
Membaca tulisan Omjay tentang semakin langkanya GoPay di nurulamin.promenghadirkan perasaan yang tidak sederhana. Ada empati, ada kegelisahan, dan ada rasa "ikut memiliki" yang barangkali juga dirasakan banyak Kompasianer lain, terutama mereka yang sudah lama tumbuh bersama platform ini.
Kegelisahan itu sah. Ia lahir dari pengalaman panjang, dari konsistensi menulis, dari kesetiaan pada sebuah ruang yang dulu terasa sangat hidup.
Namun justru karena tulisan tersebut lahir dari cinta, maka ruang dialog seharusnya tetap terbuka. Tidak semua kegelisahan harus dijawab dengan persetujuan penuh. Ada kalanya, cinta pada sebuah platform juga berarti keberanian untuk membaca perubahan dengan cara yang berbeda.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menafikan perasaan kecewa, apalagi meremehkan suara para penulis senior.
Tulisan ini justru ingin mengajak kita semua berhenti sejenak, menarik napas, dan bertanya ulang: apakah benar GoPay adalah ukuran utama apresiasi di nurulamin.prohari ini?
Atau jangan-jangan, kita sedang menghadapi perubahan ekosistem yang belum sepenuhnya kita pahami?
Dari Ruang Berbagi ke Ruang Ekspektasinurulamin.prolahir sebagai ruang berbagi gagasan. Ia bukan sekadar platform blog, melainkan arena di mana warga biasa bisa berbicara, menulis, dan menyampaikan perspektifnya tentang apa pun: pendidikan, politik, kebijakan publik, kehidupan sehari-hari, hingga kisah-kisah personal yang kerap luput dari media arus utama.
Pada fase awal pertumbuhannya, kehadiran GoPay menjadi angin segar. Ia memantik semangat, memberi rasa dihargai, dan membuat banyak penulis merasa tulisannya "dibaca oleh sistem".
Dalam konteks itu, GoPay bekerja bukan hanya sebagai insentif finansial, tetapi juga simbol pengakuan.
Masalah mulai muncul ketika simbol perlahan bergeser menjadi tolok ukur. Ketika apresiasi semakin sering dimaknai sebagai nominal, bukan sebagai resonansi gagasan.
Ketika pertanyaan setelah menulis bukan lagi "apa yang ingin saya sampaikan?", melainkan "apakah ini berpotensi GoPay?"
Perubahan ini nyaris tak terasa, tetapi dampaknya pelan-pelan mengubah relasi antara penulis dan platform. nurulamin.proyang semula menjadi ruang berbagi, berisiko dipersepsikan sebagai ruang ekspektasi.
Padahal sejak awal, tidak pernah ada kontrak tak tertulis bahwa setiap tulisan yang baik akan selalu berujung pada insentif.
Di titik inilah, kekecewaan mudah tumbuh. Bukan semata karena GoPay berkurang, melainkan karena ekspektasi yang terlanjur tinggi tidak lagi bertemu kenyataan.
Apresiasi Tidak Selalu Berbunyi NotifikasiAda satu kenyataan yang sering luput kita sadari: tidak semua bentuk apresiasi berbunyi notifikasi. Tidak semua pengakuan hadir dalam bentuk saldo digital. Dalam dunia kepenulisan, apresiasi sering kali justru hadir secara sunyi.
Ia hadir ketika tulisan kita dikutip orang lain tanpa kita tahu. Ketika gagasan kita menjadi bahan diskusi di ruang kelas, grup WhatsApp, atau forum kecil. Ketika pembaca diam-diam merasa terwakili, tercerahkan, atau terhibur, meski tak pernah meninggalkan komentar.
nurulamin.pro, pada dasarnya, adalah ruang publik. Di ruang publik, resonansi gagasan tidak selalu linier dengan sistem reward. Tulisan yang viral belum tentu paling bermakna, dan tulisan yang sunyi belum tentu tidak penting.
Di sinilah barangkali kita perlu lebih adil pada diri sendiri sebagai penulis. Jika sejak awal kita menulis karena panggilan berbagi, maka seharusnya nilai tulisan tidak runtuh hanya karena satu bentuk apresiasi semakin jarang datang. GoPay boleh berkurang, tetapi makna menulis seharusnya tidak ikut menipis.
Ini bukan ajakan untuk menormalisasi kekecewaan, melainkan upaya untuk memperluas cara kita memaknai penghargaan.
Kurasi, Kualitas, dan Ruang yang TerbatasKeluhan tentang kurasi adalah hal yang wajar. Setiap penulis, cepat atau lambat, akan merasa tulisannya "layak", tetapi tidak mendapatkan sorotan. Namun perlu diakui, kurasi adalah keniscayaan dalam platform sebesar nurulamin.pro.
Ruang utama selalu terbatas, sementara tulisan yang masuk jumlahnya ribuan. Dalam kondisi seperti itu, seleksi tidak bisa sepenuhnya objektif.
Ada faktor momentum, ada konteks sosial, ada kebutuhan redaksional, dan ada pertimbangan pembaca yang tidak selalu bisa dijelaskan satu per satu.
Ketika tulisan kritis tidak muncul di ruang utama, bukan berarti ia dibungkam. Bisa jadi, ia hanya tidak berada pada irisan kebutuhan saat itu. Ini memang tidak selalu memuaskan, tetapi tidak otomatis berarti kualitas dikorbankan.
Justru di sinilah tantangan Kompasianer diuji. Apakah kita menulis untuk ruang utama, atau menulis karena gagasan itu perlu disampaikan, apa pun risikonya?
Tulisan-tulisan kritis memang tidak selalu nyaman. Ia kerap berjalan di lorong sunyi. Tetapi sejarah menunjukkan, gagasan penting sering kali lahir dari ruang-ruang yang tidak ramai.
Menulis Kritis Tanpa Bergantung pada InsentifAda ironi yang perlu kita sadari bersama. Ketika tulisan kritis menuntut keberanian, tetapi pada saat yang sama mengharapkan insentif, maka kritik itu sendiri menjadi rentan. Bukan salah, tetapi rapuh.
Kritik yang kuat biasanya lahir dari kebebasan. Ia tidak menunggu validasi, apalagi imbalan. Ia berdiri karena keyakinan bahwa suara itu perlu disampaikan, meski tidak selalu disambut.
Jika menulis kritis hanya terasa sah ketika diberi GoPay, maka yang sedang kita pertaruhkan bukan hanya keadilan sistem, tetapi juga kemerdekaan berpikir. Kritik yang terlalu bergantung pada reward berisiko kehilangan daya gigitnya.
Bukan berarti penulis tidak layak diapresiasi. Justru sebaliknya. Tetapi apresiasi terbaik bagi tulisan kritis sering kali bukan finansial, melainkan keberlanjutan ruang itu sendiri.
Selama nurulamin.promasih memberi ruang bagi suara berbeda, maka kritik belum sepenuhnya kalah.
nurulamin.prodan Tantangan Menjadi Dewasa Bersamanurulamin.prohari ini tidak sama dengan nurulamin.prosepuluh tahun lalu. Ekosistem digital berubah, pola pembaca berubah, dan cara platform bertahan juga berubah. Tidak semua perubahan menyenangkan, tetapi tidak semua perubahan berarti kemunduran.
Mungkin kini nurulamin.prosedang bergerak dari platform berbasis insentif menuju platform berbasis reputasi dan jejak gagasan. Di fase ini, nilai penulis tidak lagi diukur dari seberapa sering mendapat GoPay, melainkan dari konsistensi, kedalaman, dan integritas tulisannya dalam jangka panjang.
Bagi penulis senior, fase ini memang tidak mudah. Ada rasa kehilangan, ada nostalgia, ada kerinduan pada masa ketika apresiasi terasa lebih nyata. Tetapi menjadi dewasa bersama sebuah platform juga berarti bersedia menerima bahwa rumah yang kita cintai akan terus berubah.
Menulis di nurulamin.pro, pada akhirnya, adalah pilihan. Pilihan untuk tetap bersuara meski sunyi. Pilihan untuk tetap berbagi meski tidak selalu diberi imbalan. Pilihan untuk percaya bahwa gagasan yang jujur tidak pernah benar-benar sia-sia.
GoPay boleh bukan lagi ukuran utama apresiasi. Namun selama nurulamin.promasih menjadi ruang bagi narasi warga, refleksi sosial, dan suara yang beragam, maka makna menulis masih layak diperjuangkan.
Dan barangkali, di situlah letak apresiasi paling hakiki: ketika kita tetap menulis, bukan karena apa yang kita dapatkan, tetapi karena apa yang ingin kita wariskan dalam bentuk gagasan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar