Kiat Anti-Sombong: Menolak Kebenaran dan Merendahkan Manusia adalah Dosa Terbesar yang Menandingi Al

Kiat Anti-Sombong: Menolak Kebenaran dan Merendahkan Manusia adalah Dosa Terbesar yang Menandingi Allah

Kiat Agar Terhindar dari Sifat Sombong

Guru Besar dan Khatib Jumat, Prof. Sholihan, dalam khutbahnya yang bertajuk "KIAT AGAR TERHINDAR DARI SIFAT SOMBONG," menegaskan bahwa kesombongan (al-kibr) merupakan salah satu akhlak terburuk (akhlak al-mazmumah) yang dosanya sangat besar karena berupaya menandingi keagungan Allah SWT. Khutbah ini memberikan wawasan mendalam tentang bahaya kesombongan serta cara menghindarinya.

Misi Nabi Muhammad SAW

Prof. Sholihan mengingatkan jemaah bahwa misi utama Nabi Muhammad SAW diutus ke muka bumi tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak mulia. Di tengah akhlak mulia seperti syukur, sabar, dan tawakal, sifat sombong adalah yang paling harus dihindari. Dengan memahami pentingnya akhlak, kita dapat menjaga diri dari perbuatan yang merusak hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia.

Definisi dan Prototipe Kesombongan

Prof. Sholihan mengutip definisi al-kibr dari Asy-Syeikh Hafiz Hasan Al-Mas'udi: "Ist+'mun-nafs+ wa rukyatu qadrih+ a'l aw fauqa qadri ghairih." (Mengagungkan diri sendiri, membesarkan diri sendiri, dan memandang diri itu lebih baik dibandingkan dengan orang lain.)

Sifat sombong ini dapat muncul dalam berbagai aspek kehidupan:

  • Fisik: Merasa lebih tampan atau cantik.
  • Harta: Merasa lebih kaya.
  • Ilmu: Merasa lebih pintar.
  • Ibadah: Merasa lebih saleh dari orang lain.

Prototipe dari kesombongan abadi adalah Iblis. Iblis menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam karena merasa lebih hebat, dengan alasan: "Khalaqtan+ min nrin wa khalaqtahk min m+n" (Engkau menjadikan aku dari api, sementara Engkau menjadikan Adam dari tanah).

Bahaya Dosa Besar

Al-Kibr Kesombongan membawa konsekuensi dosa yang sangat besar karena melanggar hak mutlak keagungan Allah. Prof. Sholihan mengutip Hadis Qudsi: "Al-Kibriy'u rid'+ wal-'aamatu izr+." (Kesombongan adalah selendang-Ku, dan keagungan adalah pakaian-Ku.)

Dengan demikian, siapa pun yang mencoba sombong, ia seakan mencoba menandingi Allah, dan diancam dengan azab. Nabi SAW bahkan memperingatkan bahwa orang sombong tidak akan bisa masuk surga meskipun kesombongan itu hanya seberat biji sawi di dalam hatinya.

Saat para sahabat bertanya apakah pakaian atau sepatu yang bagus termasuk sombong, Rasulullah SAW menjawab: "Innallha jam+lun yu%ibbul-jaml" (Allah itu Maha Indah, Allah itu cinta dengan keindahan).

Nabi kemudian memberikan batasan definitif tentang apa itu al-kibr sejati: "Bamrul-%aqqi wa ghammun-ns." (Menolak kebenaran dan menghinakan manusia/merendahkan manusia.)

Tiga Kiat Utama Menghindari Kesombongan

Untuk menghindarkan diri dari sifat kibr, Prof. Sholihan merangkum kiat-kiat dari para ulama terkemuka:

  1. Kesadaran Diri (Syeikh Hafiz Hasan Al-Mas'udi)
    Manusia harus menyadari hakikat dirinya:
  2. Awal Penciptaan: Berasal dari air mani yang tidak berharga.
  3. Akhir Kehidupan: Akan menjadi tanah dan dimakan ulat.
    Kesadaran ini akan membuat manusia tidak mungkin menjadi sombong.

  4. Menilai Diri sebagai yang Terburuk (Imam Ali bin Abi Talib)
    Sayyidina Ali RA memberikan kiat untuk menempatkan diri pada tiga posisi yang berbeda:
    "Kun lillhi khaira an-ns, wa li an-nsi rajulun min an-ns, wa li nafsika syarrun min an-ns."
    (Jadilah kamu di hadapan Tuhanmu sebagai orang yang terbaik, di hadapan manusia sebagai orang biasa-biasa saja, tetapi dalam pandanganmu sendiri jadilah kamu sebagai orang yang terburuk.)

  5. Selalu Merasa Lebih Rendah (Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani)
    Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani mengajarkan kiat untuk selalu melihat orang lain lebih tinggi derajatnya di hadapan Allah. Beliau merincinya berdasarkan siapa yang ditemui:

  6. Saat Bertemu Orang yang Lebih Muda: Mereka dosanya masih sedikit karena masih muda, sementara dosaku (yang sudah tua) sangat mungkin lebih banyak.

  7. Saat Bertemu Orang yang Lebih Tua: Mereka lebih dulu beribadah dan lebih banyak beribadah dibandingkan diriku.
  8. Saat Bertemu Orang yang Berilmu (Alim): Mereka memiliki banyak ilmu dan telah mengamalkannya, sementara ilmuku sedikit dan belum banyak yang diamalkan.
  9. Saat Bertemu Orang yang Bodoh: Jika mereka bermaksiat, itu karena kebodohan. Jika aku bermaksiat, dosanya lebih besar karena aku melakukannya sambil berilmu.
  10. Saat Bertemu Orang Kafir Sekalipun: Siapa tahu orang ini pada akhir hidupnya mendapat hidayah, masuk Islam, dan menjadi orang baik, sementara aku tidak ada jaminan untuk tetap beriman dan berakhlak baik.

Doa Kunci Anti-Sombong

Prof Sholihan menutup khutbahnya dengan mengajarkan doa dari Nabi SAW sebagai pelengkap ikhtiar: "Allhumma j'aln+ syakkran waj'aln+ cabkran waj'aln+ f+ 'ain+ cagh+ran wa f+ a'yunin-nsi kab+r." (Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersyukur, jadikan pula aku termasuk orang-orang yang sabar, dan jadikan aku ini dalam pandanganku sendiri aku ini kecil, tetapi jadikan aku ini di dalam pandangan orang lain besar.)

Inti dari kiat ini adalah memandang diri sendiri sebagai kecil (cagh+ran) agar terhindar dari sifat kibir dan siksa neraka yang diancamkan bagi orang sombong.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan