Jejak Dua Pesantren Terkenal di Blitar, Satu Bersejarah Perlawanan Melawan Penjajahan Belanda

Jejak Dua Pesantren Terkenal di Blitar, Satu Bersejarah Perlawanan Melawan Penjajahan Belanda

Sejarah dan Peran Pesantren di Kabupaten Blitar

Kabupaten Blitar memiliki peran penting dalam sejarah Islam di Indonesia, khususnya dalam penyebaran ajaran agama dan perlawanan terhadap penjajahan. Di wilayah ini berdiri dua pesantren yang telah menjadi saksi bisu perjuangan dan perkembangan Islam. Kedua pesantren tersebut adalah Pondok Pesantren Nurul Huda dan Pondok Pesantren Nabawi Maftahul Ulum.

Pondok Pesantren Nurul Huda

Pondok Pesantren Nurul Huda yang terletak di Desa Kuningan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, dipercaya sebagai titik awal penyebaran Islam di Tanah Blitar. Pesantren ini diperkirakan berdiri pada pertengahan abad ke-19 dan didirikan oleh Syekh Abu Hasan, seorang ulama yang memiliki hubungan keluarga dengan Pangeran Diponegoro.

Pesantren ini menyimpan banyak jejak sejarah yang masih terawat hingga kini. Bangunan masjid tua, makam para ulama, kolam, serta rumah-rumah kuno masih berdiri kokoh dan mempertahankan keaslian arsitekturnya. Menurut Hasan Bisri, generasi keempat Syekh Abu Hasan, pesantren ini pernah menjadi tempat perlindungan bagi 158 prajurit Pangeran Diponegoro yang melarikan diri saat Perang Jawa berkecamuk.

Di kawasan pesantren terdapat sebuah kolam yang dahulu digunakan para ulama untuk mensucikan diri sebelum beribadah di masjid. Kolam ini memiliki nilai historis tinggi karena diyakini pernah digunakan oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama. Hubungan antara Syekh Abu Hasan dan KH Hasyim Asyari juga tercatat sebagai relasi guru dan murid.

Menariknya, kolam dan masjid Nurul Huda dihubungkan oleh jalur batu berjumlah 99 buah, yang melambangkan Asmaul Husna. Letaknya tidak jauh dari sungai dan berjarak sekitar 50 meter dari masjid, memperkuat kesan sakral dan spiritual kawasan pesantren tersebut.

Hingga kini, Pondok Pesantren Nurul Huda masih menjadi destinasi ziarah religi. Sejumlah pengunjung datang dari berbagai daerah untuk merasakan ketenangan sekaligus menyerap nilai sejarah yang tersimpan di dalamnya.

Pondok Pesantren Nabawi Maftahul Ulum

Keberadaan pesantren di Nusantara sejak masa lalu bukan hanya sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga pusat perlawanan kultural dan spiritual terhadap penjajah. Dari pesantren lahir para ulama, tokoh bangsa, dan pejuang yang menjaga ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus mempertahankan identitas bangsa.

Pondok Pesantren Nabawi Maftahul Ulum menjadi salah satu contoh pesantren yang meneruskan misi tersebut. Meski secara administratif baru berdiri pada 31 Januari 2018 atau bertepatan dengan 14 Jumadil Awal 1439 Hijriah, pesantren ini sesungguhnya merupakan kelanjutan dari perjuangan dakwah yang telah dirintis sejak generasi terdahulu.

Pesantren ini didirikan oleh Ustadz Abul Fatih Zakaria bersama istrinya, Ustadzah Azizatul Lailiah, sebagai ikhtiar melanjutkan amanah dakwah yang pernah dicanangkan oleh eyang buyutnya, Syekh KH Imam Bukhori. Dalam waktu relatif singkat, Pondok Pesantren Nabawi Maftahul Ulum berhasil memperoleh kepercayaan luas dari masyarakat. Jumlah santri terus bertambah dan kini mencapai sekitar 600 orang.

Pesantren ini juga kerap menerima kunjungan tokoh-tokoh dari dalam maupun luar negeri, menandakan eksistensinya yang semakin diperhitungkan. Sebagai lembaga pendidikan Islam, Pondok Pesantren Nabawi Maftahul Ulum mengelola berbagai jenjang pendidikan formal dan nonformal, mulai dari SMP dan SMA, madrasah diniyah, hingga madrasah tahfiz Al-Quran.

Meski masih memiliki keterbatasan fasilitas, pesantren ini tetap mampu mencetak prestasi, baik dalam bidang keagamaan maupun non-akademik. Program unggulan pesantren ini menitikberatkan pada penguatan ilmu alat seperti nahwu dan sharaf melalui metode Al-Muyasar agar santri mampu membaca kitab kuning secara cepat dan mudah.

Selain itu, program tahfiz Al-Quran menjadi pilar utama dalam membentuk generasi Qurani yang berakhlak dan berilmu. Pesantren ini juga membekali santri dengan pencak silat sebagai upaya membangun mental, keberanian, serta melestarikan warisan budaya bangsa.

Dalam kehidupan keseharian, santri dibiasakan mengamalkan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah seperti maulid, ziarah kubur, dan ziarah wali. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting agar para santri mampu menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati diri keislaman dan kebangsaan. Melalui berbagai kegiatan dakwah kemasyarakatan, Pondok Pesantren Nabawi Maftahul Ulum terus berupaya menyebarkan Islam moderat yang ramah dan membumi.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan