
Pengangkatan John Herdman sebagai Pelatih Timnas Indonesia: Optimisme dan Tantangan
Pengangkatan John Herdman sebagai pelatih tim nasional (timnas) Indonesia pada Sabtu (3/1/2026) menimbulkan berbagai reaksi. Di satu sisi, banyak orang merasa optimis karena rekam jejaknya yang terbukti dalam membangun tim sepak bola di berbagai negara. Namun, di sisi lain, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan oleh para penggemar sepak bola Indonesia.
John Herdman adalah pelatih asal Inggris yang memiliki kualitas yang tidak diragukan lagi. Ia pernah membawa timnas putri U21 Selandia Baru ke Piala Dunia dan juga membawa timnas putri senior Selandia Baru ke Piala Dunia dua kali. Selain itu, ia juga sukses membawa timnas putri Kanada meraih medali perunggu di Olimpiade London 2012 dan Rio de Janeiro 2016. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan taktik dan kepemimpinannya sangat baik.
Selain prestasi di sektor putri, John Herdman juga berhasil membawa timnas putra Kanada kembali ke Piala Dunia setelah lama absen. Meskipun di Piala Dunia 2022 Qatar, ia dianggap melakukan strategi yang kurang tepat dengan terlalu fokus pada serangan tanpa memperhatikan pertahanan. Akibatnya, timnas Kanada kalah dari Kroasia, Maroko, dan Belgia di babak penyisihan.
Namun, menurut pengamat sepak bola nasional Gita Suwondo, kegagalan tersebut tidak sepenuhnya bisa disalahkan pada Herdman. Menurutnya, lawan yang dihadapi sangat kuat, sehingga performa Herdman tetap perlu dinilai secara objektif. “Terbukti Maroko dan Kroasia akhirnya sampai semifinal. Itu gambaran secara kualitas dia oke walaupun di turnamen besar putra dia belum berbuat banyak,” ujarnya.
Catatan Serius di Mata Pengamat
Di luar aspek taktik dan prestasi, ada satu hal yang mengganjal bagi pengamat sepak bola. Menurut Gita Suwondo, yang biasa disapa Bung GAZ, John Herdman pernah diduga melakukan tindakan yang tidak etis dengan memata-matai lawan.
Kasus ini muncul ke publik saat Olimpiade 2024, meskipun saat itu Herdman tidak sedang menjabat sebagai pelatih timnas putri Kanada. Menurut Gita, kasus ini terungkap karena adanya penggunaan drone untuk memata-matai lawan. Saat ditanya wartawan dan FIFA, pelatih Kanada menjawab bahwa hal ini sudah menjadi kebiasaan timnas putra dan putri Kanada sejak ditangani Herdman.
Saat itu, Herdman sedang menangani Toronto FC dan reputasinya mulai terganggu. “Karena itu dianggap sebagai kecurangan oleh media Kanada. Nah yang tidak dimaafkan oleh media Kanada adalah kelakuannya dia saat menjadi pelatih tetapi secara prestasi oke,” pungkasnya.
Kesimpulan
Pengangkatan John Herdman sebagai pelatih timnas Indonesia memberikan harapan baru bagi sepak bola Indonesia. Namun, selain melihat prestasi dan kualitasnya, masyarakat juga perlu memperhatikan catatan non-teknis yang mungkin memengaruhi kredibilitasnya. Dengan kombinasi antara pengalaman dan kesadaran akan tantangan yang ada, semoga John Herdman dapat membawa perubahan positif bagi sepak bola Indonesia.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar