
Keberadaan Bank Keliling di Jakarta
Bank keliling, atau yang dikenal dengan sebutan "bangke", masih terus eksis di Jakarta dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan oleh tingginya permintaan masyarakat akan layanan pinjaman uang yang mudah dan cepat. Layanan ini menawarkan jasa pinjaman tanpa persyaratan yang rumit, sehingga banyak warga memilihnya sebagai solusi ketika menghadapi kesulitan ekonomi.
Untuk meminjam uang, warga hanya perlu menyerahkan KTP dan menandatangani surat perjanjian. Dalam waktu kurang dari satu hari, uang pinjaman bisa langsung cair. Tak heran, banyak warga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah kerap bergantung pada layanan bank keliling.
Pengalaman Warga dengan Bank Keliling
Salah satu pengguna setia bank keliling adalah Darto (47), warga Koja, Jakarta Utara. Ia mengaku sudah bergantung pada layanan ini sejak dirinya belum menikah. Dari usia 25 hingga 27 tahun, ia sering meminjam uang untuk keperluan pribadi seperti makan dan keinginan pribadi. Setelah menikah dan memiliki tiga anak, Darto semakin mengandalkan bank keliling untuk memenuhi kebutuhan keluarga, seperti biaya sekolah, berobat, dan keperluan lainnya.
Pendapatannya sebagai tukang servis jam sering kali tidak cukup untuk membiayai kebutuhan hidup anak dan istrinya. Akibatnya, Darto kini meminjam uang dari tiga bank keliling berbeda karena kebutuhan ekonomi yang mendesak. Untuk pinjaman senilai Rp 2.000.000, ia harus mencicil Rp 60.000 per hari selama 40 hari. Sementara itu, dua pinjaman senilai Rp 1.000.000 dibayar cicilan per hari sekitar Rp 30.000 selama 40 hari.
Darto mengatakan, masing-masing bank keliling memiliki ketetapan bunga yang berbeda-beda, ada yang hanya 20 persen, ada pula 30 persen. Meski demikian, ia merasa tak keberatan dengan besaran bunga tersebut karena persyaratan meminjam yang dianggap mudah dan cepat.
Bank Keliling sebagai "Dewa Penolong"
Setelah belasan tahun bergantung, Darto menilai bank keliling merupakan “dewa penolong” baginya. Ia menyebutnya sebagai penyelamat saat kondisi ekonomi terdesak. Di sisi lain, ketika terlambat membayar, ia mengaku petugas bank keliling jarang bersikap nekat ke nasabahnya. Karena itu, Darto merasa tak khawatir jika pada hari tertentu ia tak bisa membayar cicilan utangnya.
Sama seperti Darto, warga lain bernama Ria (58) juga menilai bunga pinjaman di bank keliling tidak terlalu mencekik karena proses pencairannya yang mudah. Ia mulai mengandalkan bank keliling sejak dirinya berdagang nasi uduk pada 2002. Ketika kehabisan modal, ia meminjam uang dari bank keliling dan membayarnya secara dicicil.
Cara Kerja Bank Keliling
Salah satu cara kerja bank keliling adalah terus menawarkan pinjaman agar nasabah tetap bergantung. Semakin banyak nasabah, semakin besar pula pendapatan bank keliling. Salah satu bos bank keliling bernama Carlos (38) mengatakan bahwa pendapatan mereka tergantung dari jumlah nasabah yang dimiliki. Petugas bank keliling bernama Roni (bukan nama sebenarnya, 24) juga mengaku pendapatannya tergantung dari jumlah nasabah yang dimiliki.
Namun, pendapatan mereka juga bisa terpotong apabila ada nasabah yang tidak lancar membayar cicilan. Meski begitu, para petugas tetap berkeliling menawarkan pinjaman dari rumah ke rumah, bahkan tidak ragu memberikan pinjaman baru kepada nasabah yang baru selesai melunasi utangnya.
Sulit Mendapatkan Pinjaman dari Bank Resmi
Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad menilai, bank keliling masih eksis sampai saat ini karena banyak masyarakat kesulitan mendapatkan pinjaman dari bank resmi. Persyaratan dan proses yang sulit menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat yang ingin meminjam uang ke bank resmi. Alhasil, mereka memilih untuk mengambil jalan pintas dan menggunakan jasa bank keliling karena prosesnya yang mudah dan cepat.
Sulit Diregulasi
Menurut Tauhid, bank keliling sulit diatur karena merupakan bisnis perorangan. Untuk membuat regulasi, pemerintah harus mendorong praktik ini menjadi usaha formal. Namun, pemerintah tetap perlu membuat regulasi agar ada kepastian keamanan dan batasan bunga agar tidak mencekik warga.
Di sisi lain, keberadaan pinjaman online resmi dan berbunga lebih rendah sebenarnya sudah hadir di tengah masyarakat. Namun, karena banyak masyarakat yang belum melek terhadap teknologi, mereka tetap mengandalkan bank keliling saat membutuhkan uang. Meski sulit diregulasi, pemerintah tetap diminta turun tangan untuk membatasi beropersinya bank keliling, mengingat bunganya yang besar dan merugikan masyarakat tanpa sadar.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar