
JAKARTA, nurulamin.pro Masuk tahun 2026, publik kembali diingatkan bahwa penipuan digital tidak selalu datang lewat tautan mencurigakan atau tawaran investasi cuan cepat.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut love/relationship/romance scam atau love scam sebagai salah satu tren kejahatan finansial digital yang meningkat dan berlangsung secara global.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi mencontohkan temuan sindikat yang beroperasi lintas negara.
“Terbukti juga di Indonesia yang baru saja kejadian adalah di Yogyakarta ditemukan satu sindikat yang beroperasi secara internasional,” katanya dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Desember 2025 di Jakarta, Jumat (9/1/2026).
Data yang disampaikan OJK menunjukkan besarnya dampak finansial love scam. Hingga akhir 2025, Indonesia Anti-Scam Center (IASC) menerima 3.494 laporan kerugian masyarakat akibat modus love scam dengan total kerugian Rp 49,19 miliar.
Angka ini berdiri di atas lanskap penipuan digital yang lebih luas. IASC menyatakan, laporan penipuan yang masuk sejak 22 November 2024 hingga 11 November 2025 mencapai 343.402 laporan, dengan 563.558 rekening terkait penipuan dilaporkan dan 106.222 rekening diblokir.
Adapun total kerugian yang dilaporkan korban Rp 7,8 triliun, sementara dana yang berhasil diblokir Rp 386,5 miliar.
Di level global, pola merayu untuk menipu juga menjadi perhatian regulator dan penegak hukum.
Otoritas Perilaku Keuangan Inggris (FCA) menilai romance fraud alias penipuan berkedok asmara dapat berdampak finansial dan personal yang menghancurkan.
FCA juga mengingatkan red flags seperti permintaan uang dari orang yang baru dikenal online serta ajakan investasi.
Sementara itu, Biro Investigasi Federal AS (FBI) dalam rilis tahunan Internet Crime Report menyebut total kerugian kejahatan internet yang dilaporkan pada 2024 melampaui 16 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp 269,57 triliun (asumsi kurs Rp 16.848 per dollar AS).
Lantas, apa itu love scam, bagaimana modusnya bekerja, apa ciri-cirinya, dan bagaimana cara menghindarinya?
Apa itu love scam?
Love scam adalah penipuan yang memanfaatkan relasi emosional, kedekatan, perhatian, hingga “janji masa depan” untuk mendorong korban mengirim uang, memberikan data pribadi, atau melakukan transaksi tertentu.
Friderica menjelaskan, para pelaku love scam menargetkan korban di berbagai negara melalui internet dan aplikasi.
"Sehingga kalau kita melihat kejahatan seperti ini adalah risiko lintas batas yang sangat tinggi,” ujar Friderica.
Dia menyebut, para korban love scam dimanipulasi secara emosi, merasa memiliki hubungan dengan sang pelaku, hingga tak menutup kemungkinan dipersuasi sedemikian rupa.
"Sehingga para korban secara sukarela mentransfer sejumlah uangnya karena merasa memiliki hubungan yang khusus spesial dengan lawan jenis, sehingga mereka mengalami kehilangan uang dalam jumlah yang sangat besar,” papar dia.
Di banyak kasus, pelaku tidak beraksi sendirian. Friderca menekankan modus ini dilakukan secara global dan berisiko tinggi lintas batas, karena penipu menargetkan korban di berbagai negara melalui internet dan aplikasi.
Mengapa love scam efektif?
Love scam bekerja bukan terutama lewat kecanggihan teknis, melainkan lewat rekayasa psikologis, yakni membangun rasa aman, menciptakan urgensi, dan mengisolasi korban dari “second opinion”.
FCA menggambarkan korban bisa berada dalam “mantra” (spell) penipu, sehingga bank dan pihak lain perlu membantu “memutus” pengaruh tersebut.
Friderica juga mengingatkan bahwa selain kehilangan uang, korban dapat mengalami dampak psikologis karena manipulasi emosi yang tidak mudah dipulihkan.
Kondisi ini diperparah oleh evolusi teknologi. Satgas PASTI menyoroti meningkatnya penipuan yang memanfaatkan kecerdasan buatan alias Artificial Intelligence (AI), yang membuat skenario penipuan makin meyakinkan dan cepat menyebar.
Modus love scam yang paling sering muncul
Modus love scam sangat beragam, tetapi pola dasarnya mirip, yakni kenalan—intens—percaya—minta transaksi.
Berikut bentuk-bentuk modus love scam yang kerap muncul.
1. “Hubungan kilat” yang dibangun sangat intens
Pelaku mempercepat kedekatan, yakni dengan cara chat panjang setiap hari, panggilan suara, perhatian konstan, lalu cepat masuk ke topik masa depan (“serius”, “menikah”, atau “tinggal bersama”).
Ketika korban sudah terikat emosional, pelaku mulai menormalisasi permintaan bantuan.
2. Alasan klasik: darurat, tertahan, atau butuh bantuan
Permintaan uang biasanya dibungkus kisah yang membuat korban sulit menolak, misalnya biaya rumah sakit, masalah keluarga, tiket pulang, “barang tertahan bea cukai”, atau rekening diblokir. Intinya menciptakan urgensi.
3. “Ayo investasi bareng”, sering terkait kripto atau platform palsu
Salah satu varian paling merusak adalah love scam yang bergeser menjadi ajakan investasi. Korban diarahkan ke platform yang tampak profesional, diminta deposit bertahap, lalu dibuat seolah profit bisa ditarik, sampai akhirnya macet.
Di Inggris, FCA memasukkan saran investasi dari kenalan online sebagai alarm utama.
4. Impersonation: mengaku profesi “tepercaya”
Penipu kerap mengaku tentara, dokter, pekerja migas, atau profesional luar negeri. Ini adalah jenis-jenis peran yang memudahkan alasan tak bisa video call, bertugas rahasia, atau akses internet terbatas.
5. Modus berbasis aplikasi atau agensi atau sindikat
Friderica mengungkapkan, ada praktik menggunakan aplikasi kencan daring, bahkan kloningan aplikasi, untuk membujuk korban melakukan top up atau koin dan transaksi hadiah (gift).
Dalam operasi tangkap tangan operator love scam di Yogyakarta pada Senin (5/1/2026), Friderica menyatakan aplikasi kencan daring kloningan dari aplikasi asal China bernama WOW dimanfaatkan untuk menjerat korban love scam
Ini menggambarkan bahwa love scam bisa dijalankan dengan pola industri: ada skrip, admin chat, dan target negara.
Ciri-ciri love scam yang patut diwaspadai
Mengacu pada peringatan regulator (FCA) dan pesan kewaspadaan OJK dan Satgas PASTI, ciri-ciri love scam berikut berulang di banyak kasus:
- Baru kenal online, tapi cepat meminta uang atau kripto atau voucher atau mengajak investasi. FCA menegaskan alarm harus berbunyi jika orang yang baru dikenal online meminta uang atau menyarankan investasi.
- Tidak mau bertemu atau selalu menolak video call dengan alasan yang berubah-ubah.
- Meminta data sensitif (KTP, OTP, detail rekening, foto kartu, akses akun) dengan dalih verifikasi atau “keperluan pengiriman”.
- Cerita terlalu sempurna atau terlalu tragis, disertai desakan cepat, misalnya harus hari ini atau jangan bilang siapa-siapa.
- Mengisolasi korban: meminta hubungan dirahasiakan, merendahkan keluarga/teman yang mengingatkan.
- Jejak digital janggal: foto profil tampak seperti stok atau foto model, nama tidak konsisten, akun baru dibuat, jejaring pertemanan minim. FCA menyarankan memakai pemeriksa gambar (image checkers) untuk melihat apakah foto ada di tempat lain.
- Arahan transaksi yang tidak lazim: diminta kirim ke banyak rekening, top up berkali-kali, atau memakai kanal yang sulit dilacak atau dikembalikan.
Cara menghindari love scam
Tidak ada langkah tunggal yang pasti aman, tetapi ada kebiasaan yang secara konsisten disarankan, yakni sebagai berikut.
1. Terapkan aturan tidak kirim uang untuk orang yang hanya dikenal online
FCA menyatakan prinsip lugas, yakni jangan pernah mengirim uang, termasuk kripto atau voucher, seberapa pun sedih ceritanya.
Ini juga sejalan dengan pesan kewaspadaan OJK agar masyarakat terus berhati-hati terhadap hal manipulatif, terutama love scam.
2. Perlambat ritme hubungan, verifikasi identitas
Minta video call, minta pertemuan di tempat aman, cek konsistensi cerita, dan lakukan pencarian balik (reverse image search). Jika pihak lain menolak semua verifikasi, itu informasi penting.
3. Pisahkan emosi dari keputusan finansial
Jika mulai masuk pembicaraan uang, berhenti sejenak. Ambil cooling-off time 24 jam sebelum transfer apa pun.
4. Minta second opinion
FCA menyarankan mendapatkan opini kedua dari keluarga atau teman jika perilaku pasangan online mencurigakan dan Anda diminta komitmen finansial.
5. Kenali lanskap penipuan yang lebih luas dan kanal pelaporan
OJK dan Satgas PASTI menekankan edukasi anti-scam melalui berbagai kanal, dan menyediakan jalur pelaporan.
Masyarakat yang menerima penawaran mencurigakan diimbau melapor melalui situs sipasti.ojk.go.id atau kontak OJK 157 dan kanal resmi lainnya.
Jika sudah terlanjur jadi korban love scam, apa yang bisa dilakukan?
Kecepatan respons sering menentukan peluang pemblokiran. IASC dibentuk untuk mempercepat koordinasi penanganan penipuan, termasuk pemblokiran rekening.
Dalam data yang dipublikasikan OJK, dari kerugian yang dilaporkan korban melalui IASC, sebagian dana bisa diblokir, meski nilainya masih jauh dari total kerugian.
Langkah praktis yang umumnya disarankan otoritas adalah sebagai berikut.
- Segera hubungi bank atau penyedia layanan pembayaran dan minta penanganan transaksi (blokir atau recall bila memungkinkan).
- Kumpulkan bukti: chat, bukti transfer, nomor rekening, tautan, username, email, nomor telepon, tangkapan layar.
- Laporkan melalui kanal resmi (IASC/Sipasti OJK, serta aparat penegak hukum sesuai ketentuan yang berlaku).
- Hentikan komunikasi dengan pelaku, dan waspadai scam lanjutan (recovery scam): pihak yang mengaku bisa mengembalikan uang dengan syarat bayar biaya dulu.
Love scam dalam angka: sinyal yang tidak bisa diabaikan
Angka-angka dari OJK memberi gambaran bahwa love scam bukan “kasus hati” semata, melainkan bagian dari risiko keuangan digital.
OJK menerima 3.494 laporan love scam dengan kerugian Rp 49,19 miliar hingga akhir 2025.
Dalam lanskap penipuan yang lebih luas, IASC mencatat 343.402 laporan penipuan sejak 22 November 2024 hingga 11 November 2025, dengan kerugian dilaporkan Rp7,8 triliun dan dana diblokir Rp 386,5 miliar.
Di level global, rilis FBI menyebut kerugian kejahatan internet yang dilaporkan pada 2024 melampaui 16 miliar dollar AS.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar