Kanker akan melonjak di 2050, ini penyebab utamanya

Penelitian Kanker Global: Tren yang Mengkhawatirkan dan Ancaman yang Menyebar


Sebuah studi kanker terbaru mengungkapkan bahwa pola penyebaran dan tingkat kematian akibat penyakit tersebut di berbagai negara terus meningkat. Bukan hanya menyerang lansia, tetapi juga semakin banyak anak muda yang terkena dampaknya. Studi ini menunjukkan perubahan signifikan dalam persepsi tentang kanker sebagai penyakit yang sebelumnya dianggap hanya menyerang kalangan berpenghasilan tinggi.

Vikram Niranjan, asisten profesor di Public Health, School of Medicine, University of Limerick, menjelaskan bahwa selama ini wabah penyakit menular atau resistensi antimikroba sering disebut sebagai krisis kesehatan global. Namun, ada krisis lain yang lebih senyap, yaitu kanker. Penelitian ini menunjukkan bahwa kanker telah menjadi ancaman global yang meningkat di semua wilayah dunia, bahkan di negara-negara dengan sumber daya terbatas.

Perubahan Dalam Pola Penyakit Kanker

Studi yang dilakukan oleh tim peneliti dari Global Burden of Disease 2023 Cancer menemukan bahwa kanker tidak lagi terkonsentrasi di negara-negara berpenghasilan tinggi. Sebaliknya, beban terbesar kanker justru dialami oleh negara-negara berpendapatan rendah dan menengah. Hal ini didorong oleh perubahan gaya hidup dan lingkungan yang cepat, ditambah dengan populasi yang menua. Sayangnya, perubahan ini tidak diimbangi dengan penguatan sistem skrining, diagnosis, dan pengobatan.

Pada tahun 2023, diperkirakan terdapat 18,5 juta kasus kanker baru dan 10,4 juta kematian akibat kanker di 204 negara. Artinya, hampir satu dari enam kematian di dunia disebabkan oleh kanker. Lebih dari dua pertiga kematian tersebut terjadi di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah, yang mencerminkan keterbatasan akses terhadap skrining, patologi, dan terapi.

Faktor Risiko yang Bisa Diubah

Studi terbaru juga menunjukkan bahwa 41,7 persen kematian akibat kanker pada 2023 berkaitan dengan faktor risiko yang bisa diubah. Mulai dari penggunaan tembakau, konsumsi alkohol, pola makan tidak sehat, indeks massa tubuh tinggi, polusi udara, hingga paparan berbahaya di tempat kerja atau lingkungan. Ini berarti, jutaan kasus kanker sebenarnya bisa dicegah setiap tahun jika pemerintah memperkuat kebijakan kesehatan publik dan memudahkan masyarakat membuat pilihan hidup yang lebih sehat.

Pencegahan bukan hanya soal perilaku individu, tetapi juga keputusan politik, tentang apa yang bisa dibeli, dihirup, dimakan, dan dihadapi masyarakat dalam kesehariannya.

Proyeksi Masa Depan Kanker

Dengan memanfaatkan data selama tiga dekade, peneliti memodelkan tren kanker di masa depan. Hasilnya, pada tahun 2050 dunia bisa menghadapi 30,5 juta diagnosis kanker baru setiap tahun dan 18,6 juta kematian, hampir dua kali lipat dari angka saat ini. Pertumbuhan dan penuaan populasi memang berperan, tetapi perubahan gaya hidup, urbanisasi, kualitas udara, dan pembangunan ekonomi juga meningkatkan paparan risiko kanker.

Tanpa intervensi besar, tren ini akan terus berlanjut. Peneliti menyatakan bahwa menghadapi krisis ini tidak cukup dengan langkah-langkah parsial. Investasi pada deteksi dini menjadi kunci. Skrining untuk kanker payudara, serviks, dan kolorektal terbukti menyelamatkan nyawa, tetapi masih jarang tersedia di banyak negara. Pencegahan harus ditempatkan sebagai prioritas global.

Langkah-Langkah yang Diperlukan

Pengendalian tembakau, regulasi kualitas udara, pencegahan obesitas, dan perlindungan di tempat kerja sudah memiliki bukti ilmiah yang kuat, dan mendesak untuk diperkuat. Di sisi lain, sistem kesehatan perlu diperluas secara signifikan, mulai dari laboratorium patologi, tenaga onkologi terlatih, hingga akses pengobatan yang terjangkau.

Data berkualitas tinggi juga menjadi fondasi penting. Tanpa registri kanker yang kuat, negara tidak bisa merencanakan kebijakan atau mengukur kemajuan.


Kanker kini bukan lagi penyakit yang hanya menyerang usia lanjut. Di banyak wilayah, semakin banyak orang muda didiagnosis kanker yang sebelumnya identik dengan usia tua. Dampaknya meluas, bukan hanya pada kesehatan, tetapi juga pendidikan, pekerjaan, hubungan sosial, dan stabilitas finansial. Dalam sekejap, kanker berubah menjadi persoalan sosial, bukan sekadar medis.


“Masa depan sebenarnya belum ditentukan. Proyeksi kami adalah peringatan, bukan kepastian. Pembuat kebijakan, komunitas, dan masyarakat masih punya kesempatan untuk memengaruhi wajah dunia pada 2050,” ujar Niranjan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan