Kemenperin Soroti Manfaat Insentif Otomotif 2026


JAKARTA, aiotrade
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan bahwa industri otomotif dalam negeri saat ini sedang menghadapi berbagai tantangan. Salah satu indikatornya adalah penurunan signifikan dalam penjualan mobil berbahan bakar dalam negeri, sementara mobil listrik impor terus meningkat.

Menurut Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa penjualan electric vehicle (EV) selama Januari hingga Oktober 2025 mencapai 69.146 unit. Namun, sekitar 73 persen dari jumlah tersebut berasal dari kendaraan impor. Hal ini berdampak pada nilai tambah dan kesempatan kerja yang lebih besar dinikmati oleh negara asal daripada industri lokal.

Di sisi lain, segmen kendaraan konvensional yang biasanya menjadi tulang punggung pasar domestik terus melemah. Penjualan mobil konvensional jauh di bawah kapasitas produksi tahunan.

Febri menyatakan bahwa tidak tepat jika menganggap industri otomotif sedang kuat hanya dengan melihat pertumbuhan di segmen tertentu. Menurutnya, penurunan penjualan yang jauh di bawah angka produksi serta kenaikan tajam mobil listrik impor adalah fakta yang tidak bisa diabaikan.

“Kami memandang bahwa dibutuhkan insentif untuk membalikkan keadaan tersebut,” ujarnya.

Febri juga menilai maraknya pameran otomotif di berbagai daerah bukanlah indikator kesehatan industri. Ia menjelaskan bahwa pameran justru menjadi salah satu langkah pelaku industri untuk menjaga permintaan di tengah pasar yang melemah agar pekerja tidak terkena PHK.

Menurutnya, kondisi industri hanya dapat dilihat dari data penjualan dan produksi, bukan dari jumlah event.

Berdasarkan data Gaikindo, penjualan mobil wholesales pada Januari–Oktober 2025 hanya mencapai 634.844 unit, turun 10,6 persen dari tahun lalu. Sementara itu, penjualan ritel juga terkoreksi 9,6 persen menjadi 660.659 unit.

Dalam situasi tersebut, Kemenperin menilai insentif otomotif menjadi instrumen penting untuk memulihkan pasar dan menjaga keberlangsungan ekosistem industri.

“Sekali lagi, kita harus menggunakan data statistik yang ada untuk menggambarkan kondisi obyektif industri otomotif saat ini dan tidak menggunakan jumlah event pameran otomotif,” ucapnya.

Febri menyebut insentif tidak hanya membantu pelaku industri, tetapi juga memberi manfaat langsung kepada konsumen melalui penurunan harga dan peningkatan sentimen pasar.

“Walaupun Kemenperin belum merumuskan jenis, bentuk dan target insentif/stimulus, tapi usulannya akan mengarah ke segmen kelas menengah-bawah dan didasarkan pada nilai TKDN,” ungkapnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan tidak akan ada lagi insentif kendaraan listrik pada 2026.

Menurutnya, insentif yang diberikan selama dua tahun terakhir telah membuahkan hasil, terbukti semakin banyak model EV yang kini dirakit di Indonesia.

“Insentif sudah dua tahun diberikan untuk mendirikan pabrik. Hasilnya sudah nyata, hampir semuanya sudah di-CKD-kan di Indonesia,” ujar Airlangga saat ditemui di GJAW 2025.

Airlangga menilai harga mobil listrik saat ini juga sudah lebih terjangkau, dengan banyak pilihan di bawah Rp 300 juta.

Dengan kondisi tersebut, ia menilai insentif tambahan tidak lagi diperlukan. Presiden Prabowo Subianto pun disebut meminta agar anggaran insentif dialihkan untuk percepatan pembangunan pabrik nasional.

“Sekarang pak presiden ingin membangun pabrik. Mungkin dana itu (insentif) bisa dialihkan untuk membangun pabrik nasional,” kata Airlangga.

Jika insentif benar-benar dihentikan, harga mobil listrik berpotensi naik mulai tahun depan. Kondisi ini diperkirakan mendorong konsumen mempercepat pembelian sebelum tahun berganti untuk memanfaatkan insentif yang masih berlaku dan menghambat daya beli.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan