
Gaya berbanding lurus dengan tekanan, maka jika saat ini kamu merasa hidupmu penuh tekanan, itu artinya kamu sudah kebanyakan gaya.
Dalam fisika, P = F/A
Di mana P = Tekanan, F = Gaya, dan A = Luas permukaan.
Sedangkan dalam kehidupan sehari-hari, rumusnya menjadi:
Tekanan hidup = Gaya hidup/Kemampuan diri
Semakin besar gaya hidup yang kamu pertontonkan, sementara kemampuan alias dompet dan mentalmu segitu-gitu saja (luas permukaan tetap), maka tekanan hidupmu otomatis akan meletus seperti balon hijau.
Yang gaya hidupnya biasa saja, terkadang sudah merasa tertekan oleh kebutuhan pokok. Lantas, bagaimana yang terlalu banyak gaya? Padahal kemampuannya masih terbilang biasa-biasa saja.
Kita hidup di zaman ketika "gaya hidup" sudah seperti mata pelajaran wajib. Nongkrong bukan buat ngobrol, tapi untuk membuktikan bahwa kamu selalu eksis.
Ngopi di kafe wajib difoto dari puluhan sudut berbeda, lalu diunggah di sosmed. Tak lupa diberi caption yang panjang, bagaikan sedang menulis cerpen. Kira-kira, kamu beneran happy atau jangan-jangan lagi ngos-ngosan mengejar standar hidup yang kamu buat sendiri?
Kebanyakan gaya itu ibarat memakai baju kesempitan. Dari luar kelihatan ramping, padahal di dalam terasa sesak, sulit bernafas, hingga kancing nyaris lepas.
Siapa sih yang melarang kamu bergaya? Ngga ada. Tapi ini bukan soal kamu boleh atau ngga boleh bergaya, dan tampil keren. Yang jadi masalah adalah kalau gaya hidupmu sudah sampai membuat pikiranmu tidak tenang, maka kamu tidak bisa disebut keren, melainkan me-mak-sa-kan.
Kalau setiap keputusan hidupmu diawali dengan kalimat, "Biar kelihatan ini.... Biar kelihatan itu...." Hati-hati, bisa jadi kamu bukan lagi hidup untuk merasakan kesenangan, melainkan hidup untuk ditonton.
Standar hidup yang dibuat tanpa berpikir panjang, biasanya tidak jauh dari mengikuti perkembangan tren. Jika selalu bisa mengikuti tren, mungkin rasanya memang seru. Kamu akan merasa selalu kekinian, dan pastinya terlihat up to date.
Tapi lama kelamaan, kamu akan sadar kalau tren itu sangat cepat berubah. Belum sempat menikmati, kamu sudah harus bersiap-siap mengikuti tren yang baru. Entah tren pakaian, gaya rambut, tempat nongkrong, atau tren gaya hidup lainnya.
Dampaknya, bukan cuma dompet yang jadi korban. Kalau terlalu sering memaksakan diri untuk selalu mengikuti tren, kamu bisa kehilangan rasa percaya diri dan merasa "kurang" terus. Kurang keren, kurang update, dan kurang ini itu.
Padahal, belum tentu kamunya yang kurang, kamu cuma terlalu sibuk membandingkan dirimu dengan orang lain. Kamu menjadi mudah cemas dan rentan mengalami stres.
Yang jadi pertanyaan, apa kamu yakin benar-benar happy kalau hidupmu terus menerus diatur oleh tren? Kalau hidupmu hanya untuk mengikuti tren, kapan kamu punya waktu untuk mengerti siapa dirimu sesungguhnya?
Alangkah lebih baik jika kita lebih selektif dalam memilih keputusan, yang mana kebutuhan dan yang mana perlu dikurangi, atau bahkan ditinggalkan. Di sinilah pentingnya menentukan prioritas.
Jadi, kalau sekarang kamu merasa tekanan hidup makin besar, coba dicek dulu.. mungkin gayamu sudah melewati batas kemampuan diri. Sebab terkadang, tanpa disadari yang kamu butuhkan bukan gaya yang baru, tapi cukup menjalani kehidupan dengan lebih ringan.
Dan.. jangan lupakan ilmu fisika yang satu ini, "Saat gaya semakin besar, maka tekanan semakin tinggi." Begitu juga dengan hidup, "Semakin memaksakan gaya, semakin berat juga tekanan di dalam hidup."(*)
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar