minerba, yaitu sebesar 69%. Diikuti oleh nikel, emas, dan tembaga. Pada 2025, secara keseluruhan PNBP minerba ditargetkan masuk ke APBN senilai Rp124,71 triliun. Realisasi sampai dengan 14 November 2025 sudah mencapai Rp108 triliun. "Per akhir November kami sudah mencapai Rp120 triliun, artinya 95% [tinggal] Rp4 triliun, kami mencapai 100% untuk 2025," pungkasnya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan