Kisah Penangkapan Buronan Narkoba Internasional Dewi Astutik di Kamboja

Kisah Penangkapan Buronan Narkoba Internasional Dewi Astutik di Kamboja

Penangkapan Gembong Narkoba Internasional di Kamboja

Jejak pelarian PA alias Dewi Astutik, gembong narkoba internasional asal Indonesia, akhirnya berakhir di Kamboja. Setelah satu tahun masuk daftar buronan, ia ditangkap pada Senin (1/12/2025) dalam sebuah operasi lintas negara yang terkoordinasi rapi. Penangkapan ini berawal dari informasi intelijen yang diterima BNN pada 17 November 2025. Informasi itu langsung direspons cepat oleh Kedeputian Berantas bersama Kedeputian Hukum dan Kerja Sama.

"Begitu informasi intelijen masuk, kami langsung bergerak karena setiap jam menentukan posisi target," ujar Kepala BNN RI Komjen Pol Suyudi Ario Seto. Dari temuan awal tersebut, BNN menerbitkan surat perintah pemberangkatan tim ke Kamboja pada 25 November 2025. Tim tiba di Phnom Penh pada 30 November 2025 dan melakukan koordinasi intensif dengan Kepolisian Kamboja, BAIS perwakilan Kamboja, Interpol Polri, KBRI Phnom Penh, serta Bea Cukai.

Suyudi menegaskan bahwa dukungan penuh otoritas Kamboja menjadi faktor penting dalam proses penindakan. "Ini bukan operasi satu lembaga. Semua instansi, baik Indonesia maupun Kamboja, terlibat sejak awal sampai proses eksekusi," tambahnya.

Operasi ini merujuk pada Red Notice Interpol nomor A-3536/3-2025 serta surat DPO BNN RI Nomor 31/INTER/D/X/2024, yang berkaitan dengan kasus penyelundupan 2 ton sabu yang berhasil diungkap pada Mei 2025. Puncak operasi terjadi pada Senin, 1 Desember 2025, sekitar pukul 13.39 waktu setempat. Tim gabungan mendeteksi keberadaan target di lobi sebuah hotel di Sihanoukville. Dewi terlihat menaiki mobil Toyota Prius putih bersama seorang laki-laki.

Tim langsung bergerak cepat. Kendaraan tersebut dicegat, dan petugas melakukan verifikasi identitas untuk memastikan kecocokan dengan DPO internasional. "Begitu visual identitas cocok, tim langsung mengamankan target tanpa memberi ruang untuk melarikan diri," kata Suyudi.

Dewi Astutik sudah lama menjadi buronan terkait jaringan penyelundupan narkotika internasional. Ia merupakan pengendali utama jaringan Golden Triangle yang coba memasukkan 2 ton sabu ke Indonesia pada Mei 2025, serta terkait beberapa kasus besar pada 2024 yang bersinggungan dengan jaringan Golden Crescent. Dengan penangkapannya, BNN menegaskan kembali komitmen Indonesia dalam memberantas kejahatan narkotika lintas negara.

Operasi ini disebut sebagai salah satu kolaborasi intelijen dan penegakan hukum internasional paling solid pada 2025.

Peran Sentral dalam Jaringan Golden Triangle

Dalam penyelidikan BNN, terungkap bahwa Dewi Astutik memiliki peranan penting jaringan Golden Triangle. Ia diduga menjadi pemimpin lapangan sekaligus perekrut kurir, dengan sebagian besar kurir berasal dari Indonesia. Peran Dewi Astutik tersebut terkuak setelah aparat mengamankan dua ton sabu dari kapal MT Sea Dragon Tarawa di perairan Kepulauan Riau pada 22 Mei 2025.

Empat awak kapal berstatus WNI diketahui memiliki keterkaitan langsung dengannya. Berdasarkan temuan BNN, tiket perjalanan para kurir dipesan oleh pihak yang berhubungan dengan Dewi Astutik. Fakta itu menguatkan posisinya sebagai pengendali jaringan.

Diduga Kendalikan Ratusan Kurir WNI

BNN mengungkapkan, Dewi Astutik diduga telah mengendalikan ratusan kurir narkoba, mayoritas warga negara Indonesia. Sudah lebih dari 110 WNI yang ditangkap di berbagai negara mengaku berada dalam jaringan yang dikendalikan Dewi Astutik. Penangkapan para kurir tersebut terjadi di berbagai wilayah, mulai dari Asia hingga Amerika Latin dan Afrika, mengindikasikan luasnya jangkauan operasi jaringan yang dipimpinnya.

Terhubung dengan Sindikat Afrika

Selain berperan di Golden Triangle, Dewi Astutik juga disebut terhubung dengan sindikat narkoba Afrika yang beroperasi di Thailand dan kawasan Semenanjung Malaya. Meski diyakini BNN bukan sebagai pimpinan tertinggi, Dewi Astutik dinilai memiliki posisi strategis dalam struktur organisasi jaringan tersebut. Koneksi lintas benua itu membuat Dewi Astutik masuk radar otoritas internasional, termasuk sempat menjadi buronan Korea Selatan.

Sosok Sebenarnya Dewi Astutik

Nama Dewi Astutik menjadi sorotan setelah Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Marthinus Hukom saat mengungkap penyelundupan 2 ton sabu senilai Rp 5 triliun dari KM Sea Dragon Tarawa di perairan Karimun, Kepulauan Riau, pada 20 Mei 2025. Nama Dewi Astutik itu ternyata nama samaran. Nama sebenarnya adalah PA (inisial) asal Dukuh Sumber Agung, Desa/Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo, Jatim.

Hal ini diungkapkan Kepala Dusun Sumber Agung, Gunawan, Selasa (27/5/2025). “Nama Dewi Astutik tidak ada. Tetapi alamat itu memang warga sini. Fotonya juga kenal,” katanya. Menurutnya, jika sesuai KTP maupun paspor warga mengenal namanya berinisial PA. Diakui Gunawan, PA memang bekerja di luar negeri. “Memang kerja di luar negeri dan sudah lama berangkatnya. Pernah bekerja di Hongkong dan Taiwan, dan terakhir ini katanya bekerja di Kamboja,” urainya.

Salah satu warga, Sri Wahyuni mengatakan hal yang sama. Kata dia tidak ada nama Dewi Astutik di lingkungannya. “Lihat di media sosial memang seperti warga sini. Tetapi namanya bukan Dewi Astutik melainkan PA,” pungkasnya.

Sejak lama, Dewi Astutik diketahui bekerja sebagai pekerja migran Indonesia (PMI). Ia pernah bekerja di Hongkong, Taiwan, dan terakhir kali Kamboja. Dewi Astutik diduga menggunakan identitas palsu milik anggota keluarganya. Warga sekitar mengenalnya dengan nama asli PA, bukan Dewi Astutik.



Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan