Jane Natalia Kembangkan Pertanian Terintegrasi, Serap 50 Tenaga Kerja Lokal

Jane Natalia Kembangkan Pertanian Terintegrasi, Serap 50 Tenaga Kerja Lokal

Pengembangan Pertanian Terintegrasi di Belu, Membuka Peluang Kerja bagi Warga Lokal

Pengembangan Kebun Jane di Desa Fatubaa, Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, menjadi salah satu penggerak ekonomi baru di wilayah perbatasan RI-RDTL. Kebun yang dibangun oleh Jane Natalia Suryanto ini tidak hanya meningkatkan produksi hortikultura, tetapi juga membuka lapangan kerja baru bagi warga lokal.

Kebun dengan luas 11 hektar lebih ini kini tengah memperkerjakan 50 warga lokal. Tempat ini menjadi pusat inovasi pertanian modern yang kini tengah mengembangkan sektor pertanian, peternakan dan perikanan.

Menurut Jane, kebun tersebut dibangun dari mimpi untuk menciptakan pertanian terintegrasi dengan manajemen modern, sekaligus membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.

Kebun Jane lahir dari mimpi untuk menghadirkan pertanian integrasi dengan pengelolaan modern. Bukan hanya pertanian, tetapi juga peternakan dan perikanan darat yang akan dimanfaatkan secara baik, ujar Sis Jane yang akrab disapa seperti dikutip Pos Kupang, Jumat (12/12/2025).

Kedepan, Ia menargetkan Kebun Jane menjadi pusat penelitian dan wisata edukasi bagi mahasiswa, dosen, dan publik. Ia tengah menyiapkan konsep integrated farming yang menggabungkan perkebunan, peternakan, dan perikanan darat dengan bibit-bibit unggulan dari luar negeri.

"Kami ingin kebun ini bukan hanya pusat pertanian, tetapi juga pusat penelitian. Kami akan uji coba berbagai bibit baru yang belum pernah ditanam di NTT," tegas Jane.

Berbagai Komoditas yang Ditanam di Kebun Jane

Sementara itu, Koordinator Kebun Jane Belu, Abzamzo Kase, menyampaikan bahwa untuk cabai Kebun Jane menanam 20.000 pohon, dengan produksi terakhir mencapai 3,7 ton, dan menargetkan kenaikan produksi menjadi 10 ton.

Cabai yang ditanam 20 ribu pohon. Panen terakhir 3,7 ton, dan target ke depan kita naikkan sampai 10 ton, jelas Kase.

Di komoditas tomat, terdapat 10 blok, masing-masing berisi total 17.000 pohon pada panen tahap pertama. Kemudian, pada panen tahap kedua, terdapat 15.000 pohon yang memasuki fase generatif.

"Panen tomat kita susun bergelombang supaya produksi tidak pernah putus. Dengan pola ini, suplai ke pasar bisa stabil, ujarnya.

Untuk buah semangka, lanjutnya, kebun ini menanam beberapa varietas sekaligus mulai dari hanisemka kuning, semangka hijau, hingga uji coba varietas ungu, biru, dan raksasa. Selain itu, terdapat 1.100 pohon pisang Cavendish (Cafendi) yang bibitnya didatangkan dari Asahan, Sumatra.

Penerapan Teknologi Modern dalam Produksi

Abzamzo menambahkan bahwa Kebun Jane kini mulai mengembangkan sistem produksi modern.

"Untuk memperkuat inovasi, kebun ini mulai menerapkan hidroponik untuk tanaman stroberi, dan kami bekerja sama dengan dosen Politani Kupang, terangnya.

"Tingginya permintaan dari pedagang Timor Leste membuat hasil panen Kebun Jane laris manis. Tomat hampir seluruhnya dibeli pedagang dari negara tetangga tersebut, sedangkan cabai dan semangka dibagi antara pasar lokal dan pasar ekspor ke Timor Leste," tambahnya.

Ia juga menegaskan harga jual yang diterapkan Kebun Jane mengikuti harga pasar mulai Cabai Dewata Rp30.000/kg, Tomat Rp300.000-Rp320.000 per keranjang Semangka hijau Rp10.000 per buah dan Semangka kuning lebih mahal karena varietasnya langka dan biaya perawatan tinggi.

Harga kita ikuti harga pasar. Tomat masih 100 persen dibeli pedagang Timor Leste. Cabai juga banyak diambil dari sana, jelasnya.

Pemberdayaan Masyarakat Lokal

Kebun Jane menjadi ruang pemberdayaan bagi masyarakat sekitar, terutama ibu-ibu yang bekerja memetik cabai dan tomat. Jane memastikan seluruh pekerja menerima gaji penuh tanpa potongan karena kebutuhan makan dan minum ditanggung oleh kebun.

Selain pemberdayaan ibu-ibu, puluhan pekerja laki-laki juga dilibatkan dalam pembukaan lahan, penanaman hingga panen.

Salah satu pekerja, Migel Dakosta, warga Tialai, mengaku bersyukur bisa bekerja di Kebun Jane dengan gaji Rp2,4 juta per bulan.

Kami senang karena ada perusahaan yang buka di sini. Dari Januari saat pertama bongkar lahan, kami datang 10 orang untuk mulai bekerja. Sekarang sudah 8 bulan saya kerja, ujar Miguel.

Gaji Rp2,4 juta sebulan sangat membantu untuk masa depan kami sebagai masyarakat sini," tambahnya.

Migel menceritakan bahwa sejak awal pembukaan lahan, pekerja lokal dilibatkan dalam pembersihan kayu, penataan blok tanaman, hingga pengembangan lokasi menjadi area produksi hortikultura.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan