
Sejarah Dramatis Kepemimpinan Nicolás Maduro
Nicolás Maduro, seorang pria berusia 63 tahun yang awalnya bekerja sebagai sopir bus dan aktivis serikat pekerja, kini harus menghadapi masa depan yang sangat berbeda. Pada hari Sabtu (3/1/2026), pasukan khusus Amerika Serikat menangkapnya, mengakhiri era kekuasaannya di Venezuela selama hampir 14 tahun.
Pengakuan terhadap peran Maduro dalam politik Venezuela tidak bisa dipisahkan dari warisan ideologis mantan Presiden Hugo Chávez. Namun, di bawah kepemimpinannya, "Revolusi Sosialis" yang dicanangkannya justru membawa negara tersebut ke jurang kehancuran ekonomi, hiperinflasi, dan eksodus besar-besaran warga yang mencoba menghindari represi dan kemiskinan sistemik.
Jejak Karier yang Kontroversial
Lahir pada 23 November 1962, Maduro tidak memiliki latar belakang pendidikan formal yang tinggi. Ia memperoleh insting politiknya melalui pengalaman langsung di jalanan El Valle, Caracas, sebelum sempat menimba ilmu politik singkat di Kuba pada tahun 1986.
Kesetiaannya kepada Hugo Chávez membawanya dari posisi pemimpin serikat pekerja kereta bawah tanah ke jabatan menteri luar negeri, wakil presiden, dan akhirnya menjadi suksesor Chávez pada tahun 2013. Meskipun demikian, masa pemerintahannya selalu dihiasi oleh krisis. Mulai dari tahun 2014, ia menghadapi gelombang protes besar-besaran yang dipimpin tokoh oposisi seperti María Corina Machado, pemenang Nobel Perdamaian.
Respons brutal dari pasukan keamanan terhadap demonstran memicu penyelidikan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Eskalasi Menuju Titik Akhir
Meskipun sempat selamat dari upaya pembunuhan menggunakan drone pada tahun 2018 dan menghadapi sanksi ekonomi era Donald Trump, manuver politik Maduro semakin terjepit. Puncaknya terjadi setelah pemilihan presiden 2024, di mana hasil pemungutan suara menunjukkan indikasi kecurangan masif yang tidak diakui oleh dunia internasional.
Kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih pada Januari 2025 mempercepat eskalasi militer di Karibia. AS, yang fokus pada pemberantasan "narko-terorisme", akhirnya mengambil langkah drastis dengan melakukan operasi penangkapan terhadap Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, yang dikenal sebagai sosok berpengaruh di balik layar kekuasaan.
Sekarang, sang mantan sopir bus tersebut menghadapi dakwaan berat terkait perdagangan narkotika internasional.
Akhir Era Penindasan
Bagi rakyat Venezuela, jatuhnya Maduro merupakan akhir dari sebuah era penindasan, sekaligus awal dari penantian panjang akan keadilan dan pemulihan negara yang pernah berjaya di sektor minyak tersebut.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar