Kisah Zulfikar Aman Windi: Kegemparan Bur Reduk Lungun dalam Seni Antara

Kisah Zulfikar Aman Windi: Kegemparan Bur Reduk Lungun dalam Seni Antara

Sejarah dan Perubahan Kemp Setelah Bencana

Kemp, sebuah dusun di Desa Seni Antara, Kecamatan Permata, Bener Meriah, sejak dulu dikenal sebagai jalur lintasan utama yang menghubungkan Bener Meriah dengan Aceh Utara. Wilayah ini memiliki peran penting dalam transportasi dan perdagangan antar daerah. Namun, setelah bencana besar melanda, kondisi wilayah ini berubah secara signifikan.

Saat ini, Kemp menjadi pusat perdagangan beras dan minyak karena akses jalan perlahan dapat dilalui kendaraan. Meski demikian, perjalanan dari Seni Antara menuju Lhokseumawe tetap penuh risiko. Jalan darurat itu licin, berlubang, dan di beberapa titik diapit jurang yang menganga, seakan mengingatkan warga bahwa bencana belum benar-benar pergi.

Di balik krisis pangan, kebun-kebun kopi yang amblas, dan rumah-rumah yang hancur, ada kisah kemanusiaan yang menggugah dari seorang lelaki bernama Zulfikar Aman Windi.

Malam Ketika Segalanya Berubah

Zulfikar Aman Windi, seorang imam masjid yang disegani di Kemp, kini dijuluki warga sebagai sang penantang maut. Julukan itu bukan tanpa sebab. Pada malam ketika banjir bandang datang, 26 November 2025, ia berada di rumahnya, rumah yang berdiri tepat di sisi kebun yang selama ini menjadi sumber nafkah keluarganya.

Biasanya, air bah hanya naik setinggi mata kaki. Itulah yang selama belasan tahun diyakininya. Tetapi malam itu berbeda. Dari arah Bur Reduk Lungun, suara gemuruh terdengar seperti ribuan batu berguling dari puncak gunung. Warga yang mendengarnya spontan berhamburan keluar rumah, termasuk Pak Senang, kepala sekolah SD Seni Antara, yang kemudian kehilangan seluruh dokumen pentingnya.

Zulfikar berdiri terpaku di halaman rumah. Gemuruh itu semakin dekat, semakin keras. Ia hanya mampu mengucap, La ilaha illallah& sambil berserah penuh pada takdir. Dalam hitungan detik, dinding air setinggi pohon kelapa menghantam pemukiman Kemp. Batu-batu besar, kayu gelondongan, dan lumpur pekat menyeret apa saja yang dilewatinya.

Rumah-rumah tak lagi tampak sebagai tempat tinggal melainkan jalur air yang menebas semuanya hingga rata. Di tengah kekacauan itu, sesuatu yang tak dapat dijelaskan terjadi. Arus besar yang menerjang Desa Seni Antara tiba-tiba membelah tepat di hadapan Zulfikar. Air terbagi dua, mengalir ke kanan dan ke kiri seperti digerakkan oleh tangan tak terlihat, menyisakan celah kecil tempat ia berdiri.

Kebun di belakang rumahnya hilang ditelan longsor. Tetapi Zulfikar selamat. Tubuhnya tetap tegak, hanya berbalut pakaian yang melekat di badan. Warga lain sempat yakin ia telah hilang dihantam banjir. Namun ketika mereka melihatnya berjalan gontai, penuh lumpur, banyak yang tak mampu menahan air mata. Zulfikar selamat bukan hanya dari banjir, tetapi dari maut yang begitu dekat.

Mengungsi dengan Sisa Kehidupan

Kini, Zulfikar hidup di pos pengungsian bersama ratusan warga lainnya. Semua harta telah hilang, termasuk kitab-kitab keagamaannya. Ia, imam yang selama ini mengayomi masyarakat, kini duduk di antara penyintas lain, menunggu bantuan datang, menahan lapar, menguatkan mereka yang lebih rapuh darinya.

Kebutuhan pangan semakin genting. Harga beras melonjak karena harus dibawa dari Lhokseumawe, melalui jalan yang hampir setiap meternya mengancam keselamatan. Warga dari Pondok Baru, Pante Raya, Jagong, hingga Takengon berjalan kaki ke utara hanya untuk mendapatkan beras dan minyak.

Sementara itu, kopi denyut ekonomi masyarakat Seni Antar atak lagi bisa dijual. Ratusan hektare kebun amblas, berubah menjadi jurang dan tumpukan tanah merah. Harapan warga ikut runtuh bersama tanah itu. Di tenda pengungsian, Zulfikar sering terlihat menenangkan warga yang masih syok. Allah masih memberi kita hidup, katanya suatu sore. Suaranya pelan, namun cukup untuk menguatkan hati yang rapuh.

Simbol Keteguhan dan Harapan

Kisah Zulfikar Aman Windi bukan sekadar cerita tentang selamat dari bencana. Ia adalah simbol keteguhan, pasrah yang penuh keyakinan, dan harapan yang tetap menyala meski rumah berubah menjadi puing dan kebun menjadi jurang. Ia adalah wajah kemanusiaan dari Seni Antara, desa yang kini berjuang bangkit dari yang tersisa, dipimpin oleh orang-orang sederhana yang hatinya jauh lebih besar dari bencana yang menimpa mereka.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan