
Penipuan di WhatsApp yang Harus Diwaspadai
WhatsApp, salah satu aplikasi pesan instan paling populer, kini menjadi target bagi para penipu yang menggunakan berbagai modus untuk mengelabui pengguna. Dua kasus penipuan yang sedang marak terjadi adalah penipuan modus QRIS dan scam lewat fitur share screen. Berikut penjelasannya:
Fitur Share Screen: Modus Penipuan Terbaru
Salah satu cara yang digunakan oleh penipu adalah melalui fitur share screen di WhatsApp. Fitur ini memungkinkan pengguna membagikan tampilan layarnya kepada lawan bicaranya. Dengan memanfaatkan fitur ini, penipu bisa melihat aktivitas pengguna secara real-time.
Menurut laporan FBI, pelaku penipuan di Amerika Serikat menggunakan trik yang disebut phantom hacker scam. Awalnya, korban menerima telepon atau pesan yang berpura-pura berasal dari bank. Dengan alasan akun sedang diretas, korban diarahkan untuk segera memindahkan uang ke rekening "aman".
Penipu akan memanipulasi dan menuntun korban agar mau percaya dan mengikuti langkah-langkah yang diberikan. Korban akan diarahkan untuk berpindah ke panggilan WhatsApp dengan dalih lebih aman. Di sanalah pelaku meminta korban mengaktifkan fitur share screen WA. Begitu korban membagikan layar saat video call, penipu dapat melihat semua aktivitas di ponsel secara real-time, termasuk isi chat, foto, kode OTP (One Time Password), informasi sensitif lain, termasuk informasi aplikasi finansial (nomor rekening, PIN, dll).
"Cukup satu klik salah, dan mereka bisa melihat segalanya di layar smartphone Anda," tulis FBI dalam peringatannya. Dengan data pribadi tersebut, penipu bisa mengambil alih akun korban, menguras rekening, atau menyalahgunakan data pribadi.
Modus Scan QRIS: Penipuan Melalui Transaksi Online
Selain itu, kasus penipuan modus scan QRIS juga viral setelah salah satu korbannya curhat di media sosial. Curhatan tersebut berupa video yang diunggah oleh akun Instagram @uptodateinfo pada Sabtu (5/7/2025). Di dalam video itu, seorang perempuan menceritakan bahwa dirinya telah menjadi korban penipuan dan mengalami kerugian sebesar Rp 1.010.000.
Peristiwa penipuan tersebut terjadi setelah dirinya berbelanja sampo seharga Rp 10.000 di aplikasi TikTok. Setelah itu, ada nomor WhatsApp yang mengaku dari pihak ekspedisi menghubunginya. Pelaku mengaku bahwa paket atas nama korban salah kirim atau tertukar dengan pelanggan yang lain. Pelaku juga mengirimkan nomor resi palsu kepadanya.
Pelaku pun meminta korban untuk scan barcode QRIS yang telah disediakan oleh pelaku. Sebelum scan, sang korban diminta login ke akun mobile banking Mandiri miliknya terlebih dahulu. Setelah berhasil masuk ke Mandiri, korban scan barcode tersebut dan muncul nominal sebesar Rp 1.010.000. Akhirnya, korban merasa aneh dan mengecek saldo, ternyata saldonya terpotong sebesar Rp 1.010.000.
Terkait kasus tersebut, Pakar keamanan siber, Alfons Tanujaya menyebut, pelaku menggunakan modus penipuan QRIS Transfer. Dia mengungkapkan ada dua metode dalam QRIS, yakni QRIS Bayar dan QRIS Transfer.
“Bedanya kalau QRIS Bayar, kita scan QRIS dari penjual, bisa QRIS statis (nominal pembayaran bisa diatur) atau QRIS dinamis (nominal sudah tertera dalam pembayaran),” kata dia kepada Kompas.com, Senin (7/7/2025). “Kalau QRIS Transfer, kita scan QRIS dari pengguna QRIS yang lain dan akun kita terdebet (langsung). Terdebet artinya akun kita ditarik dananya,” sambungnya.
Alfons mengimbau agar masyarakat bisa lebih berhati-hati setiap kali melakukan transaksi terhadap barang-barang murah di media sosial atau e-commerce. Masyarakat juga harus lebih berhati-hati kepada siapapun yang menghubungi, apalagi yang hingga meminta scan kode QR atau data, serta menjalankan aplikasi, dan hal-hal lainnya. “Karena transaksinya rentan digunakan untuk rekayasa sosial,” pungkas Alfons.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar