
Presiden Prabowo Subianto dan Seni Komunikasi Diplomatik yang Mengubah Naratif Internasional
Setelah tampil dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) PBB, Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-80 di New York pada September 2025, di mana ia menyampaikan pidato pada sesi debat umum, Presiden Prabowo Subianto terus memperkuat perannya sebagai pemimpin yang aktif dalam diplomasi internasional. Dalam berbagai konferensi tingkat tinggi seperti Konferensi Tingkat Tinggi Internasional untuk Palestina di Paris pada 22 Mei 2024, ia menyampaikan pidato tentang pentingnya solusi dua negara dan peran Indonesia. Kunjungan-kunjungan tersebut menunjukkan bahwa Presiden Prabowo sangat serius dalam memperkuat hubungan diplomatik Indonesia di tengah pergaulan internasional.
Gaya komunikasinya juga mulai memiliki daya tarik masyarakat internasional. Hal ini terlihat jelas dalam kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo ke Pakistan pada 89 Desember 2025. Kedatangan Prabowo bukan sekadar ritual seremonial, melainkan sebuah upaya strategis untuk membangun hubungan yang lebih kuat dengan negara-negara muslim besar.
Presiden sebagai "Chief Communicator"
Dalam disiplin ilmu komunikasi internasional, seorang kepala negara dianggap sebagai "chief communicator" bagi bangsanya. Ia tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga membangun realitas bersama dengan mitra dunianya. Dalam kunjungannya ke Pakistan, Presiden Prabowo menunjukkan pemahaman mendalam terhadap prinsip ini.
Pertama, ia memilih Pakistan sebagai salah satu tujuan kunjungan kenegaraannya karena alasan geopolitik yang jelas. Pakistan adalah negara muslim terbesar kedua di dunia, memiliki senjata nuklir, serta duduk di persimpangan Asia Selatan, Asia Tengah, dan Timur Tengah. Di saat banyak negara Barat masih ragu-ragu mengakui Islamabad karena stigma terkait "terorisme", Prabowo justru datang dengan sikap setara dan saling menghormati tanpa syarat moralistik. Ini adalah komunikasi non-verbal yang kuat, menunjukkan bahwa Indonesia memiliki suara sendiri dalam diplomasi global.
Kedua, Prabowo memanfaatkan momentum 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Pakistan dengan cerdas. Bukan hanya sekadar merayakan ulang tahun, ia mengubah momen ini menjadi "turning point" naratif. Dalam teori komunikasi diplomatik, ini disebut "reframing": menggeser kerangka hubungan dari "teman lama yang saling melupakan" menjadi "mitra strategis masa depan".
Peluang Kerjasama yang Nyata
Dalam momentum ini, Prabowo membaca peluang kerjasama yang saling menguntungkan bagi kedua negara. Penandatanganan sejumlah MoU di bidang pertahanan, perdagangan, teknologi informasi, dan mitigasi perubahan iklim adalah bukti konkret bahwa reframing ini bukan sekadar retorika kosong.
Yang paling menarik adalah gaya Prabowo yang lugas namun penuh makna filosofis. Ketika berbicara di depan Presiden Asif Ali Zardari dan Perdana Menteri Shahbaz Sharif, ia tidak menggunakan bahasa birokrasi kaku. Ia berbicara tentang "persaudaraan", "perjuangan bersama melawan kolonialisme", dan "takdir bersama sebagai bangsa besar". Ini adalah bahasa yang langsung menyentuh memori kolektif Pakistan, yang lahir dari perjuangan melawan penjajahan Inggris, sama seperti Indonesia.
Tidak ada kesan sedang bernegosiasi, tetapi sedang membangun ikatan emosional yang lebih kuat daripada sekadar kontrak bisnis. Di sinilah letak perbedaan mendasar: banyak pemimpin dunia berbicara dengan data, grafik, dan proyeksi ekonomi, sementara Prabowo berbicara dengan instrumen sejarah, martabat, dan visi bersama.
Komunikasi yang Autentik dan Smart Power
Kunjungan ini juga membuktikan tesis komunikasi internasional bahwa di era multipolar, soft power tidak lagi cukup. Yang dibutuhkan adalah smart power, kombinasi daya tarik budaya, kekuatan ekonomi, dan ketegasan militer yang dikemas dalam komunikasi yang autentik. Presiden Prabowo menunjukkan ketiga-tiganya sekaligus.
Sebagai sesama tentara, ia menyapa Panglima Angkatan Darat Pakistan Jenderal Asim Munir dengan bahasa militer yang dipahami. Sebagai sesama Muslim, ia menyebut persaudaraan Islam. Dan sebagai pemimpin bangsa besar yang sedang bangkit, ia menunjukkan kepercayaan diri yang luar biasa.
Selama ini, pengamat sering terpaku pada gaya komunikasi Prabowo di dalam negeri yang disebut keras dan tegas. Mereka lupa bahwa seorang komunikator ulung adalah dia yang mampu membaca momentum dan mengubah register sesuai konteks. Di Islamabad, Prabowo berbicara dengan tenang, penuh hormat, dan mendengarkan lebih banyak daripada berbicara, tepat seperti yang diajarkan teori komunikasi dua arah simetris Grunis.
Awal dari Proyek Komunikasi yang Lebih Besar
Kunjungan ke Pakistan ini tentu saja bukan akhir, melainkan awal dari proyek komunikasi internasional Prabowo yang jauh lebih besar. Tujuannya adalah menempatkan Indonesia sebagai jembatan peradaban, bukan sekadar penonton di pinggir arena dunia.
Sebagai presiden, ia telah menunjukkan kemampuannya dalam membangun narasi. Ia tahu kapan harus diam, kapan harus berbicara, dan yang terpenting: tahu apa yang ingin didengar dunia dari Indonesia. Itulah seni komunikasi internasional sejati. Dan Prabowo, dalam dua hari di Islamabad, telah membuktikan bahwa ia menguasainya dengan sangat baik.
Dari Islamabad, Presiden Prabowo berkesempatan menyambangi Presiden Putin di Moskow.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar