Kiai NU Jawa Desak Miftachul, Yahya, dan Gus Ipul Mundur

Kiai NU Jawa Desak Miftachul, Yahya, dan Gus Ipul Mundur

Konflik di PBNU Memicu Kekhawatiran dari Para Kiai NU Jawa

Pertemuan para kiai NU di Pulau Jawa telah menghasilkan pernyataan sikap yang tegas terkait konflik berkepanjangan di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pertemuan ini digelar di Hotel Preanger, Kota Bandung, pada Jumat 12 Desember 2025. Forum Kiai NU Jawa menyampaikan pandangan mereka tentang situasi yang sedang terjadi.

Mereka menilai bahwa perseteruan antara kubu KH Miftakhul Akhyar (Rais Aam) dan KH Yahya Cholil Staquf (Ketua Tanfidziyah) telah meluas hingga ke tingkat wilayah, cabang, bahkan ranting NU. Hal ini menimbulkan kegelisahan di kalangan Nahdliyin. Seruan islah dari para kiai sepuh pun tidak kunjung ditindaklanjuti.

KH Muhammad Faris, Ketua Forum Kiai NU Jawa, menyampaikan bahwa situasi ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus. NU harus kembali menjadi organisasi yang menenteramkan umat, bukan justru menimbulkan kebingungan, ujarnya.

Dalam pernyataan sikapnya, Forum Kiai NU Jawa meminta tiga tokoh pengurus PBNU hasil Muktamar Lampung, yaitu KH Miftakhul Akhyar, KH Yahya C. Staquf, dan Saifullah Yusuf (sekjen) untuk mengundurkan diri sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kisruh yang berlangsung selama lima tahun terakhir.

Menurut KH Faris, permintaan tersebut bukan didasari sentimen personal, tetapi demi menjaga muruah jamiyyah. Ketiga tokoh ini adalah panutan. Namun dalam kondisi seperti ini, langkah paling bijak adalah memberikan ruang bagi penyegaran kepemimpinan, katanya.

Forum juga meminta dibentuknya panitia Muktamar Luar Biasa (MLB) untuk menghasilkan kepengurusan baru. MLB dinilai sebagai jalan paling adil dan konstitusional untuk mengklarifikasi dan mengevaluasi berbagai persoalan selama masa kepengurusan berjalan.

MLB adalah cara bermartabat untuk memulihkan stabilitas organisasi, ujar KH Faris.

Selain itu, Forum Kiai NU Jawa menegaskan bahwa ketiga tokoh PBNU saat ini, yaitu Miftakhul Akhyar, Yahya Staquf, dan Saifullah Yusuf tidak seharusnya kembali tampil dalam kepengurusan hasil MLB demi menghindari konflik kepentingan.

Sikap paling tegas disampaikan pada butir keempat. Forum Kiai NU Jawa menyatakan siap membentuk PBNU tandingan apabila MLB tidak kunjung digelar dalam waktu tiga bulan ke depan.

Menurut KH Faris, langkah ini merupakan opsi terakhir untuk menyelamatkan NU dari stagnasi dan konflik yang mengakar. Ini bukan ancaman, tetapi ikhtiar darurat agar NU tidak kehilangan arah perjuangan, ujarnya.

Forum juga berencana menggandeng tokoh-tokoh NU kultural, termasuk budayawan dan ulama karismatik seperti Rhoma Irama, untuk memperkuat gerakan rekonsiliasi dari akar rumput. Kami ingin NU kembali pada kekuatannya sebagai organisasi moral yang mengayomi umat, tutur KH Faris.

Di akhir pernyataan, Forum Kiai NU Jawa menyampaikan pesan kepada warga NU agar tetap tenang dan mengedepankan akhlakul karimah dalam menyikapi dinamika internal ini. Tujuan kami bukan memecah belah, melainkan menyelamatkan NU agar tetap menjadi organisasi besar yang fokus pada pendidikan, pengabdian sosial, dan peran kebangsaan, kata KH Faris.

Perkembangan Terbaru Mengenai Persoalan Internal PBNU

Konflik antara kubu Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf dengan jajaran Syuriyah PBNU masih belum mengendur. Meski jajaran Syuriah telah menetapkan Wakil Ketua Umum Zulfa Mustofa sebagai Penjabat Ketua Umum PBNU, Yahya telah berkirim surat kepada Kementerian Hukum supaya tidak mengesahkan perubahan apa pun dalam struktur kepengurusan.

Yahya Cholil Staquf secara resmi telah meminta Kementerian Hukum RI untuk tidak mengesahkan perubahan apa pun terhadap susunan kepengurusan PBNU di tengah memanasnya dinamika internal organisasi. Permintaan itu tercantum dalam surat bernomor 4802/PB.03/B.I.01.61/99/12/2025 yang dikirimkan kepada Menteri Hukum RI Supratman Andi Agtas pada 5 Desember 2025.

Dalam surat tersebut, Yahya menyatakan bahwa kondisi PBNU saat ini tengah mengalami perselisihan yang harus diselesaikan melalui mekanisme organisasi yang sah. Yahya meminta pemerintah agar tidak mengambil langkah administratif apa pun yang mengubah komposisi kepengurusan PBNU sampai proses internal selesai.

Sebaliknya, Yahya Cholil Staquf mengagendakan rapat pleno di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, pada Kamis 11 Desember 2025. Namun, rapat pleno tersebut urung digelar karena Rais Aam PBNU, Miftachul Akhyar, tidak hadir.

Menurut Yahya, pleno hanya dapat digelar bila Rais Aam dan Ketua Umum memimpin bersama, sesuai ketentuan organisasi. Ada 78 anggota memenuhi syarat kehadiran. Namun, absennya Rais Aam membuat forum tidak dapat dilanjutkan sebagai rapat pleno.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan