Kelainan Jantung Bawaan Sering Terlambat Diketahui, Dokter Minta Pemeriksaan Awal Ditingkatkan


Pada sekat jantung, terdapat kondisi yang dikenal sebagai Atrial Septal Defect (ASD) atau kelainan lubang pada sekat serambi jantung. Kondisi ini menjadi perhatian khusus bagi para dokter spesialis jantung, karena banyak pasien datang dengan kondisi yang sudah cukup berat akibat keterlambatan diagnosis di layanan primer.

Dokter Spesialis Penyakit Jantung Sub Spesialis Kardiologi Pediatrik, Radityo Prakoso, menjelaskan bahwa penyakit jantung bawaan ini merupakan jenis kedua yang paling umum setelah Ventricular Septal Defect (VSD). Namun, banyak kasus ASD tidak terdeteksi sejak dini.

Secara global, prevalensi penyakit jantung bawaan meningkat dari 0,6 per 1.000 kelahiran hidup pada 1930 menjadi 9,1 per 1.000 kelahiran hidup pada 1990. Asia memiliki proporsi terbesar, yaitu sekitar 9,3 per 1.000 kelahiran hidup, atau satu dari 100 bayi lahir dengan penyakit jantung bawaan.

Di Indonesia, dengan sekitar 5 juta kelahiran per tahun, diperkirakan ada 50.000 bayi dengan penyakit jantung bawaan, termasuk sekitar 8.500 kasus ASD baru setiap tahunnya. Keterlambatan diagnosis menjadi masalah utama dalam penanganan penyakit ini.

Radityo mengungkapkan bahwa lebih dari 50 persen pasien penyakit jantung bawaan datang terlambat untuk mendapat penanganan, terutama pada kasus penyakit jantung bawaan biru. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti minimnya pengetahuan dokter di layanan primer, akses transportasi terbatas, jumlah spesialis jantung anak yang masih terbatas (sekitar 120 orang), serta keterbatasan pusat layanan jantung.

ASD kerap sulit terdeteksi karena aliran darah di area lubang cenderung rendah sehingga gejalanya muncul pada usia dewasa muda. Keluhan seperti mudah lelah, jantung berdebar cepat, atau infeksi saluran napas berulang pada anak sering tidak spesifik, sehingga disangka asma atau gangguan lambung.

Jika tidak ditangani, ASD dapat menyebabkan pelebaran bilik kanan, kebocoran katup, aritmia, hingga tekanan paru tinggi yang kemudian sulit diperbaiki. Oleh karena itu, penutupan ASD perlu dilakukan sedini mungkin.

Radityo menjelaskan bahwa ASD kecil di bawah 5 milimeter pada anak usia di bawah lima tahun dapat menutup spontan, namun ukuran yang lebih besar tidak akan menutup sendiri. Penanganan dapat dilakukan melalui pembedahan atau prosedur transcatheter yang lebih minimal invasif, tergantung kondisi pasien.

Penanganan pasien
Radityo bersama rekannya, seorang Echocardiologist, Ario Soeryo Kuncoro, pernah menangani pasien dengan ASD di Heartology Cardiovascular Hospital, Jakarta. Pasien tersebut bernama Nurfitriyana (38) asal Purwakarta. Awalnya, Nurfitriyana datang dengan keluhan mudah lelah, jantung berdebar cepat dan sesak napas yang semakin berat.

Dari pemeriksaan yang dilakukan oleh Radityo, ditemukan adanya ASD atau lubang pada sekat jantung yang menyebabkan aliran darah tidak normal antara atrium kanan dan kiri. Atas temuan tersebut, kemudian dilakukan pemeriksaan echocardiography lanjutan oleh dokter Ario.

Berdasarkan pemeriksaan lanjutan echocardiography oleh Ario, ditemukan bahwa lubang pada sekat tersebut telah berukuran besar dan memengaruhi fungsi dua katup jantung, yaitu mitral dan trikuspid. Kondisi ini menandakan komplikasi lanjut akibat beban volume jangka panjang dan memerlukan tindakan bedah.

Ario mengatakan, saat melakukan pemeriksaan ekokardiografi terhadap Nurfitriyana, terlihat bahwa kebocoran di sekat jantung ternyata sudah berdampak pada kerja katup mitral dan trikuspid. "Ini membutuhkan intervensi menyeluruh, bukan hanya menutup lubang di sekat. Diagnosis yang akurat di tahap ini menjadi kunci keberhasilan keseluruhan tindakan," katanya.

Tindakan bedah yang cukup kompleks kemudian dilakukan oleh tim dokter yang terdiri dari Dicky A. Wartono, Akmal A. Sembiring, dan Rynaldo P. Hutagalung. Tim dokter Heartology berhasil melakukan Minimally Invasive Cardiac Surgery (MICS) dengan kombinasi tiga tindakan sekaligus, yakni Mitral Valve Repair (MVr), ASD Closure, dan Tricuspid Valve Repair (TVr).

Salah satu tim dokter, Dicky A.Wartono, mengatakan, tindakan tersebut tergolong kompleks. "Prosedur ini termasuk kategori high-complexity MICS. Kami melakukan koreksi pada tiga area vital jantung melalui ruang yang sangat terbatas, dengan hasil yang sangat memuaskan," kata pria yang juga dokter spesialis bedah toraks kardiovaskular ini.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan