
Kehadiran Tuhan di Tengah Dunia Digital
Di era di mana notifikasi lebih sering terdengar daripada panggilan azan, mungkin kita bertanya-tanya, apakah Tuhan masih hadir di antara layar-layar kecil yang kita genggam setiap hari? Kehidupan modern membuat kita bangun pagi bukan untuk berdoa, melainkan untuk memeriksa pesan-pesan yang masuk semalam. Kita menatap layar lebih lama daripada menatap langit. Dalam kesibukan itu, iman sering hanya muncul sekilas, seperti notifikasi yang mudah diabaikan.
Kehidupan digital membawa banyak kemudahan, tetapi juga menciptakan kebisingan baru. Setiap detik ada informasi yang datang tanpa henti. Berita, hiburan, debat, dan komentar. Dalam derasnya arus itu, ruang batin kita perlahan kehilangan hening. Padahal, kesalehan sering tumbuh dari keheningan dari ruang sunyi yang memberi tempat bagi perenungan dan doa. Rasulullah menerima wahyu pertama di gua yang sunyi, bukan di tengah keramaian. Maka, barangkali pertanyaannya bukan apakah dunia digital menghalangi kita dari Tuhan, tetapi bagaimana kita menemukan-Nya di tengah dunia digital itu sendiri.
Kesalehan di Media Sosial
Sekarang ini, banyak dari kita mengunggah kebaikan ke media sosial. Kutipan Al-Quran, doa, sedekah online, atau pengingat shalat. Ini tentu bukan hal buruk. Dunia maya juga bisa menjadi ladang dakwah dan ruang berbagi inspirasi. Namun, di sisi lain, kita perlu waspada. Jangan sampai kesalehan berubah menjadi tontonan, bukan ketulusan. Amal yang sejatinya untuk Allah bisa perlahan bergeser menjadi pencarian likes dan views. Rasulullah pernah mengingatkan, bahwa amal yang disertai riya akan hilang nilainya di sisi Allah. Maka, yang perlu dijaga bukan hanya apa yang kita lakukan di dunia maya, tetapi untuk siapa kita melakukannya.
Langkah-Langkah Menjaga Kesalehan Digital
Kesalehan digital bukan berarti menolak teknologi, tetapi menempatkannya dalam kendali iman. Beberapa langkah sederhana bisa dilakukan:
- Gunakan waktu online untuk hal yang membawa manfaat dan ketenangan.
- Saring konten yang kita konsumsi dan sebarkan.
- Jadikan setiap unggahan sebagai pengingat, bukan pameran.
- Sisihkan waktu "puasa digital" untuk memberi ruang bagi zikir dan tafakur tanpa gangguan layar.
Dengan begitu, gadget bukan lagi penghalang antara kita dan Allah, melainkan jembatan untuk mendekat kepada-Nya.
Keberadaan Tuhan dalam Gadget
Barangkali Tuhan memang tidak berada di layar itu, tetapi di cara kita menggunakannya. Ia hadir ketika jari-jari kita menulis sesuatu yang bermanfaat, ketika hati kita tergerak menolong lewat donasi daring, atau ketika kita menahan diri dari debat sia-sia. Kesalehan digital adalah tentang menjaga niat, meski berada di dunia tanpa batas.
Di tengah derasnya arus notifikasi dan trending topic, tugas kita bukan menolak dunia digital, tetapi menenun kembali makna spiritual di dalamnya. Agar ketika dunia berlomba untuk viral, kita tetap memilih untuk bernilai.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar