
Pengalaman Unik Aiptu Pudiyanto dalam Menyelamatkan Korban Gigitan Ular
Pada suatu hari pada tahun 1996, kejadian yang tidak terduga terjadi di Markas Kepolisian Sektor (Polsek) Jakenan, Pati, Jawa Tengah. Ratusan warga tiba-tiba datang menggeruduk kantor polisi. Pemicunya adalah sebuah kabar simpang siur: seorang warga Desa Mantingan Tengah dibawa ke Polsek.
Saat itu, Polri masih menjadi bagian dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Kondisi sosial-politik pada masa itu membuat masyarakat bereaksi keras ketika mendengar ada warga yang dibawa ke kantor polisi. Dalam wawancara dengan TribunJateng.com, Aiptu Pudiyanto (54), anggota Polsek Jakenan, mengungkapkan bahwa saat itu ada ratusan orang datang ke Polsek. Mereka seperti orang mau demo.
Pada waktu itu, memang ada seorang pria berusia 30-an yang dibawa ke Polsek Jakenan. Namun, bukan karena pria itu terjerat kasus kriminal atau menjadi korban represi. Melainkan karena dia baru saja menjadi korban gigitan ular berbisa. Cipud, yang sudah hampir 30 tahun berdinas di Polsek Jakenan, memiliki keterampilan pengobatan tradisional untuk menyembuhkan korban gigitan/sengatan berbagai hewan berbisa, khususnya ular.
Keahlian ini diwarisinya dari mendiang sang ayah, Sukarno, sejak dirinya masih remaja. Tahun 1996 adalah tahun pertamanya bertugas di Polsek Jakenan. Warga Desa Mantingan Tengah merupakan pasien pertamanya setelah menjadi polisi. Istri dari korban itu mendengar bahwa suaminya digigit ular lalu dibawa ke Polsek. Dia bingung, lalu laporan ke kepala desa. Kepala desanya juga bingung. Digigit ular, kok, dibawa ke kantor polisi. Karena itulah lalu warga desa ramai-ramai ke sini.
Ketegangan pun lenyap seketika begitu warga tahu bahwa ternyata di Polsek Jakenan ada dukun ular, begitu kemudian Cipud dikenal. Begitu saya jelaskan, mereka langsung bilang, Oh, jebule ono dukun ulo (Oh, ternyata ada dukun ular), ucap dia diiringi tawa kecil dan senyum semringah.
Sejak peristiwa itu, Aiptu Pudiyanto makin lama kian tersohor sebagai ahli pengobatan tradisional untuk korban gigitan ular. Warga Pati, terutama di wilayah Kecamatan Jakenan dan Juwana, mengenalnya sebagai tabib spesialis bisa ular yang ampuh.
Metode Pengobatan Tradisional yang Sederhana
Aiptu Pudiyanto menjelaskan, untuk mengobati korban gigitan ular, alat kelengkapannya cukup sederhana. Dia hanya membutuhkan air hangat, sebilah silet kecil, dan kembang telon (bunga kenanga, gading, dan melati) sebagai syarat wewangian. Pertama-tama, Cipud akan membersihkan bekas gigitan ular dengan air hangat. Kemudian, tak ubahnya ahli bedah jalanan, ia akan menyayat kecil bekas gigitan ular pada tubuh korban.
Selanjutnya, tanpa ragu, dengan mulutnya dia menyedot keluar racun mematikan dari aliran darah korban, lalu membuangnya. Tak jarang, darah yang dia isap bercampur nanah. Kalau orang lihat mungkin jijik. Namun niat saya tulus, ikhlas menolong sesama. Kebetulan profesi saya juga polisi. Bersentuhan dengan masyarakat, melayani masyarakat, tutur dia.
Selanjutnya, bunga tiga rupa atau kembang telon akan dia rendam dengan air bersih, dia rapalkan doa, dan dia minta pasien untuk meminumnya. Aiptu Pudiyanto bersyukur, selama ini atas karunia Tuhan Yang Mahaesa semua pasiennya bisa sembuh. In syaa Allah semua sembuh. Termasuk yang agak parah, digigit kobra. Namun khusus untuk korban gigitan ular kobra, biasanya tetap saya sarankan ke rumah sakit.
Keistimewaan dan Kepedulian
Cipud bersyukur, keahliannya ini bisa menjadi perantara kesembuhan bagi banyak orang. Tak hanya dari Pati, melainkan juga dari luar daerah, bahkan luar negeri. Pernah ada TKI ke sini, majikannya di luar negeri digigit ular. Waktu itu saya coba bantu pengobatannya pakai media video call. Mungkin karena niat saya tulus menolong, karunia Allah, bisa sembuh juga.
Tanpa pamrih, Aiptu Pudiyanto menjelaskan, saat mewarisi ilmu pengobatan tradisional ini dari orang tuanya, dia mendapat pesan khusus: jangan memasang tarif. Niatnya harus tulus dan ikhlas. Tidak boleh menarif. Kadang kalau yang datang berobat orang kurang mampu, malah saya kasih ongkos ngojek.
Banyak Pasien yang Terbantu
Kebanyakan pasien Aiptu Pudiyanto berasal dari kalangan petani. Mayoritas mereka dipatuk ular saat tengah bekerja di sawah. Barangkali tidak banyak yang mengetahui, bagi kalangan petani, gigitan ular adalah risiko yang selalu ada. Terutama saat musim penghujan.
Cipud menyebut, Awal Desember ini saja, sudah ada enam orang yang datang berobat. Kalau sepanjang tahun bisa sampai 50-60 orang. Jadi sebetulnya saya ini mendukung program pemerintah terkait ketahanan pangan. Karena saya membantu para petani, ucap dia berkelakar.
Warisan Ilmu yang Berkelanjutan
Aiptu Pudiyanto mengisahkan, dirinya mewarisi ilmu penyembuhan ini dari sang ayah saat menginjak usia 17 tahun. Sebab, secara tradisi sejak generasi-generasi sebelumnya, syarat untuk mengestafetkan keahlian ini adalah sang pewaris harus sudah berusia 17 tahun.
Demi menjaga kelanggengan manfaat bagi sesama, dirinya juga telah mewariskan ilmunya kepada putranya. Sudah saya turunkan ilmunya ke anak saya yang ketiga. Belum lama ini, karena baru tahun ini anak saya masuk usia 17. Saya juga sampaikan amanah keluarga: tidak boleh pamrih, harus tulus ikhlas. Masalah rezeki, Allah yang ngasih, tegas dia.
Meski sudah memastikan regenerasi, Cipud berkomitmen, selagi masih ada umur dan kesempatan, dirinya akan terus berupaya membantu orang-orang yang membutuhkan bantuannya. Kalau ada yang mau berobat, saya selalu siap. Kalau pas saya dinas, ya, di Polsek. Kalau tidak, ya, di rumah saya, ungkap dia.
Ditanya apa yang menjadi motivasinya, Cipud terdiam sesaat. Setelah menghela napas cukup dalam, dia berkata, yang dicarinya adalah pahala sebanyak-banyaknya. Mudah-mudahan bisa menebus dosa-dosa saya. Selain itu juga membawa kebaikan untuk saya, keluarga saya, dan institusi Polri, tandas dia.
Apresiasi dari Kepolisian
Kapolsek Jakenan, AKP Agus Arifin, menyebut kemampuan Cipud sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat yang unik namun nyata. Saya sangat mengapresiasi anggota saya, Pak Pudiyanto, yang sebagai anggota Polri telah memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan keterampilan khususnya, kata dia.
Menurut Agus, 29 tahun lebih masa pengabdian di Polsek Jakenan membuat Cipud sangat dekat dan dicintai masyarakat. Beliau ini sangat humanis. Masyarakat sangat mengenal dan menyukai beliau. Kalau saya ke desa-desa, warga selalu menanyakan Pak Cipud, ucap dia.
Kapolresta Pati, Kombes Pol Jaka Wahyudi, juga menyampaikan penghargaan atas kontribusi Cipud dalam memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Kami sangat mengapresiasi dedikasi Aiptu Pudiyanto yang telah berkontribusi nyata di luar tugas pokoknya sebagai anggota Polri. Keahlian yang beliau miliki menjadi bentuk nyata dari semangat pengabdian Polri yang hadir dan bermanfaat di tengah masyarakat, tandas dia.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar