Ketika Perasaan Mengalahkan Kebenaran


Ketika Kita Menilai Berdasarkan Emosi, Bukan Realita yang Ada

Pernahkah kamu merasa bahwa seseorang hanya bisa memahami sesuatu jika ia sudah mengalaminya? Saya pernah percaya begitu. Bahkan, saya pernah menggunakan kalimat itu untuk menutup diskusi dengan orang lain: "Kamu belum pernah ngalamin, jadi nggak usah sok ngerti."

Namun, semuanya berubah ketika saya bertemu seorang teman bernama Arta. Ia tidak hanya membongkar mitos ini, tetapi juga mengajak saya melihat kembali bagaimana emosi bisa mengaburkan realita.

Kisah Arta: Ketika Emosi Terasa Lebih Nyata dari Kebenaran

Arta datang dengan mata merah dan suara yang masih bergetar. Sebelum ia berkata apa pun, ia langsung menyampaikan keyakinannya:

"Mas Umar, saya yakin semua orang itu jahat. Saya udah lihat sendiri. Saya udah ngalamin."

Saya tidak membantah. Saya hanya mempersilakannya duduk dan membiarkan ia menceritakan pengalamannya. Arta bercerita tentang:

  • Sahabat yang mengkhianatinya.
  • Pasangan yang meninggalkannya.
  • Atasan yang menuduhnya tanpa bukti.

Setiap kali ia bercerita, pola yang sama muncul: Arta tidak sedang menceritakan kejadian, tapi sedang "menceritakan emosinya". Namun, seperti kebanyakan dari kita, ia mengira keduanya sama.

Satu Pertanyaan yang Membuat Arta Terdiam

Saya bertanya pelan, tanpa mengusik lukanya:

"Arta... yang kamu lihat itu realitanya? Atau realita yang sudah dibentuk oleh rasa sakitmu?"

Arta terdiam lama. Ia menatap lantai, seperti sedang membaca ulang memorinya sendiri. Lalu ia berkata lirih:

"Saya nggak tahu. Rasanya benar banget waktu itu."

Dan di situlah letak masalah kita semua: ketika rasa menjadi ukuran kebenaran. Saat emosi sedang memegang kendali, pengalaman terasa absolut, padahal itu hanya fragmentasi kecil dari realita.

Ketika Emosi Menciptakan Ilusi

Di sesi berikutnya, saya mengajak Arta melihat ulang kejadian-kejadian itu, bukan dari rasa, tapi dari "jarak". Hal-hal yang ia anggap "fakta", perlahan terlihat berbeda:

  • Pengkhianatan sahabatnya ternyata dimulai dari miskomunikasi yang tidak pernah dibereskan.
  • Pasangannya menjauh bukan karena ingin menyakiti, tapi karena tekanan keluarga yang tidak pernah diceritakan.
  • Atasannya menuduhnya bukan karena membencinya, tapi karena laporan bawahan lain yang keliru.

Realita yang Arta alami tidak berubah. Tetapi cara Arta melihat realita berubah total. Dan ia terkejut pada dirinya sendiri.

"Mas... kenapa pas aku masih emosi, semuanya terlihat lebih gelap dari kenyataannya?"

Saya menjawab:

"Karena emosi itu seperti kacamata hitam. Ia membuatmu percaya dunia sedang gelap, padahal yang gelap kacamata itu."

Pengalaman Arta Adalah Pengalaman Kita Semua

Arta bukan satu-satunya yang terjebak dalam mitos "harus mengalami dulu". Banyak orang memakai pengalaman (yang penuh emosi) untuk membungkam orang lain atau menutup pintu pemahaman. Padahal:

  • Emosi = apa yang kita rasakan.
  • Realita = apa yang benar-benar terjadi.

Dan keduanya jarang sekali berbarengan.

Mengapa Pengalaman Pribadi Tidak Selalu Bisa Dijadikan Kebenaran?

Kisah Arta membuka tiga fakta penting yang jarang dibahas:

  1. Pengalaman dipenuhi bias. Yang diingat bukan peristiwanya, tapi rasa terluka yang menyertainya.
  2. Emosi membuat kita menyempitkan dunia.
  3. Satu orang menyakiti dirasa seperti semua manusia jahat.
  4. Satu kegagalan dirasa seperti seluruh hidup terasa kacau.
  5. Ketika emosi memimpin, logika berhenti bekerja. Bukan karena kita tidak bisa berpikir, tapi karena otak memprioritaskan rasa, bukan fakta.

Momen Ketika Arta Tersadar

Di salah satu sesi terakhir, Arta berkata:

"Mas, saya baru sadar sesuatu. Ternyata saya nggak pernah melihat kenyataan... Saya cuma melihat yang saya rasakan."

Saya tersenyum. Itu bukan jawaban dari saya. Itu adalah "penemuan diri Arta sendiri".

Di Sini Pelajaran Besarnya:

Manusia tidak harus mengalami semua hal untuk memahaminya. Terkadang, justru yang tidak mengalami melihat lebih jernih karena ia tidak sedang tenggelam dalam emosi. Sains bisa lahir bukan karena pengalaman pribadi, tapi karena kemampuan "menjaga jarak dari pengalaman". Pemahaman mendalam muncul bukan dari luka, tapi dari kemampuan membaca pola di balik luka.

Akhirnya Arta Mengakui...

"Selama ini saya pikir kalau saya sudah ngalamin, berarti saya benar. Tapi ternyata pengalaman saya masih harus diuji. Kalau nggak, saya cuma mengulang rasa yang sama."

Ini bukan hanya pelajaran bagi Arta. Ini pelajaran bagi kami semua yang sering merasa paling benar karena "pernah mengalami". Padahal pengalaman hanya pintu. "Penalaran-lah yang membangun rumahnya".

Penutup:

Saya menulis ini bukan untuk meniadakan pengalaman hidup seseorang. Justru sebaliknya: Pengalaman itu berhargatapi pengalaman bukan kebenaran terakhir. Karena sering kali, yang menyakitkan bukan pengalamannya, tetapi "cara" kita menilai pengalaman itu dengan emosi, bukan dengan kejernihan.

Jika Arta bisa keluar dari mitos itu, mungkin kita juga bisa mulai bertanya hari ini: "Apakah saya sedang melihat realita... atau hanya emosi saya yang sedang bising?"

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan