Kebiasaan Harian yang Menguras Emosi

Kebiasaan Harian yang Menguras Emosi

Kebiasaan Harian yang Tidak Terduga Memicu Stres

Ada banyak kebiasaan sehari-hari yang sering dianggap remeh, namun ternyata bisa menjadi sumber stres berkepanjangan. Kebiasaan ini memengaruhi keseimbangan hormon dalam tubuh, terutama kortisol—hormon yang dikenal sebagai hormon stres. Ketika kadar kortisol tetap tinggi, tubuh akan mengalami gangguan seperti kegelisahan, kelelahan emosional, dan bahkan gangguan tidur.

Dr. Kunal Sood, seorang dokter spesialis anestesi dan pengobatan nyeri, menjelaskan bahwa kortisol memiliki peran penting dalam membantu tubuh menghadapi tekanan. Namun, ketika dipicu secara terus-menerus oleh kebiasaan sehari-hari, hormon ini justru dapat merugikan kesehatan fisik dan mental.

1. Kurang Tidur

Salah satu pemicu utama adalah kurang tidur. Tidur yang cukup membantu menurunkan kadar kortisol di malam hari. Sebaliknya, jika seseorang begadang atau memiliki kualitas tidur yang buruk, kadar kortisol tetap tinggi. Hal ini membuat tubuh lebih rentan terhadap tekanan pada keesokan harinya.

2. Olahraga Berlebihan

Kebiasaan lain yang sering disalahartikan sebagai gaya hidup sehat adalah olahraga berlebihan. Meskipun latihan fisik dapat meningkatkan kortisol secara sementara, tanpa waktu pemulihan yang cukup, kadar hormon ini tidak kembali normal. Akibatnya, keseimbangan stres tubuh terganggu.

3. Konsumsi Kafein Berlebihan

Konsumsi kafein berlebihan juga menjadi faktor yang kerap diabaikan. Kopi, minuman energi, atau teh berkafein memang meningkatkan kewaspadaan. Namun, saat tubuh sedang dalam kondisi stres, kafein dapat memperparah lonjakan kortisol dan membuat tubuh semakin tegang.

4. Melewatkan Waktu Makan

Kebiasaan melewatkan waktu makan, terutama sarapan, juga berdampak pada kadar kortisol. Saat tubuh kekurangan asupan energi, kortisol meningkat untuk menjaga kadar gula darah. Jika dilakukan berulang, ritme alami hormon stres ini menjadi kacau dan memengaruhi metabolisme.

5. Terlalu Lama Menatap Layar

Di era digital, terlalu lama menatap layar menjadi masalah baru. Paparan cahaya biru dari ponsel dan komputer dapat mengganggu ritme sirkadian, menekan produksi melatonin, dan menyebabkan kortisol tetap tinggi hingga malam hari.

Dampak Kortisol yang Tinggi

Dr. Sood menjelaskan bahwa kondisi ini berdampak langsung pada kualitas tidur. Tidur yang terganggu kemudian memicu siklus stres baru, di mana tubuh tidak pernah benar-benar mendapatkan waktu untuk pulih secara optimal.

Jika dibiarkan, kortisol yang terus tinggi dapat memengaruhi suasana hati, meningkatkan kecemasan, menurunkan daya tahan tubuh, hingga memperlambat proses pemulihan fisik dan mental.

Langkah untuk Mengembalikan Keseimbangan

Karena itu, penting untuk mulai mengevaluasi kebiasaan sehari-hari. Beberapa langkah sederhana namun krusial antara lain:

  • Tidur cukup – Memastikan tidur berkualitas dan cukup waktu untuk pemulihan.
  • Olahraga seimbang – Melakukan olahraga dengan intensitas yang sesuai dan memberi waktu pemulihan.
  • Pola makan teratur – Menghindari melewatkan waktu makan, terutama sarapan.
  • Membatasi kafein – Mengurangi konsumsi kopi, minuman energi, dan teh berkafein.
  • Mengurangi waktu layar – Membatasi paparan layar, terutama sebelum tidur.

Dengan mengubah kebiasaan tersebut, kita dapat mengembalikan keseimbangan hormon dan menjaga kesehatan mental jangka panjang.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan