
Mengganti pakan hewan peliharaan, yang sering disebut sebagai anabul (anak bulu), terlihat seperti tindakan sederhana. Banyak pemilik hewan beranggapan bahwa mengganti pakan secara berkala bisa memberikan variasi dan mencegah kebosanan pada anjing atau kucing mereka. Namun, kebiasaan gonta-ganti pakan tanpa alasan jelas ini sebenarnya menyimpan risiko signifikan terhadap kesehatan pencernaan dan metabolisme hewan kesayangan kita.
Pertanyaan penting kemudian muncul: kapan sebaiknya kita boleh mengganti pakan anabul? Dari sudut pandang nutrisi hewan, sistem pencernaan anjing dan kucing jauh lebih sensitif dibanding banyak orang kira. Rerata pemilik hewan yang sering berganti pakan cenderung tidak menyadari bahwa perubahan drastis dapat mengganggu keseimbangan mikrobiota usus, yakni komunitas bakteri penting yang membantu pencernaan dan daya tahan tubuh.
Studi pada anjing menunjukkan bahwa perubahan makanan yang tiba-tiba menyebabkan perubahan signifikan pada mikrobiota usus, termasuk penurunan bakteri baik seperti Lactobacillus dan peningkatan bakteri yang bisa memicu gangguan pencernaan. Perubahan ini mencerminkan stres fisiologis dalam saluran cerna hewan. Analisis pertama mempertegas bahwa transisi pakan perlu dilakukan berdasarkan kebutuhan fisiologis yang jelas, bukan sekadar keinginan pemilik.
Beberapa situasi yang menjadi alasan untuk mengganti pakan antara lain:
-
Fase kehidupan baru: Anabul yang sudah melewati masa pertumbuhan (puppy/kitten) memiliki kebutuhan nutrisi berbeda dibanding anabul dewasa atau senior. Pedoman nutrisi umum menyatakan bahwa makanan untuk anak hewan mengandung lebih banyak energi dan kalsium untuk mendukung tumbuh kembang yang cepat, sementara pada hewan senior kebutuhan kalori menurun dan komposisi nutrisi harus disesuaikan untuk mencegah obesitas dan gangguan sendi. Mengganti pakan ketika anabul memasuki fase kehidupan baru, misalnya dari kitten ke dewasa atau dari dewasa ke senior, adalah momen yang tepat dan direkomendasikan.
-
Masalah kesehatan: Indikasi perubahan pakan yang didorong oleh masalah kesehatan juga merupakan alasan kuat. Tanda-tanda seperti diare kronis, muntah yang berulang, perubahan berat badan drastis, kulit kusam, bulu rontok, atau penurunan energi dapat menjadi sinyal bahwa pakan saat ini tidak memenuhi kebutuhan hewan. Data dari survei klinis menunjukkan bahwa sekitar 20–30 persen kunjungan dokter hewan berkaitan dengan gejala pencernaan seperti muntah dan diare yang dapat dipicu oleh asupan pakan yang tidak sesuai atau berkualitas rendah. Dalam kasus seperti ini, konsultasi dengan dokter hewan membantu menentukan apakah perlu beralih ke diet khusus, misalnya formula gastrointestinal atau pakan untuk manajemen berat badan.
-
Perubahan bertahap: Perubahan pakan harus dilakukan secara bertahap, bukan mendadak. Ketika pakan baru diperkenalkan secara abrupt, bakteri baik dalam usus tidak punya kesempatan beradaptasi sehingga dapat mengakibatkan refluks cerna, diare, atau keengganan makan. Pedoman umum dari berbagai sumber veteriner merekomendasikan campuran pakan lama dan pakan baru secara bertahap selama 7–14 hari agar sistem pencernaan anabul beradaptasi. Biasanya dimulai dengan sekitar 25% pakan baru dan 75% pakan lama, kemudian proporsi pakan baru ditingkatkan setiap beberapa hari hingga mencapai 100% makanan baru.
-
Kualitas pakan: Keputusan mengganti pakan juga harus mempertimbangkan kualitas pakan itu sendiri. Tidak semua pakan di pasaran memiliki kandungan nutrisi yang seimbang meskipun memiliki label yang menarik. Banyak kesalahan umum pemilik hewan termasuk fokus pada harga rendah tanpa memperhatikan keseimbangan protein, lemak, vitamin, dan mineral. Otentikasi kualitas melalui label AAFCO (untuk standar nutrisi) dan rekomendasi dokter hewan menjadi penting agar pakan yang dipilih mendukung kesehatan organ vital, sistem imun, dan fungsi metabolik secara optimal.
-
Frekuensi penggantian: Frekuensi mengganti pakan tanpa alasan yang tepat justru dapat berdampak negatif dalam jangka panjang. Kuesioner dan pendapat pemilik hewan yang dibagikan di komunitas online umumnya menyoroti kejadian diare atau muntah setelah gonta-ganti pakan yang terlalu sering, bahkan ketika tidak ada indikasi medis atau perubahan kebutuhan nutrisi. Dalam banyak kasus ini, pemilik merasa anabul bosan sehingga sering mengganti pakan, tetapi kenyataannya hewan peliharaan lebih diuntungkan dari konsistensi nutrisi yang stabil daripada variasi yang sering. Konsistensi ini membantu menjaga fungsi pencernaan, metabolisme energi, dan kebiasaan makan yang baik.
Kesimpulannya, mengganti pakan anabul sebaiknya dilakukan hanya saat ada kebutuhan fisiologis, perubahan fase kehidupan, adanya masalah kesehatan yang jelas, atau rekomendasi dokter hewan. Tidak disarankan mengganti pakan secara semata-mata demi variasi tanpa dasar nutrisi atau medis. Kapan pun perubahan diperlukan, lakukan secara bertahap dan terencana agar anabul kita dapat beradaptasi dengan baik tanpa gangguan kesehatan. Kesejahteraan anabul harus didasari oleh ilmu pengetahuan dan praktik nutrisi yang tepat, bukan sekadar trend atau impuls sesaat dari pemiliknya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar