Kerugian masyarakat akibat kejahatan keuangan mencapai Rp 8,2 triliun


aiotrade.CO.ID - JAKARTA
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kerugian dana masyarakat akibat penipuan atau scam yang dilaporkan melalui Indonesia Anti-Scam Centre (IASC). Total kerugian yang tercatat mencapai Rp 8,2 triliun. Laporan tersebut dikumpulkan sejak IASC didirikan pada 22 November 2024 hingga 30 November 2025.

Dalam periode tersebut, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi menyebutkan bahwa total dana korban yang sudah diblokir dari laporan yang masuk melalui IASC sebesar Rp 389,3 miliar. Hal ini disampaikannya dalam konferensi pers RDK OJK, Kamis (11/12/2025).

Selama masa tersebut, Friderica juga mengungkapkan jumlah rekening yang dilaporkan melalui IASC terkait penipuan sebanyak 619.394 rekening. Dari jumlah tersebut, sebanyak 117.301 rekening telah diblokir. Selain itu, IASC telah menerima sebanyak 373.129 laporan kasus penipuan sejak 22 November 2024 hingga 30 November 2025.

Tujuan Pembentukan IASC
IASC dibentuk sebagai upaya untuk mempercepat koordinasi antarpelaku jasa keuangan dalam menangani laporan penipuan. Tujuannya adalah melakukan penundaan transaksi segera dan pemblokiran rekening yang terkait dengan penipuan. Selain itu, IASC juga bertujuan untuk:

  • Mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat dalam kasus penipuan.
  • Mengupayakan pengembalian dana korban yang masih bisa diselamatkan.
  • Melakukan upaya penindakan hukum terhadap pelaku penipuan.

Pembentukan IASC juga merupakan bagian dari upaya meningkatkan perlindungan konsumen dan masyarakat di sektor keuangan. OJK bekerja sama dengan Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) serta kementerian/lembaga terkait untuk memastikan koordinasi yang efektif dalam menangani berbagai bentuk penipuan keuangan.

Koordinasi dan Kolaborasi
Pembentukan IASC tidak hanya menjadi tanggung jawab OJK sendiri, tetapi juga melibatkan berbagai pihak yang terkait. Koordinasi antara OJK, Satgas PASTI, dan lembaga pemerintah lainnya sangat penting dalam menghadapi ancaman penipuan yang semakin marak. Dengan adanya IASC, proses penanganan laporan penipuan dapat lebih cepat dan efisien.

Selain itu, IASC juga berperan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya penipuan keuangan. Edukasi ini bertujuan agar masyarakat lebih waspada dan mampu mengenali tanda-tanda penipuan, sehingga dapat menghindari kerugian yang lebih besar.

Peran Masyarakat dalam Mencegah Penipuan
Masyarakat juga memiliki peran penting dalam mencegah penipuan keuangan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan segera melaporkan kejadian penipuan yang dialami melalui saluran resmi seperti IASC. Dengan begitu, data yang terkumpul akan lebih lengkap dan dapat digunakan sebagai dasar dalam penindakan lebih lanjut.

Selain itu, masyarakat juga diminta untuk selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan keuangan, terutama dalam hal investasi atau penggunaan layanan finansial online. Memilih layanan yang terpercaya dan memiliki lisensi resmi sangat penting untuk menghindari risiko penipuan.

Tantangan dan Langkah Ke depan
Meskipun IASC telah berhasil membantu dalam penanganan kasus penipuan, tantangan masih tetap ada. Penipuan keuangan terus berkembang dengan metode yang semakin canggih, sehingga diperlukan inovasi dan peningkatan kapasitas sumber daya untuk menghadapinya.

Langkah-langkah yang akan diambil oleh OJK dan IASC di masa depan termasuk memperkuat sistem pelaporan, meningkatkan kerja sama dengan pihak asing, serta memperluas jangkauan edukasi kepada masyarakat. Dengan kolaborasi yang kuat dan kesadaran masyarakat yang tinggi, diharapkan penipuan keuangan dapat diminimalkan secara signifikan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan