
Kebutuhan Jalan Tol di Sumatera Utara
Pemerintah memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, terutama di wilayah Sumatera. Rehabilitasi pasca bencana menjadi salah satu prioritas utama. Tapi ada juga masalah lain yang membutuhkan perhatian serius, khususnya di Sumatera Utara. Masalah ini juga butuh dana besar, meski tidak harus disediakan dalam waktu dekat. Dapat ditunda hingga tahun 2028.
Yang lebih mendesak saat ini adalah keputusan untuk membangun jalan tol antara Medan dan Berastagi (Kebanjahe). Jalan sepanjang 65 km ini memiliki biaya sekitar Rp20 triliun, tetapi tidak sepenuhnya harus dari APBN. Investor bisa menjadi sumber pendanaan. Yang dibutuhkan saat ini adalah kepastian dan keputusan. Caranya bisa dicari selama pemerintah bersedia mengambil langkah tegas.
Saya melalui rute Medan-Berastagi beberapa waktu lalu, menjelang hari Natal. Perjalanan yang hanya 65 km berlangsung selama lima jam. Sangat menjengkelkan, terutama karena saya datang dari Jawa yang sudah terbiasa dengan jalan yang lebar dan lancar. Meski merasa jengkel, saya mencoba berpikir positif. Rakyat Sumatera Utara tampak sangat sabar. Saya pikir orang Batak biasanya keras, tapi ternyata mereka bisa bertahan dengan kondisi jalan yang buruk tanpa menunjukkan kemarahan.
Jalan-jalan nasional di Sumatera Utara seperti dari Berastagi ke Sidikalang atau Aceh Singkil juga dalam kondisi yang sama. Jalan negara yang seharusnya memiliki lebar minimal 7 meter hanya memiliki lebar 4,7 meter. Di beberapa titik, jalan desa di Jawa lebih lebar daripada jalan nasional ini. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah belum memenuhi standar yang telah ditetapkan.
Berastagi merupakan pusat buah, sayur, dan holtikultura Sumatera Utara. Setara dengan Pangalengan di Jabar atau Batu di Jatim. Pada masa Orde Baru, harga cabe keriting di Berastagi sering disebut sebagai ukuran nasional. Namun, kondisi jalan yang buruk menghambat distribusi produk pertanian tersebut.
Pemerintah sudah memberi beberapa infrastruktur jalan tol di Sumatera Utara, seperti Medan-Belawan dan Medan-Kualanamu. Presiden Jokowi juga telah menyambungkan jalan tol tersebut hingga Binjai. Meski begitu, ruas Medan-Berastagi masih sangat mendesak untuk diperbaiki.
Universitas Sumatera Utara (USU) telah melakukan studi awal tentang pembangunan jalan tol ini. Studi ini dipimpin oleh Prof Dr Johannes Tarigan dari fakultas teknik sipil. Hasil prastudi ini cukup tebal, dan menawarkan empat pilihan rute. Yang paling direkomendasikan adalah dari Tanjung Merawa ke Berastagi. Dengan demikian, orang dari Berastagi yang ingin ke bandara bisa lebih dekat.
Di prastudi itu juga diusulkan adanya tiga exit: Pancur Batu, Sibolangit, dan Sempajaya sebelum akhirnya sampai ke Berastagi. Meski usulan ini sudah ada, sampai saat ini belum ada keputusan resmi yang diambil oleh pemerintah.
Beberapa waktu lalu, saya menerima surat dari Gubernur Sumut, Muhammad Bobby Afif Nasution. Surat ini dikirim pada 31 Juli 2025 dan berisi usulan pembangunan jalan tol yang saya maksud. Sayangnya, surat ini hanya ditindaklanjuti kepada beberapa menteri dan pejabat lainnya, bukan kepada Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Mungkin ada alasan tertentu, namun hal ini menunjukkan bahwa pembangunan jalan tol ini belum menjadi prioritas utama.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar