Ketika HP Merusak Masa Kecil Anak Papua: Nelson Wenda Minta Pemerintah Bertindak Cepat

Anak-anak Papua dan Kekuasaan Gadget

Di sebuah sudut kampung di Lembah Baliem, seorang anak duduk termenung di depan rumah. Matanya terpaku pada layar ponsel, jarinya lincah menekan-nekan layar HP yang membuatnya lupa waktu. Sementara itu, ibunya memanggil berulang kali agar ia membantu menyiapkan makanan. Anak itu tak bergeming. Dunia digital telah berkibar lebih kuat daripada panggilan tradisi.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Wamena. Di Jayapura, Nabire, Dogiyai, Yahukimo hingga Pegunungan Bintang dan seluruh Papua bahkan Indonesia, HP kini menjadi orang tua kedua bagi sebagian anak Papua. Gadget yang seharusnya menjadi alat bantu belajar, justru mengambil alih jam tidur, mengurangi interaksi sosial, dan memotong jalur mereka menuju dunia nyata.

Di tengah kekhawatiran itu, Anggota DPD RI asal Papua Pegunungan, Nelson Wenda, muncul membawa suara peringatan yang lebih keras. Ia menyampaikan bahwa penggunaan HP tanpa pengawasan telah merusak konsentrasi belajar, kesehatan mata, moral, dan karakter anak. Pemerintah harus segera bertindak bersama orang tua, tokoh masyarakat, dewan adat, dan Majelis Rakyat Papua.

"Semua harus bicara sebelum kita kehilangan satu generasi," tegasnya di sela kunjungannya di gereja Baptis, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegungan, Jumat (12/12/2025).

Nelson melihat langsung bagaimana anak-anak Papua, yang dulu tumbuh kuat dalam kebun, bermain di sungai, berlari di padang dan pegunungan, kini lebih mengenal layar daripada tanah. Lebih hafal suara notifikasi TikTok daripada irama suara alam.

Sementara Indonesia masih berdebat soal batasan penggunaan HP, Australia hari ini resmi mengumumkan larangan bagi anak di bawah 16 tahun menggunakan media sosial. Pernyataan Perdana Menteri Australia menggema di banyak ruang diskusi dunia demi masa depan generasi muda mereka. Bagi Nelson, langkah itu harus menjadi alarm keras.

"Papua tidak boleh hanya menonton. Kita harus hadir, memberi edukasi, membuat aturan sekolah, dan bekerja sama dengan gereja, masjid, komunitas adat, serta kepala kampung untuk mengawasi anak-anak. Ini urusan masa depan bangsa," katanya.

Di kampung-kampung Papua, perubahan pola hidup anak terlihat jelas. Mereka kini lebih sering duduk sendiri dengan ponsel, daripada berlari mengejar bola. Tradisi mendengar nasihat leluhur di sekitar tungku api dalam honai dan para-para perlahan hilang, tergantikan cahaya layar yang menyilaukan.

"Anak Papua hari ini lebih dekat dengan HP daripada dengan alam, cerita adat, dan nilai gotong royong. Ini berbahaya. Orang tua tidak boleh menyerah hanya karena anak menangis minta HP. Kita harus tegas," lanjut Nelson.

Ia mendorong pemerintah daerah menyusun program literasi digital, menetapkan batas penggunaan HP di sekolah, dan melakukan kampanye besar-besaran mengenai bahaya gawai bagi anak-anak. Karena bagi Nelson, masa depan Papua bukan hanya dibangun lewat infrastruktur dan anggaran. Ia lahir dari anak-anak yang tumbuh sehat, fokus, kuat, dan tetap berakar pada nilai budaya.

Sementara suara anak-anak tertawa di alam mulai kalah oleh suara notifikasi dari aplikasi hiburan. Panggilan Nelson Wenda menjadi pengingat. "Jika HP yang mengasuh generasi Papua, maka masa depan bisa tergadai. Dan waktunya kita semua harus bertindak adalah sekarang," ujarnya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan