
aiotrade
Aktris legendaris Korea Selatan, Kim Ji Mee, meninggal dunia pada 10 Desember 2025 setelah mengalami komplikasi serius akibat herpes zoster, atau yang dikenal juga sebagai shingles.
Meskipun herpes zoster biasanya dikenal sebagai penyakit kulit yang menyebabkan ruam dan nyeri, infeksi ini dapat menyebabkan komplikasi fatal yang mempengaruhi organ vital, terutama bagi orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Mengapa herpes zoster bisa berisiko mematikan?
Herpes zoster terjadi ketika virus varicella-zoster, penyebab cacar air, kembali aktif setelah berada dalam tubuh dalam keadaan dorman selama bertahun-tahun. Pada sebagian besar orang, herpes zoster bisa sembuh dalam waktu beberapa minggu dengan perawatan yang tepat. Namun, pada orang yang lebih tua atau mereka yang memiliki kondisi medis tertentu, virus ini dapat memicu komplikasi serius, seperti pneumonia, ensefalitis, atau stroke, yang dapat berujung pada kematian.
Kim Ji Mee, yang telah berusia 85 tahun dan memiliki riwayat kesehatan tertentu, mengalami penurunan kondisi yang cepat setelah terinfeksi herpes zoster. Setelah beberapa minggu dirawat dalam kondisi lemah akibat komplikasi penyakit ini, ia akhirnya meninggal dunia.
Menurut Prof. Lim Poh Lian, Kepala Klinik Kesehatan dan Vaksinasi di Tan Tock Seng Hospital, kondisi serupa dapat terjadi pada orang lanjut usia yang sistem kekebalannya sudah menurun, atau pada mereka yang mengidap penyakit yang mempengaruhi daya tahan tubuh.
"Herpes zoster berisiko menyebabkan komplikasi serius seperti radang otak (ensefalitis) dan pneumonia, terutama pada mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang melemah," ujarnya.
Gejala dan komplikasi yang muncul
Gejala herpes zoster diawali dengan nyeri, gatal, atau kesemutan di area kulit yang nantinya akan muncul ruam berbentuk gelembung-gelembung kecil. Meskipun sebagian besar orang akan pulih dalam waktu dua hingga empat minggu, beberapa orang, terutama yang berusia lebih tua atau memiliki masalah kekebalan tubuh, dapat mengalami neuralgia pasca-herpes (PHN), nyeri saraf yang bertahan lama setelah ruam hilang.
Komplikasi serius lainnya, seperti kerusakan saraf, radang otak (ensefalitis), atau infeksi pada organ tubuh lainnya, juga bisa terjadi. Dalam beberapa kasus, herpes zoster yang menyerang area mata dapat menyebabkan kerusakan penglihatan atau kebutaan permanen. Kondisi-kondisi ini meningkatkan risiko fatalitas, seperti yang dialami oleh Kim Ji Mee.
Menurut Dr. Asok Kurup, seorang ahli penyakit menular, "Komplikasi dari herpes zoster dapat sangat parah, termasuk kemungkinan terjadinya pneumonia dan stroke, terutama pada pasien yang lebih tua atau yang sedang menjalani pengobatan imunosupresif".
Mengapa herpes zoster lebih berbahaya bagi orangtua?
Salah satu alasan mengapa herpes zoster dapat menyebabkan komplikasi serius adalah penurunan sistem kekebalan tubuh seiring bertambahnya usia. Mereka yang berusia lebih dari 50 tahun, terutama yang lebih tua, lebih rentan terhadap infeksi ini karena daya tahan tubuh mereka mulai melemah.
Dalam kasus tertentu, orang yang menderita penyakit seperti diabetes, penyakit jantung, atau mereka yang menjalani terapi imunosupresan lebih berisiko untuk mengalami komplikasi yang lebih parah. Herpes zoster pada orang yang lebih muda juga dapat berisiko, terutama jika mereka memiliki gangguan sistem kekebalan tubuh, seperti yang ditemukan pada penderita HIV atau pasien transplantasi organ.
Penyakit ini, meskipun jarang menyebabkan kematian langsung, dapat memperburuk kondisi tubuh yang sudah lemah dan berisiko mengarah pada komplikasi yang fatal.
Pencegahan dan pengobatan yang tersedia
Pencegahan terbaik untuk herpes zoster adalah dengan melakukan vaksinasi. Vaksin Shingrix yang tersedia saat ini memberikan perlindungan lebih dari 90% terhadap herpes zoster, bahkan pada orang yang sudah pernah terinfeksi cacar air sebelumnya. WHO merekomendasikan vaksin ini bagi orang yang berusia 50 tahun ke atas untuk mencegah infeksi dan komplikasinya.
Sedangkan untuk pengobatan, antiviral seperti acyclovir dan valacyclovir dapat digunakan untuk mempercepat pemulihan jika diberikan dalam waktu tiga hari setelah gejala pertama muncul. Obat penghilang rasa sakit juga dapat diberikan untuk mengurangi rasa nyeri yang dapat berlangsung lama setelah ruam sembuh.
Dalam kasus yang lebih parah, seperti yang terjadi pada Kim Ji Mee, komplikasi serius memerlukan perhatian medis lebih intensif.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar