
Kebutuhan Pengembangan Soft Skill bagi Generasi Z di Dunia Kerja
Di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat, soft skill kini menjadi faktor utama dalam menentukan kesiapan dan kualitas calon karyawan. Terutama bagi generasi muda, pengembangan soft skill menjadi kebutuhan mendesak mengingat tingkat persaikan yang semakin ketat.
Dalam proses perekrutan, hard skill memang menjadi faktor awal yang membuat pelamar mendapat pertimbangan. Namun, dalam jangka panjang, soft skill lebih menentukan apakah seseorang mampu berkembang, beradaptasi, dan bertahan dalam kariernya. Menurut Society for Human Resource Management (SHRM), soft skill merupakan sekumpulan perilaku yang terbentuk dari pola pikir serta kualitas pribadi seseorang, yang kemudian memengaruhi cara individu tersebut menjalin interaksi dengan orang lain. Keterampilan nonteknis ini memiliki peran besar dalam mendukung performa dan kesuksesan seseorang di lingkungan kerja modern.
Temuan dari LinkedIn Global Talent Trend mengungkap bahwa 89 persen profesional bidang sumber daya manusia meyakini kegagalan rekrutmen umumnya terjadi karena kandidat kurang memiliki kemampuan interpersonal, seperti kecerdasan emosional, komunikasi yang efektif, serta fleksibilitas dalam menghadapi perubahan. Oleh karena itu, penting bagi generasi Z untuk membekali diri dengan soft skill yang relevan agar mampu bersaing secara kompetitif di dunia profesional.
Soft Skill yang Paling Dibutuhkan Gen Z
Forbes menyebutkan bahwa dalam lima tahun ke depan, soft skill akan menjadi kompetensi utama yang paling dibutuhkan karyawan bahkan melebihi penguasaan teknologi. Sementara itu, The Hays Skill Report mengidentifikasi beberapa keterampilan yang harus mendapat perhatian lebih dari Gen Z, antara lain:
-
Komunikasi (36 persen)
Kemampuan ini mencakup kecakapan berbicara, menulis, mendengarkan secara aktif, berempati, serta menyampaikan ide dengan jelas baik secara lisan, tulisan, maupun melalui platform digital. -
Kemampuan Beradaptasi (35 persen)
Di tengah dinamika pekerjaan yang cepat berubah, kemampuan menyesuaikan diri dinilai sangat penting agar individu tetap produktif menghadapi perubahan proses, teknologi, maupun pola kerja. -
Pemecahan Masalah (16 persen)
Keterampilan ini dibutuhkan untuk menganalisis situasi, mencari alternatif, dan menemukan solusi efektif terhadap tantangan pekerjaan sehari-hari. -
Kerja Sama Tim (13 persen)
Kolaborasi menjadi aspek penting mengingat banyaknya proyek yang melibatkan berbagai fungsi, latar belakang budaya, hingga zona waktu yang berbeda.
Tips Perusahaan untuk Mengembangkan Soft Skill Karyawan Gen Z
Usaha untuk mengembangkan soft skill tidak hanya menjadi kewajiban karyawan. Perusahaan juga perlu memberi fasilitas dan kesempatan bagi karyawan Gen Z untuk mengembangkan kemampuan. Keterbatasan jumlah talenta dengan karakteristik yang unggul membuat perusahaan perlu berinvestasi dalam pengembangan soft skill karyawan.
Berikut adalah beberapa metode yang bisa digunakan perusahaan untuk membantu karyawan Gen Z dalam mengembangkan soft skill maupun hard skill:
- Pelatihan kerja (46 persen): seperti workshop, kursus daring, dan bimbingan personal.
- Mentorship (31 persen): yaitu pendampingan langsung dari tenaga profesional.
- Magang (13 persen): sebagai sarana pembelajaran praktik kerja nyata.
- Belajar mandiri (10 persen): yang memungkinkan karyawan meningkatkan kemampuan sesuai kebutuhan pribadi.
Penguasaan soft skill yang matang, bila dipadukan dengan hard skill yang relevan, dianggap sebagai kombinasi ideal bagi Gen Z untuk dapat bersaing dalam dunia kerja. Dengan bekal tersebut, mereka berpeluang lebih besar tidak hanya untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi juga untuk bertahan dan berkembang di lingkungan kerja yang penuh ketidakpastian.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar