Kisah HM Band, 20 Tahun Menemani Ibadah di Gereja Malang Selatan

Perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 di Gereja-gereja Malang Selatan

Di tengah suasana perayaan Natal 2025 dan menyambut Tahun Baru 2026, gereja-gereja di Malang Selatan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, terasa penuh dengan kehangatan dan semangat. Di balik ibadah yang berlangsung khidmat, HM (His Miracles) Band tetap setia melangkah dari satu gereja ke gereja lain, membawakan musik rohani sebagai bentuk pelayanan.

HM Band yang berasal dari Dampit ini telah berdiri sejak tahun 2005. Mereka konsisten menjaga komitmen di jalur pelayanan musik gereja. Bagi mereka, musik bukan hanya sekadar penampilan, melainkan sarana untuk memuliakan Tuhan.

Awal Kehadiran HM Band

Vokalis HM Band, Stenly Rehardson, menceritakan bahwa band ini lahir dari pertemanan sederhana di desa. Bersama RMDG “Hendik” (keyboard), Hanes Tri Wicaksono (drum), Roni Eko Saputra (bass), Yoga Adi Sampurna (gitar), serta Eunike Eliyas (vokal), mereka mulai melayani dari lingkungan gereja mereka sendiri. Untuk kebutuhan tertentu, mereka juga menyiapkan additional player seperti melodi gitar dan saksofon sesuai permintaan.

Seiring waktu, keterlibatan HM Band dalam kegiatan gereja pun berkembang. Mereka mulai menginisiasi ibadah anak muda di Dampit dengan melibatkan pelajar SMP dan SMA. Beberapa dari mereka aktif di perkumpulan atau organisasi kristen, sehingga memiliki banyak kenalan. Oleh karena itu, mereka sering diminta untuk tampil, terutama di gereja-gereja di desa-desa.

Konsep Ibadah Full Band

Konsep ibadah full band kerap dihadirkan dalam agenda besar seperti Paskah, Natal, dan Tahun Baru. Dari situ, undangan pelayanan mulai berdatangan dari berbagai gereja di wilayah Malang Selatan hingga Kota Malang.

Perjalanan HM Band tidak selalu mulus. Kesibukan kuliah dan pekerjaan membuat mereka sempat vakum, terutama ketika pemain keyboard harus bekerja ke luar pulau. “Sempat off karena kesibukan masing-masing seperti kuliah dan kerja ke luar pulau, terutama yang keyboard sebagai salah satu nyawa dan senior dalam musik band ini,” imbuhnya.

Musik sebagai Ungkapan Syukur

Meskipun begitu, HM Band tetap berkumpul pada momen-momen tertentu seperti Natal. Sehingga rasa dan keterampilan mereka tetap terjaga. Sekitar 2016–2017, mereka kembali berkumpul dengan personel lengkap dan mulai rutin melayani ibadah, terutama setiap hari Minggu.

“Pelayanan sebagai ucapan syukur dan bentuk rasa terima kasih kepada Tuhan melalui talenta atau karunia yang Tuhan beri selama ini, baik itu main musik atau bernyanyi,” ujar Eunike Eliyas.

“Kami bukan siapa-siapa dalam pelayanan, tidak ada yang lebih pintar atau lebih jago. Semua saling mengingatkan untuk menomorsatukan Tuhan,” sambungnya. Termasuk dalam setiap pelayanan, band selalu menyesuaikan aransemen musik dengan kondisi jemaat agar pujian dapat mengalir.

“Kalau pelayanan di acara pemuda, musik aransemennya harus disesuaikan dengan anak muda, juga sebaliknya,” kata Eunike Eliyas lagi.

Natal 2025 yang Lebih Terasa

Natal 2025 menjadi momen tersibuk bagi HM Band dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Mereka memulai pelayanan sejak Senin (22/12/2025) dan menutup tahun dengan ibadah malam pergantian tahun pada Rabu (31/12/2025) sore.

“Lebih seru sih rasanya, vibes Natalnya kerasa. Sebenarnya ada permintaan lagi, tapi tidak diterima karena satu jadwal bareng (tanggal sama) dan pas personel tidak lengkap,” kata Stenly Rehardson. Sebab bagi HM Band, pelayanan tidak bisa dipaksakan. Kesiapan personel dan kekhusyukan ibadah menjadi prioritas utama.

Dari gereja-gereja desa itulah mereka terus merawat konsistensi, kebersamaan, dan panggilan untuk melayani melalui musik rohani. “Salah satunya pas Natal di GKJW Purwosari Srimulyo, ibadahnya sampai hampir empat jam. Bahkan ada yang request lagu dadakan, terus acara selesai tapi masih tidak mau bubar,” pungkasnya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan