KH Amal Fathullah Zarkasyi meninggal dunia karena apa? Ini biodata pimpinan Pondok Modern Gontor

KH Amal Fathullah Zarkasyi meninggal dunia karena apa? Ini biodata pimpinan Pondok Modern GontorBERITA DIY - Awan duka menggelayut tebal di langit Pondok Modern Darussalam Gontor. Sabtu, 3 Januari 2026, menjadi hari yang kelabu bagi ribuan santri, alumni, dan umat Islam di Indonesia.

Salah satu pilar utama pendidikan pesantren modern, Prof. Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A., telah berpulang ke Rahmatullah.

Kabar duka ini menyebar cepat bagai kilat di berbagai grup pesan singkat dan media sosial, meninggalkan rasa kehilangan mendalam. Prof. Amal bukan sekadar pemimpin; beliau adalah simbol dari integrasi tradisi pesantren dengan kemajuan akademik modern.

Di bawah bimbingannya, Gontor tidak hanya melahirkan ulama yang faqih agama, tetapi juga intelektual yang siap menjawab tantangan zaman.

Namun, di tengah gelombang belasungkawa yang mengalir, terdapat pertanyaan yang tersirat di benak masyarakat yang mencintai beliau: Apa yang menyebabkan wafatnya sang guru besar ini?

Serta bagaimana perjalanan hidup putra pendiri Gontor ini dalam mendedikasikan seluruh usianya untuk pendidikan umat? Untuk mengenang jasa-jasa beliau, mari kita telusuri jejak langkah sang mujahid pendidikan dari masa ke masa.

Putra Pendiri yang Tumbuh dalam Tradisi Pengabdian

Prof. Amal Fathullah Zarkasyi lahir di Ponorogo pada tanggal 4 November 1949. Beliau bukanlah orang asing di lingkungan pesantren tersebut; beliau adalah putra keempat dari K.H. Imam Zarkasyi, salah satu dari Trimurti (tiga pendiri) Pondok Modern Darussalam Gontor.

Darah pejuang pendidikan mengalir deras dalam nadinya. Sejak belia, beliau dididik dalam disiplin ketat Kulliyyatul Mu’allimin al-Islamiyyah (KMI), sistem pendidikan khas Gontor yang menekankan kemandirian, keilmuan, dan penguasaan bahasa asing. Warisan inilah yang kelak beliau jaga dan kembangkan hingga akhir hayatnya.

Perjalanan Intelektual: Dari Gontor hingga Kairo dan Malaysia

Riwayat pendidikan Prof. Amal mencerminkan sosok pembelajar sejati yang tidak pernah puas dengan satu gelar. Mengutip data dari situs resmi Pondok Modern Darussalam Gontor, perjalanan akademiknya tersusun rapi secara bertahap:

  1. Sarjana Muda (B.A.): Diselesaikan di Institut Pendidikan Darussalam (IPD) Gontor pada tahun 1973.

  2. Sarjana Lengkap (Drs.): Meraih gelar di Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya pada tahun 1978 dengan spesialisasi Perbandingan Agama.

  3. Magister (M.A.): Melanjutkan studi ke "Kiblat Ilmu", Universitas Kairo, Mesir, dan meraih gelar Magister Filsafat Islam pada tahun 1987.

  4. Doktor (Ph.D.): Menuntaskan pendidikan doktoral bidang Aqidah dan Pemikiran Islam di Universitas Malaya, Kuala Lumpur, pada tahun 2006.

Puncak karier akademiknya ditandai dengan pengukuhannya sebagai Guru Besar (Profesor) bidang Ilmu Aqidah di Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor pada tahun 2014.

Beliau adalah profesor pertama yang lahir dari rahim UNIDA Gontor, sebuah tonggak sejarah penting bagi perguruan tinggi berbasis pesantren.

Jejak Karier: Dari Guru KMI hingga Pimpinan Pondok

Hidup Prof. Amal adalah definisi nyata dari kata "pengabdian". Beliau memulai kariernya dari bawah, yakni sebagai guru biasa di KMI sejak tahun 1969. Ketekunannya membawanya menapaki berbagai jenjang amanah strategis:

  • Menjadi Dosen di IPD Gontor (1978–1980).

  • Menjabat sebagai Dekan Fakultas Ushuluddin (1988–2000).

  • Dipercaya sebagai Pembantu Rektor di Institut Studi Islam Darussalam (ISID) dalam dua periode berbeda (1996–2000 dan 2006–2014).

  • Menjabat sebagai Rektor Universitas Darussalam Gontor (2014–2020), di mana beliau berperan besar dalam transformasi status institut menjadi universitas.

Puncak amanah beliau emban sejak tahun 2020 hingga wafatnya di tahun 2026, yakni sebagai salah satu dari tiga Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, menggantikan pendahulunya untuk menakhodai bahtera pesantren terbesar di Indonesia ini.

Di sela-sela kesibukan manajerial, Prof. Amal tetap produktif menulis. Karya-karyanya menjadi rujukan penting dalam studi Islam, di antaranya buku Theology Hindu Dharma dan Islam (1996), Ilmu Kalam (1998), hingga disertasi tentang Salaf dan Salafiyah (2002).

Tulisan-tulisan ini menunjukkan kedalaman pemahamannya terhadap aqidah dan tantangan pemikiran Islam kontemporer.

Mengenai penyebab spesifik wafatnya, hingga artikel ini diturunkan, pihak keluarga besar Gontor maupun rumah sakit belum merilis diagnosis medis secara rinci kepada publik. Informasi yang valid hanya menyebutkan bahwa beliau wafat saat sedang menjalani perawatan medis di rumah sakit tersebut.***

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan