Kemenperin Prediksi Pertumbuhan Industri Manufaktur 5,51% di 2026


nurulamin.pro.CO.ID - JAKARTA
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan sejumlah tantangan yang dihadapi industri manufaktur selama tahun 2025. Namun, pihaknya tetap optimis bahwa sektor ini akan mencapai pertumbuhan sebesar 5,51% pada tahun 2026. Tantangan tersebut berasal dari berbagai faktor baik domestik maupun internasional.

Tantangan Utama Industri Manufaktur

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebutkan beberapa tantangan utama yang menghambat industri manufaktur pada tahun 2025. Pertama, banjir produk impor yang masuk secara legal maupun ilegal. Kedua, ketersediaan gas industri sesuai dengan kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) sebesar US$ 7 per Million British Thermal Unit (MMBTU). Ketiga, ketersediaan bahan baku bagi industri.

Agus menilai ketiga kendala ini masih akan memengaruhi industri manufaktur pada tahun 2026. Namun, ia tetap optimistis karena adanya upaya pembenahan tata niaga impor oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

"Kami melihat komitmen besar dari Kemenkeu dalam membenahi pintu-pintu masuk barang luar negeri ke Indonesia. Impor yang legal saja sudah membuat industri sulit, apalagi yang ilegal melalui jalur-jalur tikus," ujar Agus dalam konferensi pers.

Pertumbuhan Sektor Manufaktur

Sampai kuartal III-2025, pertumbuhan sektor manufaktur atau Industri Pengolahan Non Migas (IPNM) tercatat sebesar 5,17%, dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebanyak 17,27%. Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menjelaskan bahwa target pertumbuhan industri manufaktur pada tahun 2026 adalah 5,51%.

Dengan pertumbuhan tersebut, Kemenperin berharap kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB nasional meningkat menjadi 18,56%. Kinerja sektor ini akan didukung oleh 15 sub sektor industri yang ditargetkan tumbuh di atas 1,5%. Salah satunya adalah industri logam dasar yang diproyeksikan tumbuh sebesar 14%.

Selain itu, empat sub sektor lain juga diperkirakan tumbuh di atas 5%, antara lain: * Industri Pengolahan Lainnya: Jasa Reparasi dan Pemasangan Mesin dan Peralatan (+6,45%) * Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional (+6,26%) * Industri Makanan dan Minuman (+6,06%) * Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki (+5,19%)

Faisol juga menyebutkan bahwa Kemenperin menargetkan kontribusi ekspor produk manufaktur terhadap total ekspor nasional mencapai 74,85%. Selain itu, persentase nilai tambah industri pengolahan di luar Jawa ditargetkan mencapai 33,25%.

Peluang Investasi di Kawasan Industri

Dari sisi investasi, Kemenperin memproyeksikan realisasi investasi sebesar Rp 852,90 triliun di sektor manufaktur pada tahun 2026. Salah satu peluang untuk menarik investasi berada di kawasan industri.

Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Tri Supondy, menyampaikan bahwa saat ini Indonesia memiliki 175 kawasan industri. Total kawasan industri tersebut menampung realisasi investasi senilai Rp 6.744,58 triliun pada tahun 2025.

Realisasi investasi di kawasan industri naik 9,26% dibandingkan tahun 2024. Hal ini sejalan dengan penambahan sembilan kawasan industri pada 2025, serta kenaikan jumlah tenant di kawasan industri yang naik 1,12% menjadi 11.970 perusahaan.

Tri meyakini investasi di kawasan industri akan terus tumbuh pada tahun ini. Potensi pertumbuhan merata di sejumlah sektor, termasuk yang terkait dengan pengolahan Sumber Daya Alam (SDA) dan teknologi tinggi (high-tech), akan mendukung hal tersebut.

"Kawasan industri saya meyakini masih meningkat, mengingat proyeksi realisasi investasi juga meningkat. Saya kira akan merata, baik berkaitan dengan pengolahan SDA, dan tentu juga high-tech yang mungkin akan fokus di daerah Jawa Barat," jelas Tri.

Pengembangan Kawasan Industri

Menperin menambahkan bahwa pengembangan kawasan industri menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN) maupun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) akan mempertimbangkan tematik yang selaras dengan fokus pemerintah. Terutama yang terkait program ketahanan energi, ketahanan pangan, dan kemandirian di bidang kesehatan.

Agus mencontohkan, Kemenperin telah menerima proposal investasi dari salah satu grup bisnis besar di bidang kesehatan. Grup bisnis tersebut tertarik untuk membangun kawasan bio-town. "Diharapkan akan memperkuat kemampuan Indonesia memproduksi obat-obatan dan alat kesehatan. Menariknya, obat-obatan itu nanti akan berbasis sumber daya berbasis herbal yang dihasilkan Indonesia," tandas Agus.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan