Kanker Kolorektal: Ancaman Tersembunyi dari Gaya Hidup Modern!

Penyakit yang Mengintai Tanpa Suara

Di tengah rutinitas harian yang semakin sibuk dan gaya hidup instan, ada penyakit yang berkembang diam-diam di dalam tubuh manusia. Kanker kolorektal, yang menyerang usus besar dan rektum, kini menjadi ancaman serius yang tidak boleh diabaikan. Setiap tahun, lebih dari satu juta kasus baru tercatat di seluruh dunia, menjadikannya salah satu kanker paling mematikan di era modern.

Ironisnya, di negara-negara berkembang seperti Indonesia, kanker kolorektal sering kali terdeteksi ketika sudah berada di tahap lanjut. Saat itu, pintu pengobatan mulai menyempit, biaya melonjak, dan harapan hidup perlahan menghilang.

Gambaran ini disampaikan oleh dr. Asri Ludin Tambunan, M.Ked (PD), Sp.PD-KGEH, dalam kegiatan edukasi kesehatan masyarakat di RSUD Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, November 2025 lalu. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

“Kanker kolorektal termasuk empat besar kanker dengan jumlah kasus terbanyak di dunia. Pada perempuan berada di posisi kedua, sementara pada laki-laki menempati urutan ketiga,” ungkap dr. Asri.

Ia menegaskan, tingkat kematian akibat kanker kolorektal di negara berkembang masih tergolong tinggi. Sekitar 60 persen penderita tidak tertolong, terutama karena penyakit baru terdeteksi saat sudah parah.

Kesadaran Rendah, Ancaman Makin Nyata

Menurut dr. Asri, yang juga menjabat sebagai Bupati Deli Serdang, persoalan terbesar bukan hanya soal fasilitas medis, melainkan rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan sejak dini.

“Mayoritas pasien datang ke rumah sakit ketika kanker sudah memasuki stadium lanjut. Padahal, deteksi dini sangat menentukan keberhasilan pengobatan,” ujarnya.

Situasi ini kerap diperparah oleh kecenderungan sebagian masyarakat memilih pengobatan alternatif lebih dahulu, didorong rasa takut terhadap tindakan medis. Akibatnya, kanker terus berkembang tanpa kendali, merusak kualitas hidup sekaligus membebani ekonomi keluarga.

“Jika kanker sudah lanjut, pengobatan menjadi jauh lebih rumit dan biayanya meningkat drastis,” katanya.

Gejala Ringan yang Kerap Dianggap Sepele

Kanker kolorektal dikenal licik. Pada fase awal, gejalanya sering samar dan menyerupai gangguan pencernaan biasa.

“Perubahan pola buang air besar, diare atau sembelit berkepanjangan, tinja bercampur darah, nyeri perut, berat badan turun tanpa sebab, hingga rasa lelah yang tidak wajar perlu diwaspadai,” jelas dr. Asri.

Sayangnya, banyak pasien baru menyadari bahaya tersebut ketika kanker telah berkembang jauh.

Pola Hidup Jadi Pemicu Utama

Dalam kesempatan yang sama, dr. Darmadi menyoroti kontribusi gaya hidup modern terhadap meningkatnya kasus kanker kolorektal. Konsumsi daging olahan berlebihan, minim serat, serta kurangnya asupan buah dan sayur disebut sebagai pemicu utama.

“Obesitas, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, dan kurang aktivitas fisik ikut memperbesar risiko kanker kolorektal,” katanya.

Ia mengingatkan masyarakat agar lebih peka terhadap perubahan tubuh dan tidak menunda pemeriksaan medis jika muncul tanda-tanda mencurigakan.

Skrining Dini, Penyelamat Nyawa

Sementara itu, dr. Frenky J. Manurung, MARS, M.Ked (PD), Sp.PD, menekankan pentingnya skrining sebagai langkah paling efektif menekan angka kematian.

“Hampir 10 persen kasus kanker di dunia berasal dari kanker kolorektal. Penyakit ini juga menjadi penyebab kematian akibat kanker nomor dua secara global, terutama pada usia di atas 50 tahun,” paparnya.

Berbagai metode skrining dapat dilakukan, mulai dari tes darah samar tinja (FOBT), sigmoidoskopi, kolonoskopi, hingga kolonoskopi virtual.

Ia mengungkapkan, studi di Amerika Serikat menunjukkan bahwa individu yang rutin menjalani skrining memiliki risiko kematian 33 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak melakukan pemeriksaan dini.

Edukasi sebagai Benteng Pencegahan

Melalui kegiatan edukasi tersebut, dr. Asri berharap kesadaran masyarakat terhadap bahaya kanker kolorektal terus meningkat, terlebih bertepatan dengan momentum Hari Kesehatan Nasional.

“Kanker kolorektal bukan akhir segalanya. Jika terdeteksi lebih awal, penyakit ini bisa dikendalikan. Edukasi, keberanian memeriksakan diri, dan perubahan gaya hidup adalah kunci utama,” tegasnya.

Ia pun menegaskan komitmen untuk terus memperluas edukasi kesehatan ke masyarakat, agar pencegahan dilakukan sebelum kanker tumbuh diam-diam dan merenggut harapan hidup.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan