
Peran Media Sosial dalam Kehidupan Muslim
Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Dari bangun tidur hingga menjelang terlelap, jari kerap lebih sibuk menggulir layar ponsel dibandingkan membuka mushaf atau menunaikan ibadah tepat waktu.
Fenomena ini perlahan menimbulkan kegelisahan: ketika media sosial mulai melalaikan kewajiban kepada Allah SWT, bagaimana Islam memandangnya?
Media Sosial: Sarana atau Sumber Kelalaian?
Pada dasarnya, Islam tidak menolak kemajuan teknologi. Media sosial dapat menjadi sarana dakwah, silaturahmi, hingga sumber informasi yang bermanfaat. Namun, persoalan muncul ketika penggunaannya berlebihan hingga melalaikan ibadah wajib seperti shalat, membaca Al-Qur’an, zikir, bahkan kewajiban sosial.
Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9)
Ayat ini menegaskan bahwa segala sesuatu—termasuk media sosial—yang membuat seorang Muslim lalai dari mengingat Allah dapat menjadi sebab kerugian spiritual.
Lalai Shalat karena Layar Genggaman
Salah satu dampak paling nyata dari kecanduan media sosial adalah menunda bahkan meninggalkan shalat. Tidak sedikit orang yang terus asyik menonton video atau membaca komentar hingga waktu shalat berlalu tanpa disadari.
Padahal, Rasulullah SAW bersabda:
“Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, maka sungguh ia telah kafir.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan betapa seriusnya posisi shalat dalam Islam. Ketika media sosial menjadi alasan utama untuk menunda shalat, maka hal tersebut patut menjadi bahan muhasabah yang mendalam.
Media Sosial dan Penyakit Hati
Selain melalaikan ibadah, media sosial juga berpotensi menumbuhkan penyakit hati seperti riya, hasad, dan ujub. Pamer ibadah, membandingkan kehidupan, serta mencari pengakuan manusia sering kali lebih dominan daripada mengharap ridha Allah.
Rasulullah SAW mengingatkan:
“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.”
Para sahabat bertanya, “Apakah itu syirik kecil, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Riya.”
(HR. Ahmad)
Ketika ibadah atau kebaikan dipublikasikan semata-mata demi pujian dan popularitas, maka nilai keikhlasan pun terancam.
Waktu sebagai Amanah yang Akan Dipertanggungjawabkan
Islam memandang waktu sebagai amanah besar. Setiap detik akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Media sosial yang menyita waktu berjam-jam tanpa manfaat jelas dapat menjadi sebab penyesalan di akhirat.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini menjadi pengingat bahwa waktu yang habis untuk hal sia-sia—termasuk penggunaan media sosial tanpa kendali—akan dimintai pertanggungjawaban.
Bijak Menggunakan Media Sosial dalam Pandangan Islam
Islam mengajarkan prinsip keseimbangan (wasathiyah). Media sosial boleh digunakan selama tidak melanggar syariat dan tidak melalaikan kewajiban. Beberapa sikap yang dianjurkan antara lain:
- Mendahulukan ibadah wajib sebelum membuka media sosial
- Mengatur waktu penggunaan agar tidak berlebihan
- Menggunakan media sosial untuk dakwah dan kebaikan
- Menjaga niat agar tetap ikhlas dan tidak mencari pujian
- Menjauhi konten yang melalaikan, provokatif, dan merusak akhlak
Allah SWT berfirman:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan.”
(QS. Al-‘Ashr: 1–3)
Saatnya Muhasabah Diri
Media sosial hanyalah alat, bukan tujuan hidup. Ketika ia mulai melalaikan ibadah, menjauhkan dari Allah, dan menggerus waktu tanpa makna, maka seorang Muslim perlu berhenti sejenak untuk bermuhasabah.
Islam mengajarkan agar teknologi menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan sebaliknya.
Mengendalikan diri di tengah derasnya arus digital adalah bentuk jihad zaman ini—jihad melawan hawa nafsu agar tetap istiqamah dalam ketaatan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar