
Tantangan Sosial-Ekonomi yang Mengkhawatirkan bagi Investor Kanada di Indonesia
Perjanjian Perdagangan Ekonomi dan Keterlibatan (CEPA) antara Indonesia dan Kanada menawarkan optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi bilateral. Namun, di balik gemerlap ini, ada kekhawatiran serius dari komunitas bisnis dan investor besar Kanada mengenai kondisi sosial-ekonomi di Indonesia, khususnya terkait status kelas menengah dan standar tenaga kerja.
Barrett Bingley dari APF Canada menjelaskan bahwa manajer aset dan dana pensiun besar Kanada yang berinvestasi di Indonesia mulai memperhatikan tren penurunan daya beli masyarakat. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia menunjukkan bahwa kelas menengah di negara ini telah menyusut selama enam tahun terakhir, termasuk sejak awal pandemi. Hal ini menjadi perhatian utama karena kelas menengah merupakan pilar utama dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara.
"Jika Anda memiliki kelas menengah yang menyusut di negara sebesar Indonesia, tetapi pertumbuhan GDP mencapai 5%, itu adalah situasi yang sangat aneh bagi siapa pun yang mencoba menjual ke kelas menengah itu," ujar Bingley. Ia menambahkan bahwa kekhawatiran ini mungkin menjadi alasan mengapa merek-merek ritel berkualitas tinggi Kanada masih ragu untuk masuk ke pasar Indonesia.
Selain masalah daya beli, isu tenaga kerja petani dan upah rendah juga menjadi perhatian. Bingley menjelaskan bahwa perjanjian perdagangan modern seperti CEPA, FTA ASEAN-Kanada, dan CPTPP (yang diajukan oleh Indonesia) kini mencakup ketentuan ketenagakerjaan dan lingkungan. Menurutnya, ketentuan-ketentuan ini bermanfaat karena membantu negara-negara membenarkan kebijakan mereka kepada populasi sendiri mengenai perlunya peningkatan standar tenaga kerja dan lingkungan. Hal ini pada akhirnya akan berdampak baik bagi pekerja di Indonesia.
Jika Indonesia berhasil bergabung dengan CPTPP, negara ini akan disyaratkan untuk mematuhi tingkat kepatuhan yang lebih tinggi terhadap standar tenaga kerja global. Bingley melihat ini sebagai dorongan positif untuk mengatasi masalah upah yang relatif lebih rendah dan monopoli oleh tuan tanah yang masih terjadi.
Dengan kata lain, perjanjian dagang modern bukan hanya tentang tarif dan keuntungan. Mereka juga menjadi alat diplomatik dan kelembagaan untuk mempromosikan praktik berkelanjutan dan perlindungan sosial.
Investor Kanada ingin melihat kejelasan kapan kelas menengah akan mulai tumbuh kembali, yang diukur oleh BPS dari peningkatan pengeluaran per bulan. Dengan mengatasi tantangan sosial-ekonomi ini, Indonesia dapat menjadi pasar konsumen yang lebih menarik, melengkapi peranannya sebagai hub manufaktur dan produsen bahan baku.
Masalah yang Perlu Diperhatikan
-
Penurunan Daya Beli:
Klasemen menengah yang menyusut selama enam tahun terakhir menjadi perhatian utama. Hal ini memengaruhi potensi pasar konsumen yang kuat. -
Standar Tenaga Kerja:
Perjanjian perdagangan modern kini mencakup ketentuan ketenagakerjaan dan lingkungan, yang diharapkan bisa meningkatkan kualitas pekerjaan di Indonesia. -
Upah Rendah dan Monopoli:
Indonesia perlu memenuhi standar global jika ingin bergabung dengan CPTPP. Ini menjadi kesempatan untuk meningkatkan upah dan mengurangi monopoli.
Tantangan dan Peluang
Perjanjian dagang modern tidak hanya tentang keuntungan ekonomi, tetapi juga tentang stabilitas sosial dan lingkungan. Jika Indonesia mampu mengatasi tantangan ini, negara ini akan menjadi pasar yang lebih menarik bagi investor internasional. Dengan peningkatan kelas menengah dan standar tenaga kerja, Indonesia bisa memperkuat posisinya sebagai pusat produksi dan distribusi di kawasan Asia Tenggara.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar