
Tantangan dan Peluang Konsolidasi Perbankan di Indonesia
Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) menyambut baik ajakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar Kelompok Bank Bermodal Inti (KBMI) 1 melakukan konsolidasi. Dalam pandangan Ketua Umum Perbanas, Hery Gunardi, permodalan bank-bank yang masuk dalam KBMI 1 secara industri cukup baik, meskipun ada beberapa indikator yang masih perlu diperhatikan.
“Kita lihat Capital Adequacy Ratio (CAR) dari KBMI 1 secara industri itu rata-rata berkisar sekitar 31,5%,” ujarnya dalam acara 40 Bisnis Indonesia Group Conference di Jakarta, Senin (8/12/2025). Meski CAR tergolong baik, Hery mengungkapkan bahwa Return on Asset (ROA) dari kelompok ini masih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan belum sepenuhnya optimal.
Selain itu, dari sisi Net Interest Margin (NIM), bank-bank KBMI 1 memiliki angka yang cukup baik. Namun, Hery juga menyebutkan bahwa Loan at Risk (LAR) dari kelompok ini berada pada posisi yang cukup tinggi. Ini menjadi perhatian khusus karena dapat memengaruhi stabilitas keuangan perbankan.
Dari segi efisiensi, Beban Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) dari KBMI 1 mencapai hampir 83%, sedangkan untuk KBMI IV hanya sekitar 64%. Angka ini menunjukkan bahwa bank-bank dalam KBMI 1 masih memiliki ruang untuk meningkatkan efisiensi operasional.
Hery menilai bahwa kondisi ini perlu disikapi dengan langkah-langkah strategis, salah satunya adalah menerapkan ajakan OJK untuk melakukan konsolidasi. “Jadi ke depannya mungkin ajakan yang disampaikan oleh OJK itu, untuk melakukan konsolidasi itu benar-benar bisa terjadi,” katanya.
Menurut Hery, rencana OJK cukup baik. Tujuan utama dari penghapusan KBMI 1 adalah untuk menciptakan perbankan yang lebih efisien, produktif, dan berdaya saing. Ia menilai bahwa bank harus memiliki kemampuan ekonomi tertentu. Bank dengan aset di bawah Rp10 triliun akan kesulitan untuk berkembang, mendapatkan margin, serta melakukan investasi.
Ia memberikan contoh dari kasus merger bank syariah milik Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) yang membentuk Bank Syariah Indonesia. Setelah merger, aset masing-masing bank yang sebelumnya berada di bawah Rp100 triliun kini menjadi lebih dari Rp200 triliun. Pertumbuhan aset, dana pihak ketiga (DPK), kredit, hingga laba tumbuh double digit pasca merger.
“Itu menurut kami perlu dipertimbangkan bahwa memang dengan size yang ada, ekonomi skill-nya dapat, dan banknya akan cepat tumbuh,” ujarnya.
Langkah OJK dalam Mendorong Konsolidasi Perbankan
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, sebelumnya menyampaikan bahwa dalam waktu dekat pihaknya akan menghapus KBMI 1 dari sistem pengelompokan bank. Langkah ini diambil untuk mendorong konsolidasi perbankan sehingga struktur perbankan nasional menjadi lebih efisien.
“Dalam jangka waktu yang mungkin tidak terlalu lama, saya akan menghapuskan KBMI I. Jadi, yang ada cuma tiga [kelompok KBMI], enggak ada 4. Yang KBMI I itu berarti harus bergeser ke KBMI II,” kata Dian dalam acara Indonesia Islamic Finance Summit 2025 di Surabaya pada Selasa (4/11/2025).
Dian menjelaskan bahwa OJK telah berdiskusi dan mendorong bank-bank KBMI 1 untuk mulai berbicara tentang kemungkinan merger. Menurutnya, konsolidasi bank dengan opsi merger di negara dengan skala ekonomi besar seperti Indonesia tidak bisa dihindari.
OJK juga telah menyampaikan imbauan formal kepada bank-bank KBMI 1 melalui surat yang dikirim pada akhir Oktober 2025. Kendati begitu, Dian menegaskan bahwa OJK tidak memaksakan proses konsolidasi berlangsung terlalu cepat. Pihaknya memberikan waktu yang cukup agar seluruh proses berjalan hati-hati dan berkesinambungan demi menciptakan struktur perbankan yang lebih sehat.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar