Jejak Kritik DJ Donny hingga Zainal Arifin Mochtar yang Diteror

Kritik terhadap Pemerintah dan Ancaman yang Mengancam

Beberapa tokoh masyarakat, termasuk influencer, aktivis, hingga akademisi, mengalami berbagai bentuk ancaman dan teror setelah menyampaikan kritik terhadap pemerintah. Teror ini melibatkan berbagai cara, mulai dari pelemparan telur busuk ke rumah, vandalisme kendaraan, pemecahan kaca, hingga pengiriman bangkai ayam dan ancaman telepon penangkapan.

Tokoh yang Menyampaikan Kritik

Banyak dari mereka memiliki kesamaan dalam menyampaikan kritik terhadap pemerintah, terutama dalam hal komunikasi publik. Mereka menilai bahwa cara pemerintah dalam menyampaikan informasi tentang penanganan bencana, seperti banjir di Sumatera, dinilai tidak peka terhadap perasaan dan empati publik.

Contohnya adalah DJ Donny, yang mengkritik cara pemerintah dalam mengkomunikasikan status penanganan kebencanaan. Ia menyebutkan bahwa para influencer yang turun langsung ke lokasi, seperti Ferry Irwandi, mendapatkan lebih banyak simpati karena menyampaikan progres dengan baik. Dalam sebuah podcast Denny Sumargo, ia secara keras menyoroti pentingnya perbaikan komunikasi publik pemerintah.

Virdian Aurellio Hartono juga mengkritik cara pemerintah dalam menghadapi bencana. Dalam talkshow di Kompas TV, ia menyampaikan bahwa Gen-Z tidak lagi percaya pada cara-cara pemerintah dalam mengantisipasi bencana. Ia menilai bahwa pemerintah seharusnya tidak hanya mengandalkan influencer untuk membuka donasi kebencanaan, tetapi lebih baik mengembalikan dana korupsi lingkungan yang jumlahnya mencapai ratusan triliun.

Sherly Annavita juga mengkritik sikap pemerintah yang menolak bantuan dari pihak asing dalam penanganan bencana. Ia merasa aneh dengan sikap legislatif yang dinilai sengaja membenturkan antara warga sipil yang saling membantu dan upaya pemerintah. Ia juga menyampaikan kekecewaan atas standar ganda pemerintah terhadap bantuan asing dan tenaga kerja asing.

Aktivis Lingkungan yang Menghadapi Teror

Iqbal Damanik, Manajer Kampanye Iklim dan Energi dari Greenpeace, juga mengalami teror. Pada 30 Desember 2025, rumahnya kedatangan paket misterius berisi bangkai ayam dan surat yang berisi ancaman. Ia dikenal sebagai aktivis lingkungan yang kritis terhadap kerusakan ekologi dan deforestasi di Indonesia.

Ia sering melontarkan kritik terhadap pemerintah, terutama terkait dengan pemberian konsesi tambang kepada organisasi masyarakat (Ormas). Perdebatannya dengan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Ulil Abshar Abdala sempat menjadi sorotan publik dan memunculkan istilah populer "wahabi lingkungan".

Akademisi yang Kena Ancaman

Zainal Arifin Mochtar, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, juga mengalami teror. Uceng, sapaan karibnya, menerima ancaman telepon penangkapan dua kali dalam sehari. Peristiwa ini terjadi pada 2 Januari 2026 dan ia unggah melalui laman media sosial Instagram.

Uceng dikenal sebagai sosok akademisi yang kritis terhadap pemerintah, terutama dalam hal pemajuan demokrasi. Beberapa karya kritiknya termasuk film dokumenter bersama ahli hukum tata negara lainnya, Bivitri Susanti dan Feri Amsari, dengan judul Dirty Vote.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan