
Fase yang Tidak Pernah Hilang
Ada satu fase dalam hidupku yang sampai sekarang terasa seperti ruang hangat yang tidak pernah benar-benar kutinggalkan. Fase ketika aku bekerja di sebuah majalah properti di Jakarta. Sebuah redaksi kecil yang isinya tidak lebih dari lima belas orang, tapi rasanya seperti rumah kedua, tempat pulang setiap hari meski jelas-jelas tidak ada kasur atau dapur. Anehnya, justru dari ruang kerja dan penuh deadline itu tumbuh hubungan yang sulit didefinisikan. Bukan sekadar teman kerja, bukan sekadar partner lembur, tetapi juga bukan saudara kandung. Lebih dari semuanya.
Tim Kecil yang Kompak
Redaksi kami kecil saja. Tiga reporter, tiga fotografer, dua layouter, dan satu kontributor tetap, seorang desainer interior yang selalu punya selera visual lebih canggih dari kamera paling mahal. Saking kecilnya tim ini, kalau satu orang mengambil cuti, suasana kantor langsung terasa timpang. Tapi justru dari kekecilan itulah kami tumbuh menjadi kelompok yang kompak dengan cara yang tidak dibuat-buat. Kami bukan tipe tim yang sengaja membangun kekompakan lewat outbound atau workshop motivasi. Tidak ada permainan tali-temali atau menara gelas. Kalau dipikir-pikir, yang membuat kami dekat justru hal-hal kecil yang setiap hari kami lakukan bersama secara alami, mulai dari makan siang, liputan bareng, keliling proyek properti, nongkrong, hingga traveling ala wartawan bermodal tipis tapi semangat tebal.
Kehidupan di Luar Jam Kerja
Di luar jam kerja, kami masih saja menempel satu sama lain. Bukan karena kantor menyuruh, tetapi karena memang kami nyaman bersama. Kalau ada film baru, kami nonton. Kalau ada kuliner baru, kami datangi. Kalau ada diskon pesawat, lengan baju langsung disingsingkan, "ayo kita pergi!" Tidak penting apakah destinasi itu Bandung, Bali, atau hanya Pantai Ancol yang saat itu masih jadi tempat paling aman buat pelarian singkat dari deadline. Yang penting selalu bersama.
Hubungan yang Terbentuk Selama Sepuluh Tahun
Sepuluh tahun lebih kami melewati hidup dalam formasi tak resmi bernama 'tim redaksi plus-plus' karena akhirnya tidak hanya bekerja, tetapi juga makan, tertawa, saling curhat soal pacar atau masalah rumah, sampai debat kusir soal bubur diaduk atau tidak. Dan percayalah, perdebatan itu bukan sembarangan. Saking seringnya makan bareng, kami bahkan hapal potongan ayam favorit masing-masing. Ada yang selalu rebutan paha karena katanya lebih juicy, ada yang setia pada dada karena lebih tebal dagingnya, walau nyatanya kalau lapar melanda, semua prinsip itu bubar begitu saja.
Menebak Pilihan Makanan
Yang paling lucu, kami bisa menebak pilihan makanan satu sama lain tanpa perlu bertanya. Si A pasti pesan dua gelas teh tawar. Si B pasti minta sambal dua sendok besar. Si C selalu menanyakan apakah ada menu non-pedas padahal ujung-ujungnya tetap mencoba sambal meski nanti kepedesan sendiri. Seakan pilihan makanan kami adalah password persahabatan yang hanya kami yang tahu.
Perubahan yang Tak Terduga
Masa-masa itu terasa panjang sekaligus cepat. Mungkin karena diisi rutinitas yang berulang, tapi selalu dengan bumbu cerita berbeda setiap hari. Namun seperti banyak kisah lain, waktu tak selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Hingga suatu hari, majalah kami harus tutup. Bukan satu-satunya media yang tumbang oleh perubahan zaman, tapi bagi kami rasanya seperti rumah kecil yang tiba-tiba diratakan buldoser.
Rasa Kehilangan dan Ketakutan
Saat mendengar kabar itu, hal pertama yang terpikir justru bukan "aku akan kerja apa setelah ini?" tetapi "apakah ini berarti kebersamaan kami juga akan selesai?" Kupikir iya. Kupikir begitulah hukum tak tertulis dunia kerja, ketika proyek selesai, pertemanan ikut selesai. Tidak ada lagi makan bareng, nonton, atau traveling mendadak. Semua akan kembali pada kehidupannya masing-masing, tenggelam dalam kesibukan baru, rekan kerja baru, prioritas baru. Apalagi kami bukan saudara. Kami hanya teman kantor.
Kejutan yang Menyenangkan
Namun ternyata aku salah besar. Sudah tujuh tahun sejak majalah itu tutup. Tapi kami masih sama seperti dulu. Obrolan di grup WhatsApp tetap hidup. Candaan receh tetap berseliweran. Tawa kami masih sama kerasnya, meski kadang harus diimbangi dengan keluhan sakit pinggang atau kolesterol yang tiba-tiba naik. Lucunya, kalau dulu kami sering becanda 'jorok', ya, namanya juga wartawan dan fotografer yang sudah terlalu lama berkubang dalam humor level bawahan tanah, sekarang topiknya berubah menjadi persendian, tekanan darah, cek kadar gula, dan obat apa yang apa yang cocok untuk pengentalan darah. Usia memang tidak bisa dibohongi, tapi anehnya, kedekatan kami tidak ikut menua.
Pertemuan yang Tetap Terjalin
Kalau kangen, kami tidak perlu alasan besar. Cukup lempar satu kalimat di grup, "Ketemuan yuk, udah kangen banget." Lalu jadilah kami berkumpul. Tidak peduli di mana, tidak peduli hari apa. Ada saja yang menyanggupi duluan.
Kehidupan Bersama Tanpa Agenda
Saat bertemu, tidak ada agenda. Tidak ada diskusi serius. Tidak ada rencana besar yang harus disusun. Kami hanya duduk, makan, minum, tertawa, saling ngegodain, seperti dulu ketika masih satu ruang kerja. Seakan waktu tujuh tahun itu tidak pernah berlalu. Seakan pintu kantor lama masih ada dan kami hanya kebetulan sedang istirahat makan siang.
Kedekatan yang Lebih Kuat
Yang mengejutkan, kedekatan kami justru terasa lebih kuat dibandingkan sebagian saudara kandung. Bukan karena saudara tidak penting, tetapi hubungan dengan tim redaksiku ini punya ruang yang berbeda. Mereka tahu caraku bekerja, caraku marah, caraku menangani stres, makananku, kebiasaanku, mood-ku ketika lapangan panas, hingga jenis humor yang bisa membuatku ngamuk atau ngakak. Semua itu tidak datang dari darah, tetapi dari ribuan jam yang kami habiskan bersama di balik meja redaksi, di jalanan Jakarta, hingga di berbagai kota tempat kami liputan.
Hubungan yang Unik
Dan mungkin itulah yang membuat hubungan kami unik. Ia terbentuk bukan karena kewajiban keluarga, tetapi karena pilihan. Kami memilih tetap berteman meski tidak ada lagi kantor yang mengikat. Kami memilih tetap saling mengabari meski hidup sudah membawa kami ke jalur berbeda. Kami memilih tetap tertawa atas hal-hal sepele meski masing-masing kini memikul beban yang lebih berat.
Kesadaran yang Mendalam
Sekarang ketika aku melihat ke belakang, aku baru menyadari satu hal kalau pertemanan yang tumbuh dari ruang kerja bisa jadi lebih kuat dari hubungan yang terbangun sejak kecil. Mungkin karena di tempat kerja, kita menunjukkan diri yang paling asli, saat pusing, saat capek, saat kesal, saat semangat, saat marah pada klien, saat dikejar deadline, dan saat merasa dunia runtuh karena editan harus revisi lagi dan lagi. Di situ, orang-orang ini melihat kita apa adanya. Tanpa topeng, tanpa usaha untuk terlihat baik, tanpa basa-basi. Dan ketika mereka tetap memilih berada di sisi kita setelah semua itu, apa lagi namanya kalau bukan keluarga?
Rasa Syukur dan Harapan
Kadang aku berpikir, mungkin pertemanan seperti ini memang jarang datang lebih dari sekali dalam hidup. Mereka adalah orang-orang yang tidak sengaja Tuhan tempelkan di fase tertentu, tapi kemudian malah menempel di hati lebih lama daripada yang kita perkirakan. Mereka adalah bukti bahwa keluarga tidak harus selalu berbagi nama belakang yang sama. Bahwa saudara bisa muncul dari ruang kerja yang sempit, dari meja liputan yang berantakan, dari perjalanan dinas murah meriah, atau dari debat kusir soal mana yang lebih enak, paha atau dada ayam.
Penutup
Dan setiap kali kami mengobrol, aku selalu merasa bersyukur. Bukan hanya karena kami masih ada untuk satu sama lain, tetapi karena persahabatan ini membuktikan satu hal sederhana bahwa beberapa hubungan tidak memerlukan kantor untuk bertahan. Ia bertahan karena kehangatan, kebiasaan, kenangan, dan rasa saling percaya yang dibangun selama bertahun-tahun.
Kami mungkin bukan lagi rekan kerja, tapi kami selalu rekan cerita. Rekan tawa. Rekan pelarian dari stres. Rekan di setiap fase umur. Bahkan mungkin, rekan sampai nanti rambut kami benar-benar putih dan humor kami digantikan cerita-cerita masa muda.
Di balik semua itu, aku selalu teringat satu hal, ketika majalah tempat kami bekerja tutup, yang tertutup hanyalah gedung dan brand-nya. Tapi pintu persahabatan kami tetap terbuka, sedikit berderit mungkin tapi selalu siap untuk disambangi kapan saja. Dan setiap terlontar ajakan "Ketemuan yuk," pintu itu kembali bergerak. Membuka, menyambut, dan mengingatkan bahwa beberapa hubungan memang tidak diciptakan untuk selesai.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar